
Beberapa baju sudah Regina masukkan ke koper untuk liburannya bersama Gian. Dia agak sedikit sebal karena Gian memberitahukannya mendadak. Padahal jika memberitahunya jauh-jauh hari, dia bisa membeli beberapa baju bagus dan tentunya gaun malam untuk dipakai saat honeymoon nanti. Memikirkan tentang honeymoon membuat perutnya tergelitik, rasanya gugup dan senang entah kenapa. Ini kan yang semua pasangan suami istri nantikan?
Regina melihat dirinya di cermin yang berasa di walk in closet-nya. Memutar-mutar tubuhnya dan melihatnya dari berbagai sisi. Regina merasa percaya diri. Semuanya perfect. Pahanya yang beberapa waktu terlihat kurang menarik menurut Regina, sekarang sudah tampak ideal baginya berkat meminum jus sayur dan buah serta sedikit stretching setiap pagi. Hanya jerawat besar di dagunya yang mengganggu penampilannya.
Ih sebel!!!
Segera dia mengambil acne patch dan menempelkannya pada jerawat mengganggu tersebut. Berharap besok jerawat tersebut sembuh. Setelah membereskan bajunya ke koper dan memasukkan semua hal penting yang harus dibawanya, Regina memilih bath bomb, sugar wax, masker, lotion, dan perawatan untuk rambut. Sekarang dia sibuk mengurus tubuhnya agar terlihat bagus dan wangi. Regina mengoleskan sugar wax ke beberapa tempat agar terlihat mulus tanpa bulu. Masker tea tree oil sudah ditempelkan ke wajahnya. Kemudian dia memasuki bathtub yang sudah terisi air dengan campuran bath bomb beraroma lavender yang menenangkan.
Regina harus mempersiapkan diri untuk malam spesialnya dengan Gian. Semua harus sempurna. Semua bagian darinya adalah milik Gian. Dia tidak boleh mengecewakannya. Laki-laki itu harus lebih jatuh cinta padanya. Hati Regina seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang terbang dan membuatnya geli sekaligus senang. Dia sudah membayangkan banyak hal tentang malam pertama mereka di Maldives besok. Suasana pantai yang indah, hanya ada dia dan Gian.
“Regina! Pikiran kamu kotor!!!” Teriaknya pada diri sendiri sambil tertawa geli, membuat riak air di bathtub-nya hingga berjatuhan.
...****************...
Saat sampai di Bandara, Regina cukup kaget karena mereka menggunakan private jet bukan penerbangan komersial biasa. Gulfstream G650 sudah siap mengantarkan perjalanan mereka menuju Maldives. Regina hanya berjalan kaku disamping Gian. Dia memperkenalkan Regina pada awak pesawat, pilot dan co-pilot termasuk dua pramugari cantik yang siap membantunya selama berada di pesawat. Cabin yang luas dan mewah membuatnya terhenyak. Dia benar-benar lupa bahwa suaminya adalah salah satu keluarga konglomerat. Hal seperti ini seharusnya wajar saja baginya.
Saat berada di perjalanan, Regina masih belum puas mengagumi interior private jet-nya. Mungkin ini terdengar norak, tapi ini adalah pertama kalinya Regina terbang dengan private jet apalagi semewah ini. Gian sedari tadi sibuk di depan laptop, mengurus beberapa hal yang katanya tak bisa ditinggalkan. Membunuh waktu selama hampir 7 jam perjalanan.
“Kamu kenapa diem terus dari tadi? Sakit?” Kata Gian menatap Regina setelah menutup laptopnya.
“Gi, kamu beneran anak orang kaya ya?”
Gian bingung kemudian tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa lepas hingga pramugari menengok penasaran kearahnya. Entah apa yang dipikirkan Regina tentangnya. Semua hal yang ada dipikiran Regina semacam boks misteri yang penuh dengan pertanyaan aneh.
“Emang aku kelihatan kaya gelandangan ya?” Tanya Gian yang masih tertawa.
__ADS_1
Regina menggeleng dengan cepat. Jelas bukan hal seperti itu yang Regina maksud. Gian selalu berpenampilan necis setiap saat, menggunakan luxury item, akses-akses prioritas, dan fasilitas exclusive. Semua hal pada diri Gian seakan berteriak ‘The Old Money’ dengan quite luxury. Bahkan dengan penampilan hanya berkemeja sekalipun, Regina bisa menaksir harga baju tersebut bisa mengalahkan pendapatannya sebulan di Edmode.
