Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Lost


__ADS_3

Regina sampai di mobil, dengan cepat keluar dari parkiran mall. Kini dia sudah tak mendengar lagi suara Gian yang memanggilnya. Dia berharap tidak pernah mendengar suara itu lagi. Dengan berurai air mata, Regina menyetir tanpa tujuan. Pulang ke rumah bukanlah jawaban. Hatinya tak sanggup untuk melihat lagi Gian setelah kejadian ini. Pasti dengan segala logika dan penjelasan Gian, semua perasaannya terasa percuma dan akhirnya Regina akan kalah juga.


Sejenak dia menghentikan perjalanannya, memarkir mobilnya di bahu jalan dekat pertokoan. Handphone-nya sejak tadi berdering di dalam tasnya. Pasti Gian yang dengan kukuh menghubunginya. Puluhan panggilan tak terjawab tampil dilayar. Regina dengan cepat menelepon Maya, takut kalau panggilan Gian mengalihkannya.


“Bu Rere? Bu kenapa? Bu Rere sekarang dimana?” Ucap Maya saat panggilan telepon tersambung.


“Kamu cepetan keluar mall, saya tunggu di dijalan deket mall.”


“Iya, Bu.”


“Pastiin Gian gak ngikutin kamu.”


“Pak Gian udah pergi dari tadi.”


Regina memutar kembali mobilnya menuju mall, kemudian memarkir mobil di dekat sana. Menunggu Maya. Dia baru menyadari tangannya gemetar. Tangisnya tak bisa dihentikan. Saat Maya masuk ke mobil, Regina sudah menangkupkan tangannya menutupi wajah. Menangis dan menjerit tak terkendali dibalik setir. Maya yang sudah duduk disebelahnya, memeluk Regina kencang. Mencoba menenangkan atasannya yang hatinya patah tak karuan.


Perlu lebih dari 15 menit untuk Regina mengendalikan dirinya. Menentukan arah setelah kejadian mengejutkan yang dilihatnya tadi. Kesadaran dan pikirannya mulai berkumpul kembali. Dia tidak boleh lemah seperti ini. Handphone-nya masih terus berdering sejak tadi. Regina mematikan perangkat itu. Menutup kesempatan komunikasinya dengan Gian.


Maya mengambil alih kemudi, membawa Regina yang masih terguncang menuju kosannya. Baru pertama kali dia melihat atasannya seperti ini. Bahkan kabar buruk mengenai kondisi perusahaan tak membuat Regina tampak lemah. Maya tidak begitu jelas mengetahui kejadian yanng dialami Regina tadi. Hanya Regina yang berlari meninggalkannya keluar toko dan Gian yang mengejarnya dibelakang.


Mereka sampai di kos-kosan yang ditinggali Maya, disalah satu gang sempit di sudut Jakarta. Mobil terparkir di tempat penitipan. Dari sana mereka terus berjalan menelusuri gang, melewati pedagang-pedagang, dan pemandangan bocah-bocah yang bermain dengan temannya. Hingga sampai di deretan bangunan petak-petak tempat Maya tinggal. Kosan 3 petak yang menurut Regina bersih dan nyaman. Sudah ada ruangan terpisah untuk dapur, kamar, kamar mandi dan 1 ruangan depan.


“Bu Rere nginep bareng di kosan saya dulu gak apa-apa?” Kata Maya yang khawatir atasannya tak suka tinggal ditempat seperti ini.


“Gak apa-apa, May. Makasih banget ya.”


“Nanti saya tanyain sama bapak kos kalau ada kamar yang kosong.” Lanjut Maya.


Regina memutuskan untuk menjauh dan menghilang sementara dari Gian. Melihat Gian hanya akan membuatnya terluka. Dia tidak tahu kemana harus dituju, yang ada dipikirannya hanya meminta bantuan Maya saat itu. Setelah membersihkan diri dan meminjam baju Maya, Regina terlelap. Tidur berdua dengan Maya.


...****************...


Gian sampai ke rumah dan mendapati tempat tersebut kosong. Regina tidak pulang malam ini. Rasa panik menyergap hatinya. Semua panggilannya tidak pernah diangkat dan sekarang Regina sama sekali tidak bisa dihubungi.


