
Hati yang mencintai dengan tulus, pasti akan menangis saat mendengar sang pujaan hati ternyata mengharapkan wanita lain. Karena cinta tulusnya itulah, Alana menangis kencang saat mengadu pada kakak iparnya.
Kania sengaja membiarkan Alana menangis supaya gadis itu merasa lega karena telah mengeluarkan apa yang mengganjal di hati. Kania hanya mendengarkan dan mengusap punggung Alana saat gadis itu bercerita. Setelah dirasa tangisan Alana mereda dan semua unek-uneknya dikeluarkan, istri Satria itu melepaskan pelukannya.
“Jadi, kamu sama Mas Gabriel itu pacaran pura-pura supaya Mas Gabriel bisa membatalkan pertunangannya dengan keluarga Hartono yang sebenarnya adalah kamu?” tanya Kania.
Alana menghapus sisa air mata yang ada. Dia mengernyit sembari menatap Kania penuh selidik.
“Mbak Kania kenal sama Kak Briel?” Alana malah balik bertanya.
Panggilan Kania pada Gabriel itu dirasa terlalu akrab jika digunakan untuk memanggil laki-laki yang hanya sebatas kenal saja.
“Iya, ternyata Mas Gabriel yang kamu suka itu orang yang pernah nolongin aku pas keguguran di kampung,” jawab Kania.
“Apa? Jadi Mbak Kania kenal sama Kak Briel dong?”
“Ya, enggak begitu kenal banget sih, tapi dulu aku masak buat dia juga. Orangnya baik itu saja yang aku tahu.”
Alana kembali menghela napas kasar. “Dia punya wanita lain, namanya Chika. Dari yang adiknya ceritakan, sepertinya memang Kak Briel sangat menunggu teman masa kecilnya itu,” kata Alana yang kembali mengerucutkan bibir.
__ADS_1
“Ya sudahlah Lana, kayak enggak ada cowok lain saja,” sahut Satria yang ternyata sudah pulang kerja.
“Kakak itu jahat banget sih. Di mana-mana yang namanya kakak itu belain adiknya. Harusnya Kakak ngomong dong sama dia, ajak ketemu dulu baru nolak. Ini malah Kakak aneh, orang adiknya suka malah disuruh cari cowok lain,” balas Alana dengan tatapan kesal.
“Alana. Jadi perempuan, harga diri itu nomor satu. Jangan gampangan! Kalau kamu sudah ditolak sebelum mengetahui wajah bahkan nama kamu, itu artinya dia tidak mau menjalin hubungan kekeluargaan dengan kita. Justru, kamu harus bisa membuat dia menyesal karena telah menghina keluarga kita. Tunjukkan kalau kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya.”
Satria sebenarnya sangat kesal karena penolakan Gabriel. Sebagai seorang kakak, Satria tidak bisa menerima penghinaan Gabriel yang menolak mentah-mentah Alana.
Alana sepertinya mendengar dan mencerna semua nasehat kakaknya itu dengan baik. Ya, sepertinya memang sudah cukup dia berusaha mendapatkan Gabriel. Meski sulit, tapi ini adalah waktunya mencari cinta yang lain.
“Kalau bukan jodohnya, memang sekuat apa pun kita mencoba, pasti tidak akan bisa bersama.” Kania mengusap pelan punggung Alana. “Tapi, kalau memang dia jodohmu, takdir akan tetap membawanya sama kamu, Alana. Kamu cantik dan baik.”
“Makasih Mbak, aku akan berusaha lupain dia.” Alana membalas pelukan Kania dan kembali bermanja pada kakak iparnya.
“Dasar Bang Satria bucin!”
“Mas, jangan mulai deh.”
.
__ADS_1
.
.
Seminggu sudah Alana menghilang dari kehidupan Gabriel. Gadis itu memblokir nomornya dan lebih parahnya lagi, Gabriel tidak tahu di mana tempat tinggal Alana.
“Ya ampun, Alana. Aku harus cari kamu ke mana?”
Gabriel galau. Dia menatap ponselnya yang menampilkan riwayat percakapan dengan Alana.
Kakeknya terus mendesak Gabriel untuk melamar Alana, kalau tidak dia harus menerima perjodohan dengan putri dari keluarga Hartono.
“Makanya, jadi cowok itu yang peka. Sekarang, Alana sudah pergi, kamu baru merasa kehilangan, ‘kan?” cibir Sheina yang kini ikut duduk di samping putranya.
“Apa sih, Mom. Siapa yang merasa kehilangan. Cuma aneh saja sih sama sikap Alana. Apa iya dia cemburu?”
.
.
__ADS_1
.
Enggak, cuma ngambek aja Bang, getok nih pakai martil. Mau?