Istri Kontrak Investor Kaya

Istri Kontrak Investor Kaya
Perhatian Kecil


__ADS_3

Regina turun ke lantai satu Senin pagi dan tidak menemukan siapa-siapa disana. Gian sepertinya berangkat sangat pagi ke bandara untuk business tripke Singapura. Dia tidak mengirim pesan apapun atau membangunkannya untuk berpamitan. Bohong kalau Regina mengatakan kalau dia tidak kecewa. Ada perasaan mengganggu dalam hatinya ketika orang yang tinggal satu atap dengannya tidak memberikan kabar apapun. Meskipun sebenarnya Gian tidak wajib mengabarinya, karena hubungan mereka hanyalah kamuflase saja.


Di lemari es hanya tersedia susu dingin, buah anggur dan apel. Mereka belum sempat belanja makanan saat pindahan kemarin. Regina mengambil susu dengan tidak berselera, memasukkan 1 helai roti ke toaster, dan duduk menunggunya matang. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Rumahnya yang luas belum berperabot lengkap. Hampir kosong. Di rumah seluas ini, dia hanya sendirian. Kesepian tiba-tiba menyergap hatinya. Sama halnya saat dia ditinggalkan sendirian di hotel oleh Gian saat malam pertamanya.


Awal diperjanjian mereka menyetujui akan tinggal di tempat masing-masing. Tanpa saling berkabar, tanpa saling mencampuri hidup. Setelah dipikir-pikir hal tersebut menakutkan bagi Regina. Dia akan terjebak kekosongan selama 2 tahun, dalam hubungan yang antara ada dan tiada, sementara statusnya masih terikat dengan pernikahan. Akan sulit baginya untuk menemukan cinta yang baru. Orang baru. Apalagi dia tidak punya teman dekat sekarang, Alea pergi dan memutus komunikasi. Tidak ada teman, hanya ada pasangan yang bahkan tidak mengharapkannya.


Namun sekarang mereka diharuskan tinggal bersama, bagian kecil dari dirinya merasa lega. Setidaknya Regina memiliki teman untuk mengobrol. Meskipun dia masih ragu bagaimana arah komunikasi mereka. Setelah melihat Gian tampak tidak peduli dengan keberadaan Regina dengan pergi sesuka hati tanpa berpamitan, sepertinya dia terlalu berharap banyak.


Lamunannya disadarkan oleh suara toaster yang menandakan roti panggangnya sudah matang. Setengah jam setelah itu hanya ada Regina yang mengunyah makanan, sambil melihat-lihat desain interior yang akan dia konsultasikan untuk dirumahnya nanti.


Pukul 8 pagi Regina sudah siap berangkat kerja. Saat hendak mengunci pintu, tiba-tiba mobil Gian masuk ke gerbang. Hatinya terlonjak, apakah Gian pulang? Tapi tak sampai sedetik kemudian jawaban sudah dia dapatkan. Lelaki berumur 40 tahunan mengeluarkan kepalanya dari kaca sambil tersenyum.


“Bu, mau saya antar ga?” Tanya Ayus, supir Gian. Kemudian dia turun dari mobil untuk berbicara dengan Regina. “Tadi subuh saya habis nganter Pak Gian ke bandara. Sekarang mau simpen mobilnya di rumah. Mau saya antar sekalian ke tempat kerja?”


“Gak apa-apa nih?” Kata Regina sambil bercanda.


“Ya gak apa-apa toh, Bu. Lagian saya habis ini gak ada kegiatan.”


Regina akhirnya berangkat ke kantor dengan menggunakan mobil Gian dan diantar supirnya. Teringat saat pertama kali dia diantar Pak Ayus pulang, setelah pesta Arsila. Mereka hanya diam dan tak saling bicara.


“Bapak udah lama kerja sama Gian?” Tanya Regina mencoba mencari tahu relasi dari orang-orang sekitar Gian.


