
“Aku kelihatan bodoh aja ga tau apa-apa soal kamu. Vanya sampai segitunya merasa kenal sama kamu. Dia emang siapa?”
“Teman aku sejak kecil. Orang yang kakek jodohin sama aku.”
Kalimat itu meluncur dari mulut Gian, membuat Regina mengerti semua perasaan yang tidak nyaman saat Vanya dan Gian berbicara berdua. Regina kini paham kenapa Vanya sangat tertarik dengan pembicaraan tentang perusahaannya dan hubungannya dengan Gavels. Apakah Vanya punya perasaan pada Gian? Apakah Gian punya hubungan masa lalu yang tidak Regina ketahui? Kenapa Gian tidak pernah menceritakan apapun padanya? Padahal Regina dengan terbuka mengatakan tentang hubungan-hubungan masa lalunya pada Gian. Semua pertanyaan dibenaknya meyakinkan dirinya bahwa Gian belum percaya padanya.
Gian memang pernah menyinggung soal perjodohannya ketika mereka melakukan perjalanan ke Maldives beberapa waktu lalu. Tapi tak pernah mengatakan detail mengenai itu. Dia tidak bisa terbuka padanya.
“Pantes aja kamu langsung percaya sama dia dan nawarin kerjasama dengan perusahaannya. Deket banget ya kalian?”
“Kamu cemburu karena itu? Aku kan udah bilang soal kerjasama dia dengan perusahaanku ga ada artinya dibandingkan keterlibatan aku diperusahaan kamu.”
“Aku ga mau ngomong dulu sama kamu. Aku ngerasa ga baik-baik aja setelah tau ternyata kalian sedekat itu.”
“Aku ga dekat sama dia, Re. Aku ga punya perasaan apa-apa sama dia.”
“Tapi kamu punya masa lalu sama dia kan, Gi? Hal-hal yang ga pernah kamu ceritain sama aku. Kamu bahkan ga pernah cerita apa-apa tentang diri kamu sama aku!” Teriak Regina.
Regina kemudian meninggalkan Gian. Dia berjalan menuju kamar. Menggulung dirinya dengan selimut. Kenapa dia tidak bisa mengendalikan perasaannya? Rasanya amarah tidak mereda dihatinya. Dia benci mengetahui bahwa Vanya sudah lama mengenal Gian dan pernah dijodohkan dengannya. Memikirkan kembali setiap kata yang menyudutkan Regina mengenai hubungan perusahaannya dengaan Gavels, membuatnya tersadar Vanya masih punya perasaan pada Gian dan masih mengharapkannya. Dia membanding-bandingkan dirinya dengan Regina, agar merasa lebih baik. Regina tidak menyukainya. Dia benci ada wanita lain yang menyukai Gian.
Saat masuk ke kamar, Gian melihat Regina sudah berbaring di tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Kebiasaan Regina jika sedang tak ingin diganggu oleh Gian. Dia tidak mengerti harus menghadapi kemarahan Regina yang menurutnya salah sasaran. Gian paham Regina cemburu karena Vanya. Tapi Gian tidak melakukan apapun dengan Vanya, bahkan dia tidak punya perasaan apapun untuknya. Kenapa Regina harus marah padanya?
“Re, kamu dengerin aku kan?” Tanya Gian sambil berbaring di sebelah Regina. “Aku ngerti kamu cemburu karena Vanya ngerasa lebih kenal aku dan aku minta maaf karena ga pernah cerita apa-apa sama kamu. Tapi aku ga pernah punya hubungan istimewa ataupun punya perasaan apa-apa sama Vanya, dulu ataupun sekarang. Aku ga ngerti kenapa kamu marah-marah gini sama aku.” Lanjut Gian menjelaskan.
