
Satria dan Kania masih menunggu dokter yang memeriksa keadaan Feli. Saat dari kamar mandi, Kania melihat Gabriel yang sedang membawa minuman, sepertinya dari kantin.
“Mas, itu kayaknya Mas Gabriel,” kata Kania sambil menunjuk seseorang yang sedang berjalan gontai.
“Iya, siapa yang sakit ya?”
Kania lalu memanggil Gabriel dan berjalan mendekati laki-laki itu.
Sebenarnya, Satria sudah tahu bahwa laki-laki itu adalah incaran adiknya, tapi karena malas membantu sang adik, apalagi berurusan dengan Gabriel yang pernah mengaku-ngaku sebagai calon suami Kania.
“Mas Gabriel,” sapa Kania yang kemudian bersalaman dengan Gabriel.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Satria. Dia ikut menyalami Gabriel.
“Kania, kamu kenapa di sini?” tanya Gabriel. Dia memperhatikan bekas luka Kania yang telah mengering dan ikut lega karenanya.
“Kami mau cek kondisi rahim Kania. Ya, setelah keguguran itu, Kania ingin cepat-cepat hamil lagi, ya ‘kan, Sayang?” Satria langsung merangkul pinggang Kania, mempertegas pada Gabriel bahwa Kania adalah miliknya.
“Iya, tadi aku mau cek kondisi rahim setelah keguguran itu, Mas Gabriel kok di sini siapa yang sakit?” Kania balik bertanya. Mereka ada di depan lorong menuju ruangan VVIP dan posisinya Gabriel akan menuju salah satu ruangan itu.
“Oh, ini kakekku yang sakit. Biasa, orang tua,” jawab Gabriel.
__ADS_1
“Oh gitu. Semoga kakekmu lekas sehat ya,” balas Satria. “Oh iya, rumah sakit ini punya kakekku, kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kami membebaskan biayanya, hitung-hitung sebagai balas budi karena sudah menyelamatkan Kania waktu itu.”
Gabriel menatap Satria, tapi belum sempat laki-laki itu menjawab, ibunya sudah menelepon.
“Gab, kamu di mana, Opa nyariin kamu terus nih,” kata Sheina.
“Iya, Mom aku ke sana,” jawab Gabriel sebelum akhirnya mematikan teleponnya. “Aku tinggal dulu ya, betewe enggak usah dibayar. Aku udah bayar kok barusan.” Gabriel menepuk pelan lengan Satria sebelum akhirnya meninggalkannya dan Kania.
“Mas, apa kita jenguk dulu kakeknya Mas Gabriel?” tanya Kania pada suaminya setelah Gabriel meninggalkan mereka.
“Kamu ini menteri sosial apa gimana sih, Kanya? Yang mau tahu keadaannya Feli, mau jenguk kakeknya Gabriel. Terus tujuan kita ke rumah sakit ini untuk apa?” tanya Satria kebingungan.
“Periksa dulu, baru lihat Feli. Urusan kakeknya Gabriel, nanti sajalah,” jawab Satria.
Satria dan Kania akhirnya melakukan pemeriksaan untuk memastikan kesiapan Kania untuk hamil lagi. Sebenarnya, Satria yang paling tidak sabar karena dia ingin segera buka puasa.
Lalu, setelah bertemu dokter, mereka pun bisa bernapas lega setelah mereka dibolehkan untuk merencanakan kehamilan lagi.
“Mas, kamu ‘kan sudah bercerai, bagaimana kalau kita menikah ulang dan kita mulai lagi itunya setelah resmi aja, kamu keberatan?” tanya Kania ragu-ragu.
Sebagai wanita, dia pasti ingin mendapatkan kepastian mengenai posisinya. Apalagi, sekarang sudah tidak ada penghalang antara mereka.
__ADS_1
“Tenang, Sayang. Malam ini kita akan menikah ulang. Aku sudah mengatur semuanya,” jawab Satria sambil merangkul pinggang Kania.
“Apa? Malam ini, Mas? Apa tidak buru-buru sekali?” Kania tentu saja syok mendengar pernyataan suaminya itu. Bagaimana bisa mereka menikah di hari yang sama dengan perceraian Satria?
“Enggak dong. Pokoknya, malam ini kita akan mengulang malam pengantin kita,” kata Satria sembari memainkan alisnya naik turun.
“Mas, malam ini nikah, kita bahkan belum persiapan apa-apa.” Kania masih bingung dengan penjelasan suaminya.
Mana bisa menyiapkan pernikahan dalam waktu yang sangat singkat ini?
“Bisa dong. Aku punya kejutan buat kamu nanti. Yang penting kita resmi dulu, masalah resepsi bisa kita atur,” kata Saria.
Kania tidak bisa berkata-kata lagi. Dia tidak yakin suaminya sedang serius. Orang tua Satria saja sedang berada di Singapura, mana mungkin mereka menikah tanpa orang tua Satria
.
.
.
Selama komennya rame, pasti aku gercep ngetiknya wkkk
__ADS_1