“Wah udah lama banget. Saya sebenarnya supir kantor, tapi suka nganterin Pak Gumelar kemana-mana. Jadinya kaya supir pribadi. Dulu pas Pak Gumelar masih ada, saya juga sering antar Pak Gian ke sekolah. Saya kenal beliau dari SMP.”


“Serius selama itu?”


“Iya. Istri saya juga udah ngurus Pak Gian dari kecil. Jadi ART di rumah Pak Gumelar.”


Regina kemudian teringat ART yang berada di rumah kakek Gian. Wanita bertubuh pendek dan ramah. Setiap melihat Regina dia selalu terlihat takjub, entah untuk alasan apa.


“Makanya saya tau banget Pak Gian. Pas pertama nganterin Bu Regina, saya kaget ‘loh Pak Gian punya pacar ya?’ Padahal dari dulu ga pernah nyuruh nganterin cewe, pacaran aja ga pernah.” Lanjutnya excited.


Hal-hal seperti ini sampai sekarang masih terasa aneh untuk Regina. Alasan kenapa Gian tidak pernah punya pacar dan dekat dekat dengan siapapun. Cerita tentang Gian juga sering dia dengar dari Arsila. Tentang betapa ambisiusnya Gian di sekolah, tentang prestasinya, dan tentang kesibukannya yang menjauhkannya dari romansa percintaan. Regina lebih banyak tahu tentang Gian dari orang-orang sekitarnya. Bukan dari dirinya sendiri. Mengingat mereka jarang berkomunikasi.


Kesempatan untuk berkomunikasi hanya tentang perjanjian dan pekerjaan saja. Regina merasa dia yang lebih banyak bercerita dan berbicara. Bahkan Gian tahu tentang pertunangannya yang gagal. Tapi Regina tidak pernah tahu apa-apa tentang kehidupan Gian. Bahkan dia tidak tahu makanan kesukaannya, buku favorit, hobinya, dan hal-hal kecil tentangnya.


...****************...


Regina melihat foto-foto ruangan yang sudah selesai di dekorasi ulang. Merasa sangat puas. Dia juga sudah membeli beberapa perabotan untuk melengkapi rumah. Sekarang ruangan-ruangan kosong dirumahnya sudah terisi dan terlihat indah. Desainer interior yang menangani rumahnya adalah kenalannya ketika kuliah dulu. Regina hanya sekali berkonsultasi dengannya, tapi semua keinginannya bisa divisualisasikan dengan baik. Dia tidak sabar bagaimana tanggapan Gian mengenai hasilnya.


Tetapi saat memikirkan Gian, pikirannya menjadi kecut. Selama 3 hari dia tidak pernah menghubungi sekalipun. Menanyakan kabarnya, atau paling tidak menanyakan proses dekorasi rumahnya. Padahal dia pergi tanpa dikabari. Setelahnya pun tidak ada komunikasi apa-apa. Regina melihat handphone-nya dengan muram.

__ADS_1


Hari ini Gian pulang. Regina bahkan tidak tahu dia akan sampai di rumah jam berapa. Entah siang, entah malam. Gian benar-benar menepati perjanjian mereka dengan tidak mengurusi urusan masing-masing dengan baik. Regina tidak menyukainya. Dia ingin tahu. Dia ingin diperhatikan. Rasanya dia memang sudah gila, beberapa minggu lalu dia menangis dan bersedih dengan pernikahan kontraknya. Tapi sekarang hatinya malah sangat menginginkan perhatian. Aneh.


Re, ga boleh kayak gini, re!


...****************...


Regina sampai di rumah pukul 5.30 sore. Lampu masih mati. Tidak ada orang di rumah. Gian sepertinya belum pulang.


 Apa dia pulang nanti malam?


Setelah membersihkan diri, Regina turun ke dapur. Sekarang lemari esnya sudah penuh berisi bahan makanan, buah, minuman kemasan, dan camilan. Ruangan dapurpun terlihat cantik setelah di dekorasi ulang. Dia senang melihat ruangan dengan nuansa modern dan minimalis tersebut. Membuatnya betah berlama-lama memasak.