Regina hanya diam, Dia tidak ingin membicarakan perasaannya yang kacau saat ini. Dia sangat emosi dengan kata-kata Vanya yang seakan mempertanyakan hubungannya dengan Gian. Apalagi dia melakukannya di depan orang lain, di circle pertemanan orang-orang penting. Mungkin hal itu yang tambah menyakiti Regina. Seakan harga dirinya jatuh karena tak mengenal suaminya sendiri. Ditambah lagi Gian tetap diam saja mengetahui ada Vanya dilingkungan pertemanannya saat ini. Bagaimana mungkin perasaannya baik-baik saja?
Melemparkan amarah hanya pada Gian memang tidak adil. Regina seharusnya membalas dan menunjukan pada Vanya bahwa laki-laki ini mencintainya dan dia memilihnya diantara siapapun. Tapi entah kenapa dia tidak bisa melakukannya. Regina merasa begitu terpojok tadi siang.
“Regina, aku sayang sama kamu. Hal yang ga pernah aku rasain ke orang lain, termasuk ke Vanya. Aku nolak perjodohan sama dia karena aku ga punya perasaan apa-apa. Vanya buatku kayak saudara, sama seperti Arsila. Kita udah bareng sejak kecil dan aku ga pernah anggap hubungan aku seistimewa kaya hubungan kita.”
“Tapi dia punya perasaan sama kamu, Gi. Aku ga suka!” Ucap Regina dari balik selimut. Gian bisa mendengar suara Regina yang bergetar marah diselingi tangis.
__ADS_1
“Terus aku harus apa? Aku ga bisa apa-apa soal perasaan dia ke aku, itu ga bisa aku kendalikan. Sama halnya kayak perasaan marah kamu sama aku. Tapi aku pingin ngerti, aku harus berbuat apa biar perasaan kamu jadi lebih baik.” Ucap Gian tenang.
Regina tidak akan pernah menang melawan logika dan ketenangan Gian. Semua yang dia katakan masuk akal, hanya saja perasaannya masih kacau dan menolak untuk meluruskan masalah ini. Dia hanya ingin ditinggalkan sendiri dan marah-marah karena kebencian dan kecemburuan yang tidak bisa dia kendalikan.
“Kenapa kamu ga bilang apa-apa pas kita ketemu sama dia di acara makan malem dulu? Padahal aku ceritain soal mantanku sama kamu.”
“Aku harus cerita apa sama kamu? Soal perjodohan aku yang ga jadi sama dia?”
“Iya! Kenapa kamu ga cerita soal itu sama aku?”
“Karena aku pikir itu ga penting. Aku ga ngerti kalau hal kayak gitu harus aku kasih tahu ke kamu. Aku minta maaf.” Jawab Gian menyesal. Dia menganggap hal seperti ini remeh. Gian terdiam sebentar sebelum melanjutkan berbicara.
“Aku kenal sama Vanya setelah aku pindah ke rumah kakek, waktu orangtuaku meninggal karena kecelakaan. Aku ga punya temen dan terus nempel sama kakek dan nenekku, makanya kakek minta Pak Aryanto salah satu dewan direksi internal buat ngajak anaknya sering main ke rumah. Biarpun akhirnya Vanya selalu main sama Arsila. Tapi lama kelamaan kita jadi temenan. Aku di daftarin sekolah di tempat yang sama dengan Vanya, biar ada temen katanya. Waktu aku kuliah di Amerika, dia juga ambil universitas yang sama dan jurusan yang sama kayak aku. Kita gak pernah tinggal jauhan disana. Tapi aku selalu nganggap dia saudara, kaya ke Arsila dan sepupuku yang lain. Ga pernah kepikiran jatuh cinta sama Vanya.”