Banyak pertanyaan ada dibenaknya sekarang. Dimana Regina? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana kalau sampai dia kecelakaan karena mengemudi dengan keadaan seperti itu? Panik dan khawatir kini bersarang dihati Gian. dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dan harus mencari kemana. Gian segera menelepon salah satu orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Regina. dia tahu Regina tak akan pulang malam ini. Dia tak mungkin pulang dan mendengar semua penjelasan Gian.


...****************...


...Hari Pertama


...


Gian tidak bisa tidur semalaman. Dia berakhir terjaga menunggu Regina pulang. Namun benar saja dugaannya. Regina tidak pulang. Berkali-kali malam itu Gian menelepon dan memarahi orang suruhannya, tapi tetap saja pencarian mereka tidak membuahkan hasil. Tak ada record dari kartu kredit Regina di hotel manapun, tak ada jejak dari GPS di handphone Regina yang bisa mereka temukan, dan tak ada berita apapun. Perasaannya kini bercampur aduk, kepalanya sakit, dan badannya sangat lelah.


Hingga pukul 10 pagi Gian masih duduk di ruang tengah. Sekretarisnya terus menghubunginya, kelimpungan karena Gian belum sampai ke kantor dan memimpin meeting.


“Saya hari ini gak masuk, tolong reschedule semua meeting dan minta Om Bayu buat handle semua dokumen yang harus saya tanda tangan dan periksa hari ini.” Ucap Gian ditelepon. Dia enggan untuk menyentuh pekerjaannya hari ini. Pikirannya kacau. Hanya ada Regina yang membanjiri otaknya sekarang.

__ADS_1


...****************...


Pukul 8 Maya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Sebelumnya dia sudah membelikan ketoprak untuk sarapan Regina. Atasannya itu masih terlihat diam dan agak shock, dia belum sepenuhnya sehat dan baik-baik saja. Sejak subuh tadi Regina hanya duduk menyandarkan dirinya ditembok, menatap kosong didepannya. Maya tidak tega meninggalkan Regina sendirian, tapi atasannya tak ingin Maya bolos kerja dan menemaninya. Lagipula Regina sedang butuh sendirian.


“Jangan bilang Dimas atau siapapun yang nanyain soal aku.” Ucap Regina. Maya hanya mengangguk.


Gian pasti akan segera tahu kalau Regina tidak masuk ke kantor sekarang. Dia pasti menyuruh Dimas untuk mencari informasi mengenai keberadaannya lewat Maya yang terakhir kali pergi bersamanya.


Seharian itu Regina hanya berbaring di kasur. Bahkan dia enggan untuk menyentuh makanan yang sudah dibelikan oleh Maya, padahal perutnya sudah menjerit sejak pagi. Perasaannya hancur, bingung, dan sedih. Regina mengasihani dirinya sendiri. Dia selalu terjebak dengan laki-laki br*ngsek yang memilih wanita lain selain dirinya. Mungkin keberuntungannya mengenai cinta adalah level paling sial sedunia.


Semua kata-kata manis dan perilaku baik Gian padanya hanya bualan. Jika tahu Gian ternyata sedekat itu dengan teman masa kecilnya hingga berani jalan berdua saat dia telah menikah, harusnya Gian tidak usah menolak Vanya. Regina yakin, jauh didalam hati Gian, Vanya adalah orang yang istimewa juga.


...Hari Kedua


...


“Saya gak tahu apa-apa soal Bu Rere, Pak. Pas habis bayar tas, Bu Rere pergi terus saya lihat dia lari keluar toko. Saya telepon berkali-kali ga diangkat. Jadinya saya pulang naik gojek sendiri. Sampe sekarang chat saya aja gak dibaca, Pak. Padahal saya khawatir banget sama Bu Rere.” Jawab Maya meyakinkan di depan Dimas dan Gian yang kini sedang menginterogasinya.


Sebenarnya Maya sangat ketakutan dan terintimidasi melakukan kebohongan ini di depan atasannya dan Gian. Mereka menatapnya garang, mencoba mencari celah keraguan pada Maya. Namun Maya sudah berjanji pada Regina, dia tidak akan membocorkan keberadaannya. Tengkuk Maya berkeringat, udara dingin dari AC di ruangan tersebut tak membuat gerahnya menghilang. Dia ingin cepat-cepat pergi.