Hujan turun cukup lebat diluar. Regina memasak sop iga untuk menghangatkan tubuhnya. Dicuaca seperti ini, memakan makanan berkuah akan membuat perasaannya nyaman. Selain sop iga, perkedel kentang dan paru sambal ijo juga Regina masak. Dia tidak tahu apakah makanan seperti ini disukai Gian atau tidak.


Jam 7 malam makanan sudah tersaji. Regina menunggu di meja makan. Berharap Gian segera pulang dan makan bersama dengannya. Setidaknya mereka bisa punya waktu berdua sebagai teman satu atap. Mengobrol atau apapun itu yang membuat rasa sepinya hilang.


Setelah 2 jam menunggu. Gian belum juga datang. Sementara hujan diluar semakin lebat. Regina membuka handphone-nya, mengetik di kolom chat menanyakan kapan Gian pulang. Tapi dia urungkan.


Kenapa jadi aku yang harus ngehubungin? Ih males! Emang dia siapa?!


Regina menuruti egonya yang sebesar gunung. Memakan masakannya dengan cepat. Kemudian masuk ke kamarnya dan tidur. Dia tidak peduli Gian akan pulang malam ini, besok, ataupun minggu depan.


...****************...


Saat sampai di rumah lampu sudah mati. Pasti Regina sudah tidur. Dia juga tidak berharap disambut saat pulang oleh istri seperti adegan film. Gian terdiam sejenak melihat ruangan-ruangan dirumahnya yang sudah berubah. Regina benar-benar mendekorasinya sesuai keinginannya. Dia tidak keberatan tentu saja, selera Regina bagus. Gian tersenyum simpul memikirkan bagaimana bersemangatnya Regina saat mendekorasi ulang rumahnya.


Ruang tengah dengan nuansa minimalis dengan dominasi warna putih dan warna abu tampak bagus. Disana juga sudah dilengkapi home theater. Ruang tamu juga masih di dominasi warna putih dengan sentuhan warna saffron pada beberapa hiasan pelengkap. Saat Gian melihat ke dapur, ruangan tersebut juga tidak lupa diberi sentuhan minimalis modern. Dengan warna putih dan granit hitam pada kitchen set-nya.


Perhatian Gian terfokus pada tudung saji diatas meja makan. Dia membukanya, dan melihat sop iga, perkedel kentang, dan paru sambal ijo sudah tersaji disana. Gian tersenyum lagi. Regina benar-benar diluar dugaannya. Dia tidak menyangka dibalik sikapnya yang masam, judes, dan sulit ditebak ternyata Regina memperhatikan hal kecil seperti ini. Menyediakannya makanan.


Tapi kemudian dia merasa bersalah karena tidak bisa memakan masakan ini bersama Regina. Apa dia menunggunya pulang?


Setelah mandi, Gian makan di dapur sendirian. Dia tidak ingin membangunkan Regina dan memberitahunya kalau dia sudah pulang. Saat berangkat pun Regina masih tertidur. Dia tidak perlu memberitahukan apa-apa pada Regina. Hubungan mereka tidak seromantis itu. Mereka bukan pasangan asli. Dia juga tidak berusaha menghubungi Regina selama business trip. Selain karena sangat sibuk, gadis itu juga pasti tidak mau tahu apa-apa tentang kegiatannya.


Sop iga di meja sudah dingin, pasti sudah lama sejak dimasak. Gian menghangatkannya terlebih dahulu sebelum memakannya. Baru kali ini Gian mencicipi masakan Regina, sop iga yang dia makan rasanya ringan dan tidak terlalu berlemak. Menghangatkannya setelah lelah beraktivitas dan terjebak kemacetan tadi. Perasaannya tiba-tiba terasa nyaman. Semua masakan Regina dibumbui dengan pas. Satu hal lagi yang Gian ketahui tentang Regina. Dia jago masak.