Tapi Gian sangat mandiri untuk beberapa hal. Sebelum menikah dia tinggal sendiri di apartemen tanpa ART dan tidak merekrut supir pribadi untuk dirinya sendiri. Padahal dia bisa tinggal di rumah besar milik kakeknya, diantar setiap hari oleh Pak Ayus, dan tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri. Hingga kebiasaan-kebiasaan itu masih dia pertahankan setelah menikah dan tinggal bersamanya. Hal yang selalu membuat Regina penasaran sekaligus takjub. Padahal jika dia bisa mempunyai pesawat jet sekelas ini, dia bisa punya banyak pelayan yang membungkuk dihadapannya setiap pulang. Meskipun dia menyukai rumahnya yang mereka tinggali berdua saja. Sangat private dan nyaman. Mereka juga mengurus tempat itu dengan baik.
“Kenapa kamu ga tinggal dirumah kakek kamu kaya Kak Arsila? Padahal kayaknya lebih gampang kalau kamu tinggal disana. Semua bisa dengan mudah tersedia.”
“Aku diusir kakekku. Makanya dulu aku tinggal di apartemen.”
“Kok bisa?”
“Kita berantem terus aku diusir dari rumah. Tapi beliau tetep pertahanin aku jadi CEO sementara di Gavels.”
“Masalah apa?”
Giliran Regina yang tertawa kencang. Dia tidak menduga Gian punya cerita seperti ini. Semakin mengenalnya, Regina semakin penasaran dengan kehidupan Gian. Sepupu-sepupunya tak pernah menceritakan bagian ini di setiap obrolan tentang Gian. Saat ini dia terlihat dengan enteng berbicara tentang pengusirannya dari rumah, tapi Regina yakin waktu itu Gian pasti sangat bingung dan marah dengan tindakan kakeknya.
“Setelah lulus kuliah dan kerja di Gavels, kakek selalu nyuruh aku buat cepet nikah. Arsila aja ga disuruh cepet-cepet nikah, padahal dia udah pacaran bertahun-tahun sama Darius. Sepupuku yang lain juga ga pernah ditanyain kapan nikah sama kakek. Terus aku dijodohin 2 kali, dan semuanya selalu aku tolak setelah pertemuan pertama. Kakek marah karena aku bikin malu keluarga, terus ngusir aku. Cut off semua fasilitas dan dana buatku. Akhirnya aku pindah dan beli apartemen dari uang tabunganku. Kakek juga ga mau ngomong sama aku berbulan-bulan.” Kenang Gian.
“Sampe akhirnya beliau sakit. Baru mau ngomong lagi sama aku. Beliau tetep selalu nanyain soal nikah setiap aku berkunjung. Tapi ga pernah aku gubris. Mungkin kakek udah kesel, sampe akhirnya bikin persyaratan di surat wasiatnya biar aku nikah buat jadi ahli waris.”
“Kalian sama-sama kepala batu dan ga mau ngalah.” Kata Regina tertawa mendengar cerita Gian.
“Yaa.. keturunan.” Balas Gian ikut tertawa “Kalau aja kita ketemu lebih cepet. Mungkin kakek bisa lihat aku nikah.” Lanjutnya sambil menatap Regina dan tersenyum.
“Emang kamu bakal langsung suka sama aku kalau kita ketemu lebih awal?” Tanya Regina penasaran “Pas pertama kita ketemu aja kamu jahat sama aku loh, Gi.” Regina mengingatkan Gian tentang saat pitching dan kata-kata Gian yang menyebalkan.
__ADS_1
Gian berdeham dengan canggung dan menjadi salah tingkah. Pertemuan pertamanya dengan Regina jelas bukan momen menyenangkan. Gian juga tidak jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Regina. Meskipun harus diakui, Gian memuji kecantikan Regina waktu itu. Tapi yang pasti saat itu Regina adalah salah satu wanita yang membekas diingatannya karena perilakunya. Gian dimarahi oleh client-nya, hal yang tak pernah dialaminya selama bekerja. Gian mengingat seharian itu dia sangat kesal.
