Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat

Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat
IKPH . Bab 30


__ADS_3

Kania menemani Satria yang masih mual-mual di kamar mandi. Dia memijat lembut pundak sang suami hingga akhirnya Satria selesai. Satria langsung meminta diantar ke kamar untuk istirahat.


Dibantu Sekretaris Gio, Kania memapah Satria ke kamar yang selama ini menjadi tempatnya menghabiskan malam. Masih tidak menyangka, jika Satria berhasil menyusulnya sampai ke temlat ini.


“Tuan, saya akan carikan dokter untuk memeriksa, Tuan,” kata Sekretaris Gio yang kemudian berjalan keluar.


Sekarang, Satria dan Kania tinggal berdua di kamar. Satria terus menggenggam tangan Kania. Dia masih ingin menahan wanita itu untuk menjelaskan apa yang sebelumnya dia katakan.


“Kanya, Feli berselingkuh, dan aku tidak yakin kalau anak itu adalah anakku.”


Kania menatap suaminya dengan bingung.


“Makanya, aku mau melakukan tes DNA. Setelah perceraian, pengacara akan mendaftarkan pernikahan kita, jadi dia bisa mendapat status hukum sebagai anakku.” Satria mengusap perut Kania yang duduk di tepi ranjang di sampingnya. “Aku harus secepatnya kembali ke kota, kamu mau ikut, ‘kan?”


Satria sangat berharap Kania bisa ikut bersamanya. Dia khawatir dengan keadaan Kania jika istirnya itu tinggal di tempat asing seperti ini.


“Aku tidak mau. Lebih baik kamu selesaikan masalah dengan istri kamu dulu. Aku yakin, Nyonya Feli juga tidak akan tinggal diam,” balas Kania sambil membuang muka.


Wanita itu masih bisa mengingat dengan jelas apa yang Felicia katakan padanya. Jika sekarang dia kembali dan bertemu dengan wanita itu, mungkin Kania akan dihancurkan oleh kebencian Feli, apalagi jika dia tahu Kania sedang hamil.


“Di sini tidak ada yang bisa menjagamu, Sayang. Aku juga tidak mau berjauhan dengan anak kita. Aku mau ....”

__ADS_1


“Selesaikan dulu masalahmu. Baru aku akan kembali.” Kania hendak berdiri mengambil air, tapi Satria langsung meraih tubuhnya dengan gerakan cepat.


Dia merebahkan Kania dan mendekapnya dengan erat.


“Panggil aku Kanya, panggil aku seperti kamu memanggil pria tadi,” kata Satria dengan perasaan cemburunya yang kentara.


“Panggil apa?”


“Yang tadi,” jawab Satria. Dia menciumi wajah Kania dan menyalurkan kerinduannya yang sangat dalam. Satria sangat bersyukur karena bisa menemukan Kania sekarang. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika tidak berhasil bertemu dan tidak akan tahu tentang anaknya.


“Mas. Mas Satria?”


Satria tersenyum dan kembali mencium pipi Kania. Kali ini tatapan mata mereka kembali bertemu.


“I miss you.” Suara Satria terdengar bergetar. Dia masih tidak menyangka ada Kania di hadapannya. “Jangan pergi dariku lagi, Kanya,” kata Satria yang kemudian tidak bisa menahan lagi bendungan air di pelupuk matanya.


Kania merangkul leher Satria dan membiarkan Satria mengungkapkan perasaannya. Wanita itu tahu, pasti Satria sangat kecewa karena pengkhianatan yang dilakukan oleh istrinya.


Cukup lama mereka saling berpelukan di atas kasur itu, hingga akhirnya Sekretaris Gio datang membawa dokter.


“Sebenarnya saya bukan dokter. Saya hanya perawat yang mengabdi di desa ini,” kata wanita yang sudah tidak lagi muda itu.

__ADS_1


“Tapi, Anda bisa memeriksa wanita hamil? Istri saya sedang hamil sekarang!”


Wanita itu tersenyum dan melepaskan stetoskop yang baru saja dipakai untuk memeriksa Satria. “Oh, jadi kehamilan simpatik,” katanya.


“Maksudnya?” Satria dan Kania sama-sama bingung.


“Kehamilan simpatik atau disebut juga sindrom Couvade terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung. Jadi, mual-mual yang Bapak alami itu pengaruh dari kehamilan Ibu. Saya periksa semuanya normal kok. Baiknya, untuk ibu hamil, periksa ke puskesmas saja ya, nanti ada bidan yang akan membantu memeriksa kehamilannya.”


Satria dan Kania saling pandang. Kania tidak menyangka jika Satria bisa ikut merasakan kehamilannya sekarang.


“Kalau begitu, bisakah Anda mengantar kami ke puskesmas?” tanya Satria.


Lagi-lagi wanita itu tersenyum. “Besok pagi saja, datang jam tujuh untuk antre, kebetulan besok ada jadwal USG untuk ibu hamil,” jawab wanita itu.


Satria mengangguk, lalu dia menatap Kania. “Besok kita akan periksakan kehamilan kamu, Kanya. Kalau saja Gio bisa menemukan rumah sakit.” Dia melirik sekretarisnya yang sedari tadi menunggu dengan diam di pintu kamar.


“Tidak apa-apa, puskesmas atau rumah sakit sama saja kok.”


****


Cie yang mau ngeliat dedeknya dari USG. eits, ntar malam harusnya bisa jenguk langsung kan Bang Saaatria 😄😄

__ADS_1


Bisa, asal othor ijinin 🤣🤣🤣


__ADS_2