Gian segera tahu Regina tidak masuk ke kantor dari Dimas. Dia selalu melaporkan apa saja mengenai Regina padanya. Hari ini dia datang ke kantor Regina berniat untuk mendesak orang yang pergi bersama Regina malam itu untuk memberitahukan keberadaannya. Namun ternyata Regina meninggalkan gadis itu sendirian. Dia pergi entah kemana.


...****************...


Regina masih berada di kosan Maya. Menyibukkan pikirannya dengan menonton TV. Sesekali dia tergoda untuk menyalakan handphone-nya, melihat berapa banyak panggilan dan pesan yang Gian kirimkan padanya. Tapi Regina mengurungkan niatnya. Mendiamkan Gian seperti ini memang bukan solusi. Dia seperti wanita bodoh yang sedang merajuk. Harusnya dia menghadapi Gian dengan berani. Mengatakan padanya bahwa hubungan mereka sudah selesai. Tapi Regina tidak bisa. Tak sanggup menghadapi Gian. Perasaannya terluka dan membutuhkan waktu hingga bisa berani melihatnya lagi.


Kamar kosan yang ditempati Regina mirip seperti kosan Maya. Hanya saja tak ada barang-barang yang mengisinya. Hanya sebuah kasur busa dan lemari pakaian. Maya membantunya membeli beberapa keperluan sehari-harinya. Untung saja Regina menyimpan uang cash untuk keadaan darurat. Dia masih enggan keluar dari kosan Maya. Hanya ingin bergulung dibalik selimut seperti kebiasaannya.


Maya selalu mengajak Regina berbicara dan bercerita, menjaganya agar tidak melamun sepanjang waktu. Dia gadis yang baik dan pengertian. Regina tidak akan cukup berterimakasih padanya. Setelah punya tempat sendiri. Regina bisa merasakan sepi yang tiba-tiba menyergap disekelilingnya. Tak ada TV yang bisa dia nyalakan dilatar belakang untuk mengisi sunyi. Hanya beberapa kertas dan pena yang menemaninya, menggambar beberapa desain baju menghilangkan kesepiannya.


...****************...


Gian mempercayai dirinya nyaris gila tanpa Regina. Dia tidak bisa tidur sama sekali selama 3 hari ini. Sepanjang malam hanya bisa mencoba memejamkan mata, namun pikirannya terus berlarian memikirkan skenario-skenario terburuk tentang Regina dan hubungan mereka. Bahkan yang lebih parah, kini dia tidak bisa tidur di kasur yang dia gunakan bersama dengan Regina. Dia tidak bisa menempatinya sendirian. Gian hanya akan membaringkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Menyalakan TV, memutar drama Korea yang selalu Regina tonton tanpa memedulikannya.


Memorinya kembali mengingat saat dia kehilangan orang tuanya. Kesedihan dan ketakutan membuat dadanya sesak.


...Hari Kelima...


Setiap pagi Regina selalu terbangun dengan sakit dikepalanya, dan perasaan tak nyaman diperutnya. Stress yang dialaminya membuat penyakit asam lambungnya kumat sekarang. Dia akan pergi ke warung di dekat kosannya, membeli antasida dan pereda nyeri untuk mengatasinya. Kini dia sudah bisa pergi keluar membeli makan sendiri tanpa Maya. Gadis itu masih sering mengunjungi Regina. Maya datang ke kosannya pagi-pagi sebelum berangkat, kemudian setelah pulang kerja dan tinggal berlama-lama bersama Regina untuk bercerita.


Disaat sendirian, Regina memikirkan kembali arah hubungannya dengan Gian. apakah dia bisa melanjutkannya? Atau haruskah Regina berhenti sekarang? Perselingkuhan baginya adalah tiket mutlak untuk perpisahan. Terpikir juga untuk pulang ke Bandung menemui keluarganya. Berada disana, aman dan nyaman untuk menyembuhkan kekecewaannya. Tapi apa yang akan keluarganya rasakan bila Regina pulang membawa kabar badai mengenai perpisahannya dengan Gian? Uwa pasti sangat kecewa padanya. Kegagalan dengan Rafi sudah membuat mereka terguncang, kini Regina gagal lagi untuk kesekian kalinya. Regina sekarang sangat kesepian dan sedih.


...****************...