“Bukan jahat. Cuma jujur aja.” Kata Gian membela diri. Regina memutar bola matanya dengan sebal.
Selama beberapa jam mereka terus bercerita dan tertawa. Regina senang karena Gian banyak menceritakan tentang dirinya. Hal yang tak pernah dilakukannya selama 6 bulan ini. Tentang masa kecilnya, orang tuanya, sepupunya, dan hal-hal yang tidak Regina tahu tentang hidup Gian. laki-laki ini mulai terbuka tentang semua hal padanya. Ini tanda yang bagus.
Sebaliknya, Gian merasa sangat aman dan nyaman berada bersama Regina. Dia sekarang bisa bercerita dengan santai dengan gadis itu. Hal yang tidak pernah dilakukannya pada siapapun. Sejak dulu Gian selalu membatasi dirinya, dia tidak punya sahabat dekat sama sekali. Orang yang datang padanya biasanya hanyalah orang-orang yang ingin memanfaatkannya saja. Karena kekayaannya, kecerdasannya, dan pengaruhnya. Selalu begitu sejak dia kecil. Mereka semua datang menggunakan topeng dihadapan Gian, bersikap manis dan tertarik padanya. Hal tersebut memuakan baginya.
Regina datang padanya seperti badai, dengan kemarahan, kesedihan, dan hal-hal tak terduga lain. Dia tidak mencoba untuk disukai oleh Gian, malah selalu menolak dan bersikap defensif terhadapnya. Regina juga selalu mengatakan hal-hal sesuka hatinya, tanpa perlu pura-pura manis dihadapannya. Keberadaannya seperti hal yang sangat wajar disekelilingnya, tak perlu sulit untuknya beradaptasi dengan Regina. Mungkin karena mereka juga teman seumuran, sehingga hubungan mereka seperti layaknya teman. Gian menyukai bagian-bagian itu dari hubungan mereka. Dia tidak perlu berusaha lebih keras menyesuaikan diri.
Obrolan mereka yang menyenangkan terputus saat Gian melihat Regina tampak kelelahan. Dia menyuruhnya tidur sebentar untuk mengisi energinya. Perjalanan kali ini cukup lama. Dia tidak ingin Regina terlalu lelah karena mengobrol. Akhirnya Regina tertidur 2 jam dan terbangun saat sampai Velena International Airport. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan 40 menit dengan seaplane yang disediakan resort tempat mereka menginap di Cheval Blanc.
Saat terbangun dan kembali berkendara, Regina merasa badannya lebih lelah dari sebelumnya. Entah karena pengaruh perjalanan yang lama atau karena malam sebelumnya dia tidak bisa tertidur karena terlalu bersemangat, dia merasa sakit kepala dan tidak nyaman.
Gian memesan Island Villa untuk honeymoon-nya. Kolam renang full length, dan mengarah langsung ke private beach dan taman. Ruangan luas dan mewah dengan kamar tidur, living room, kamar mandi dengan bathtub, outdoor shower, dan dining pergola diluar villa. Mereka bisa menyantap makanan dengan pemandangan taman serta laut. Regina pasti menyukainya.
Mereka sampai saat sore menjelang. Sunset membentang diantara lautan, membuat semburat warna kemerahan yang indah disepanjang mata memandang dari resort tersebut. Gian menikmati pemandangan tersebut disalah satu sofa yang menghadap ke kolam renang juga private beach.
“Bagus ya?” Tanya Gian senang melihat keindahan alam yang ada dihadapannya pada Regina yang datang mendekat.
Namun raut muka Regina tampak tidak senang. Alisnya bertaut sedih dan muka yang cemberut. Sejak perjalanannya dengan seaplane tadi Regina memang tidak banyak bicara. Gian membiarkannya saja, berpikir mungkin Regina sedang menikmati pemandangan selama perjalanan mereka. Rupanya dia salah, ada yang mengganggu perasaan gadis itu. Regina kemudian duduk disamping Gian dan memeluknya.
“Sorry” Kata Regina sambil terisak.
“Kenapa?” Tanya Gian bingung dengan tingkah Regina. Kenapa dia tiba-tiba menangis dan meminta maaf padanya? Padahal rasanya selama perjalanan dia baik-baik saja. Regina semakin kuat memeluk Gian. Kekecewaan menyergap hatinya.
__ADS_1