“Waktu aku lulus magister, aku kerja di Gavels. Belum menjabat CEO, masih menangani business planning. Nenek sama kakek udah nanyain soal pacar, soal nikah, tapi aku selalu jawab aku belum mau nikah dan mungkin ga akan nikah sama sekali. Mereka khawatir soal itu, takut aku gak ada yang ngurus pas mereka ga ada. Padahal aku bisa ngurus diriku sendiri. Nenek minta tolong Tante Yuniar buat cari cewe yang baik buat dikenalin, akhirnya aku ikutin maunya nenek tapi akhirnya gak cocok. Aku belum bisa ngasih hati aku sama siapapun. Setelah itu nenek sakit, tanpa sepengetahuanku Vanya cerita sama nenek kalau dia suka sama aku dari dulu. Nenek ngerasa bersalah karena ga tau itu dan malah ngejodohin aku sama orang lain. Waktu nenek meninggal, permintaannya sama kakek cuma satu, jodohin aku sama Vanya. Kakek akhirnya ngatur perjodohan aku sama Vanya, dengan cara-cara halus lebih dulu kayak bikin skenario liburan berdua, jalan-jalan, dan banyak lagi. Kakek juga udah ngasih tahu keluarga Vanya soal itu, mereka seneng banget bisa jodohin kita. Tapi kakek ga pernah bilang apa-apa sama aku dan selalu ngira aku juga suka sama Vanya.”
“Dulu setiap bulan kita selalu ngadain acara makan malam bareng di rumah kakek. Semua keluarga hadir, termasuk Vanya. Kakek ngobrol berdua sama aku, bicarain tentang perjodohanku sama Vanya. Aku tolak saat itu juga, kakek marah banget sama aku. Aku udah jelasin kalau aku ga punya perasaan apa-apa sama Vanya. Tapi dengan alasan permintaan terakhir dari nenek, bikin kakek lupa aku juga punya perasaan dan terus maksa. Karena terlalu emosi aku turun ke ruang makan dan maki-maki Vanya depan semua keluargaku. Dia yang bikin kakek mendesak aku kayak gitu. Kakek denger semua kata-kata jahat aku ke Vanya, dia marah banget sama aku. Saat itu juga aku diusir dari rumah.” Gian terdiam sejenak. Mengingat kembali kenangannya yang sempat terkubur dipikirannya.
Regina hanya diam. Tapi dia mendengarkan semua cerita Gian. Bersimpati pada perasaannya yang mungkin saat itu sangat terluka. Apa mungkin Gian tidak ingin menceritakannya karena semua itu masih sulit diterima olehnya. Regina menurunkan selimut yang menutupi kepalanya, berbalik menghadap Gian yang berbaring disampingnya. Kemudian memeluk Gian.
“Aku selalu ngikutin apa yang kakek mau. Aku selalu ngelakuin itu dengan baik, bahkan semua perintahnya jadi ambisiku. Setiap saat aku pingin bikin kakek nenekku bangga, karena aku ga punya orang tua, aku cuma punya mereka. Mungkin saking aku nurutnya, mereka lupa aku manusia. Lupa nanya gimana perasaan aku sebenarnya, lupa nanya keinginan aku apa, sampai hal serumit pernikahan dan cinta aja bisa mereka atur buat aku. Tapi sayangnya untuk yang satu itu aku gak mau.”
Selalu ada hal yang baru dihubungan mereka. Perasaan dan pembicaraan yang tak pernah mereka lakukan sebelumnya. Regina ingin tahu pelan-pelan tentang hidup Gian. Semua tentang Gian tidak sesederhana yang Regina kira. Beberapa waktu lalu dia menertawakan tentang perjodohan Gian yang dia tolak, tapi sekarang Regina mengerti kacaunya kejadian itu. Mungkin itu juga yang membuat Gian tidak memberitahukan detailnya. Regina ingin tahu. Dia ingin mengerti dunia Gian dan semua luka-lukanya dimasa lalu.
...****************...
Maya pelan-pelan duduk di dekat meja kerja Regina. Kemudian dengan malu-malu berbisik pada Regina yang masih sibuk dengan laporan mengenai material.
“Kenapa sih, May?” Tanya Regina memperhatikan gerak-gerik Maya dari sudut matanya.
“Bu Rere sore ini ada waktu ga?”
__ADS_1
“Buat?”