Gian yakin sekarang dia sudah gila. Dia berdiri di pintu rumah Arsila, kemudian menghambur memeluk sepupunya itu ketika membukakan pintu. Arsila kebingungan dengan yang dilakukan Gian. Melihat penampilan Gian yang tak karuan membuat banyak pertanyaan dibenaknya. Dia terlihat kelelahan, kantung mata menggelayut, rambutnya berminyak, kumis tipis tak terurus, dan dia masih mengenakan baju kerjanya yang lusuh.


“Kamu kenapa, Gi?” Tanya Arsila khawatir.

__ADS_1


“Regina kabur dari rumah, Sil. Udah 5 hari dia gak balik.”


“Hah? Kok bisa? Kalian berantem?”


Arsila membawa Gian masuk, mendudukkannya di sofa, memberinya teh hangat agar Gian tenang. Gian menceritakan malam kejadian saat Regina melihatnya bersama Vanya. Untuk pertama kalinya setelah menahan semuanya didalam hatinya, Gian menangis dihadapan sepupunya. Kesedihan dan kehilangan yang menyesakkan membuatnya begitu hancur. Dia menginginkan Regina kembali.


Setelah melihat sepupu yang sudah lama dikenalnya begitu rapuh, Arsila menyadari bahwa Gian sangat menyayangi Regina lebih daripada yang dia bayangkan. Seumur hidupnya, Gian tidak pernah setidak stabil ini. Menangis dan begitu bersedih. Bahkan saat kakek dan neneknya meninggal pun, Gian hanya memasang wajah tenang tanpa ekspresi. Sekarang bagi Gian, Regina adalah seluruh hidupnya. Kesalahpahaman mereka harus segera diluruskan. Tapi dengan menghilangnya Regina, Gian tidak bisa menjelaskan apa-apa.


...Hari Ketujuh...


Penyakit asam lambung Regina semakin parah setiap hari, semua pikiran buruknya menambah beban berat bagi lambungnya. Kini dia tidak mempan lagi meminum satu dosis antasida. Gejala sakit kepalanya pun tak kunjung hilang. Seharian Regina hanya meringkuk saja. Malas bergerak karena sakit yang menyiksa. Dia tak berani mengatakan keadaannya pada Maya, tak ingin gadis itu menjadi repot. Apalagi malam ini Maya punya acara spesial menemui calon mertuanya. Regina memaksakan dirinya memakan sesuatu untuk mengisi perutnya. Tapi selalu dia memuntahkan kembali beserta liur asam dan perih diperutnya.


...****************...


Arsila mengirim ART ke rumah Gian untuk mengurusnya. Membersihkan rumah dan memastikan Gian makan dengan teratur. Gian menerimanya dengan pasrah. Harus diakui selama beberapa hari setelah Regina pergi, rumahnya agak sedikit kacau. Biasanya Gian akan dengan rajin membersihkan rumahnya, mencuci piring, mencuci bajunya. Kini rumahnya berdebu, cucian piring dan beberapa makanan basi menjejali kitchen sink, baju bekas bertumpuk dikeranjang cucian. Mbak Inah dengan telaten membersihakannya satu persatu. Kemudian memasakkan sarapan dan makan malam untuk Gian.


Selama seminggu ini Gian tidak bisa berkonsentrasi di pekerjaannya. Sekretarisnya selalu mengingatkan beberapa laporan yang tertinggal, beberapa meeting yang terlewat, bahkan memanggilnya dan menyadarkannya dari lamunan saat pikiran Gian melayang memikirkan keberadaan Regina.


...Hari Kesembilan...


Hari ini keadaan Regina sudah jauh lebih baik, meskipun tiga kali sehari dia tetap mengkonsumsi antasida dan obat pereda nyeri. Hari ini dia sangat ingin mengemil banyak makanan. Namun sayangnya uang cash-nya sudah menipis. Dengan terpaksa siang itu Regina berangkat ke mini market yang jaraknya lumayan jauh dari kosannya.


Setelah mengisi keranjang belanjanya dengan berbagai cemilan, Regina membayarnya. Tak lupa dia membeli beberapa makanan untuk Maya. Dia ingin mendengarkan cerita Maya malam ini sambil memakan banyak cemilan.