Memakan masakan rumahan seperti ini mengingatkannya pada Ibu dan Neneknya. Mereka selalu memastikan Gian pergi keluar dalam keadaan kenyang dan pulang sudah tersedia makanan. Namun ketika kedua wanita yang disayanginya meninggal, Gian tidak pernah terlalu berselera untuk makan. Dia hanya akan memasukkan makanan seadanya keperut. Hal-hal yang tak rumit dimasak dan disajikan. Bahkan tak jarang dia melewatkan jam makannya.


Regina terbangun dan kehausan. Saat turun ke dapur, dia melihat Gian yang sedang mencuci piring dan alat makan. Makanan yang dia masak dan simpan di meja sudah menghilang.


“Kamu baru dateng?”

__ADS_1


“Dari sejam lalu.” Kata Gian yang masih sibuk mencuci.


Regina melihat jam dinding di dapur yang menunjukan pukul 11 malam. Dia rupanya sudah tertidur selama hampir 2 jam. Dia tidur sambil menahan kekesalan dan kekecewaan karena selama 3 hari tidak mendapat kabar dari suaminya dan harus menunggunya tak kunjung pulang.


“Kamu yang masak?”


“Gofood.” Jawab Regina ketus. Dia malu kalau harus jujur bahwa dia memasak khusus untuk Gian dan menunggunya pulang. Pasti dia merasa besar kepala karena Regina jadi tiba-tiba perhatian. Lagipula dia pasti tidak peduli. Regina merasa bodoh karena sangat mellow memikirkan Gian beberapa hari kebelakang. Setelah bertemu dengan Gian lagi, dia malah sebal melihat wajahnya. Regina dengan cepat meneguk air putih dan hendak kembali ke kamar.


“Regi,” Kata Gian menghentikan langkah Regina yang akan keluar dapur “Gofood-nya enak. Besok pesan lagi.” Lanjutnya sambil tersenyum. Regina tidak menjawab, melengos pergi ke kamar.


Dikasur Regina tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Mendengar kata-kata pujian dari Gian dan melihatnya tersenyum karena masakannya, membuat Regina senang. Sadar dengan tingkah bodohnya yang terlalu gembira karena ucapan Gian, dia manampar pipinya kemudian membenamkan kepala dibantal.


No! Regina! Jangan baper karena dipuji doang!


...****************...


Regina bangun kesiangan. Pukul 7 dia baru turun dari kamarnya. Dia tidak mendengar Gian dikamarnya. Benar saja, saat Regina masuk ke dapur dia menemukan kotak ukuran sedang berada di meja makan, dengan notes menempel di atasnya.


(Gantiin ongkos buat pesanan gofood kemarin.)


Kotak tersebut cepat-cepat Regina buka. Senyum tersungging dari bibirnya ketika melihat barang yang dihadiahkan Gian. Cleo brushed leather mini bag dari Prada berwarna cornflower blue yang cantik.


“GIAN NYEBELIIIIIIIN!!!” Teriak Regina. Masih sambil tersenyum lebar, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan tersipu. Dia tidak tahu hubungan jenis apa yang terjalin antara mereka. Dengan percakapan-percakapan singkat dan perhatian-perhatian kecil. Mungkin 2 tahun kedepan, dunia Regina tidak sesepi yang dia bayangkan.


......................


...Trivia...


Gian Hadian Airlangga


- Berusia 29 tahun


- Lahir 11 Januari, Zodiak Capricorn


- Cuma dia yang panggil Regina dengan nama Regi


- Introvert


- Ambisius, bakal ngelakuin apa aja buat mencapai tujuannya


- Workaholic, setiap hari kerja bahkan pas weekend

__ADS_1


- Ga punya hobi spesifik


- Dulu punya peliharaan kucing, yang ditelantarkan Arsila karena bosan. Jadi kucingnya diurus Gian.


__ADS_2