“Temenin saya beli baju buat ketemu calon mertua. Saya pingin kelihatan cakep dan modis kaya Bu Rere pas ketemu mereka nanti.” Bisik Maya. Regina langsung menengok gadis itu dengan berbinar. Dia tidak pernah tahu Maya ternyata sudah punya pacar selama ini.
“Boleh. Kok kamu baru bilang sih udah punya pacar?”
“Baru beberapa bulan sih, tapi saya udah diajak makan malam bareng sama orang tuanya.”
“Waah.. Selamat kalau gitu, May. Kamu harus cari baju yang cocok biar bisa ngasih kesan yang baik. Acaranya kapan?”
“Sabtu nanti.”
“Oke. Nanti kita pulang ke mall buat nyari baju buat kamu.”
“Bener ya, Bu?”
“Iyaaa”
Sore itu Regina meluangkan waktu untuk menemani Maya berbelanja beberapa potong baju di Mall. Maya adalah mantan sekretarisnya ketika dulu Regina masih menjabat sebagai CEO di Edmode, dia salah satu orang yang sangat dekat dan sering membantu Regina. bahkan saat persiapan pernikahannya pun Maya dengan senang hati membantunya. Kini saatnya Regina membalas semua kebaikan Maya dengan menemani gadis itu memilih baju dan bergaya dengan cantik untuk hari spesialnya.
Mereka berkeliling mall, membeli camilan dan minuman, kemudian mengobrol dan tertawa bersama. Menyenangkan rasanya punya teman kembali dan melakukan hal tersebut. Setelah Alea pergi dan tak berhubungan lagi dengan Regina, dia tidak punya teman untuk sekadar nongkrong di mall seperti ini. Dia memang punya Gian sekarang, tapi suaminya itu sangat sibuk hingga tak pernah mengajaknya jalan-jalan berkeliling mall seperti ini.
Regina menawarkan Maya untuk membelikannya tas dari Prada. Meskipun Maya awalnya menolak tapi akhirnya dia menerima pemberian Regina tersebut. Maya sangat senang sampai terus berbicara dan berterimakasih saat mereka sedang membayar barang di kasir.
Saat selesai melakukan transaksi, tanpa sengaja Regina melihat orang yang dikenalnya masuk ke toko. Melihat-lihat pouch koleksi terbaru. Wanita itu berbicara dan tertawa dengan laki-laki disampingnya. Tampak sangat cocok dan nyaman berbelanja berdua. Beberapa detik Regina tidak percaya dengan yang dia lihat. Tak berapa lama kemudian kakinya seperti menuntunnya sendiri mendekat ke arah keduanya. Dengan sekuat tenaga Regina memukulkan sling bag-nya ke kepala laki-laki yang kini sedang tersenyum menanggapi si wanita berbicara.
“Regina?” Kata Gian berbalik melihat istrinya yang begitu marah.
Selanjutnya yang Regina ingat hanya berlari dari sana, melewati toko-toko dan lorong panjang menuju lift ke parkiran. Dia meninggalkan Maya sendirian. Tapi pikirannya sudah sangat kacau. Dia hanya ingin berlari dan tak menoleh lagi kebelakang. Dia bisa mendengar Gian yang terus memanggil namanya, dan menyusulnya. Entah kekuatan dari mana, Regina bisa berlari secepat itu sambil bercucuran air mata dan pikiran yang hampir gila.
Semua pembicaraan Gian malam itu tentang perasaannya hanya dusta. Regina pikir hanya dia yang special. Regina pikir hanya dia satu-satunya. Gian bahkan tak pernah sekalipun mengajaknya berbelanja di mall, melihat-lihat barang sambil berbicara dan tertawa. Tapi dengan wanita itu, mungkin Gian melakukannya ratusan hingga ribuan kali selama hidupnya. Ternyata Gian sama saja dengan laki-laki lainnya. Pembohong. Iya, mana mungkin Regina bisa menyingkirkan teman masa kecilnya yang sudah dikenalnya dari lama. Bagi Gian selalu ada tempat istimewa untuk Vanya.
__ADS_1