Saat sampai di kosannya, Regina teringat kembali handphone yang sudah lama tidak dia buka. Selama setengah jam, handphone tersebut dibiarkan mengisi baterai sebelum Regina menyalakannya. Sudah dia duga, Ribuan pesan masuk kesana, hampir semua dari Gian. Tanpa membukanya dia langsung menghapus dan mengosongkan semua percakapan mereka. Pesan-pesan lain berasal dari rekan-rekan kerjanya yang menanyakan keberadaannya yang tak masuk kantor berhari-hari. Pesan lain dari Arsila dan juga keluarganya. Regina ragu untuk membukanya. Akhirnya memutuskan untuk mematikan kembali perangkatnya.


Dengan santai Regina mengunyah cemilan-cemilan yang sudah dia beli tadi. Entah kenapa hari ini suasana hati Regina jadi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Masalahnya tidak serta merta menghilang. Kekecewaan masih dia rasakan. Namun sekarang Regina ingin menghadapinya dengan tenang. Dia sudah memutuskan akan menghadapi Gian, kemudian mengajukan cerai.


...Hari Kesepuluh...


Saat Mbak Inah sampai di rumah Gian, dia melihat atasannya tersebut tertidur di sofa ruang tengah. Dokumen berhamburan dimeja dan karpet. Handphone-nya terus berdering sedari tadi, namun Gian tak kunjung terbangun. Sebenarnya Mbak Inah takut untuk membangunkan Gian, dia selalu melihatnya kelelahan dan kurang istirahat. Namun panggilan yang beruntun yang masuk ke ponselnya sepertinya penting.


“Pak! Pak Gian! Bangun, Pak!” Kata Mbak Inah sambil menggoyangkan tubuh Gian membangunkannya. Dengan malas Gian membuka matanya kemudian melihat Mbak Inah “Handphone Pak Gian dari tadi bunyi.” Lanjutnya memberitahu. Gian hanya mengangguk kemudian mengambil handphone-nya di atas meja di tumpukan banyak dokumen. Bi inah sekarang menghilang dari pandangan menuju dapur.


Gian mengangkat teleponnya. Kesadarannya kembali penuh setelah mendengar panggilan tersebut. Alisnya bertaut sambil berpikir.


“Oke, kirim secepatnya.”


...****************...


Setelah selesai mencuci pakaian, pagi itu Regina hanya berbaring dikasurnya. Menatap langit-langit dengan pikiran melayang entah kemana. Saat itu dia tiba-tiba merasakan keram diperutnya. Regina lupa terakhir kali di menstruasi, saking sibuknya dengan pikiran mengenai hubungannya dengan Gian. Dia lupa mengenai dirinya sendiri. Rasa sakit diperutnya semakin menjadi. Tapi Regina malas untuk bangun dan meminum pereda nyari.


Setelah hampir 15 menit berbaring. Nyerinya dan keram perutnya tiba-tiba menggila. Regina bangkit menuju kamar mandi, mengambil pembalut dari lemarinya. Saat mengeceknya dikamar mandi. Regina kaget melihat gumpalan aneh melekat dicelana dalamnya, luruh bersama darah pekat. Nyeri diperutnya semakin hebat. Ketakutan dan rasa panik tiba-tiba muncul dan menyerangnya. Mukanya memucat, keringat dingin muncul di leher dan dahinya. Kemudian tangis menyusulnya.


Ketukan pintu terdengar dari luar. Regina harus segera memberitahu Maya, dan meminta bantuannya. Dengan cepat dia berjalan kepintu. Perutnya seperti dipotong-potong, kepalanya pusing, dan tiba-tiba badannya menjadi lemas. Darah sekarang menodai rok dasternya. Pandangannya mulai mengabur saat dia berhasil menggapai pintu kosan dan membukanya. Dia ingin segera menangis memanggil Maya.


“Regina, aku minta maaf. Aku mau jelasin semuanya sama kamu.”

__ADS_1


Bukan Maya yang berdiri disana mengetuk pintunya, tapi Gian. Atau ini hanya imajinasi Regina saja? Pandangannya mulai menjadi gelap. Ditengah rasa panik, takut, nyeri tak tertahankan diperutnya, dan dunianya menghilang diantara kedua kakinya. Hanya suara Gian yang masih terdengar memanggil namanya. Padahal dia berharap tidak pernah mendengar suara itu lagi. Disaat seperti ini selalu Gian. Selalu saja Gian.


__ADS_2