Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat

Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat
IKPH . Bab 80


__ADS_3

Satria benar-benar mengikuti Kania ke kamar mandi. Rasa penasaran membuat laki-laki itu rela mengabaikan rasa jijik saat Kania harus membuang air seni yang sebenarnya sangat menjijikkan.


Kania sendiri merasa risi saat diikuti masuk ke kamar mandi dengan alat tes yang sudah dipegang oleh Satria. Apa iya, dia bisa melakukannya di depan Satria?


“Kamu tunggu di luar aja deh, Mas. Biar aku yang cek sendiri ya,” kata Kania. Dia berusaha mengusir sang suami. Walau bagaimana pun juga Kania tetap merasa malu meski dilihat suaminya sendiri.


“Enggak. Aku di sini, buruan isi wadahnya sama pipis kamu, Sayang!” perintah Satria sembari mengulurkan sebuah tempat mirip gelas kecil yang dipakai untuk menampung air seni sebelum melakukan tes kehamilan.


Meski merasa sedikit keberatan, Kania menurut. Diambillah wadah penampung itu dan dia mulai melakukan tugasnya. Sebenarnya, sedikit susah dan tidak se-leluasa biasanya. Akan tetapi, Kania tetap malakukannya.


Wanita itu membuang muka dan setelahnya menyerahkan cairan kotor itu kepada Satria.


Tanpa banyak bertanya, Satria langsung mengikuti instruksi yang ada dalam wadah alat itu. Sementara Kania melanjutkan bersih-bersihnya.


Tidak lama kemudian, Kania sudah selesai bertepatan dengan Satria yang juga sudah selesai menunggu hasilnya.


“Gimana, Mas?” tanya Kania penasaran. Dadanya sudah berdebar tidak karuan menunggu hasil tes itu terlihat.


Satria membalik meraih alat itu, sedangkan Kania memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.


Semoga aku benar-benar hamil.

__ADS_1


Tiba-tiba Kania merasa ada yang mengecup bibirnya dengan sangat mesra. “Makasih, Sayang.”


Suara Satria terdengar sangat bahagia, sedangkan Kania akhirnya membuka mata dan merasakan pelukan hangat Satria yang rela menunduk demi memeluk tubuh sang istri.


“Makasih gimana, Mas?”


Kania mengartikan ucapan suaminya itu dengan kabar bahagia yang menyatakan kehamilannya. Namun, dia takut salah mengartikan.


“Kita akan jadi orang tua lagi, Sayang.” Satria melepaskan pelukannya dan menangkup wajah sang istri dengan bahagia. “Makasih, Kania.”


Satria lalu berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan perut Kania.


“Hai, Sayangnya Daddy. Kamu baik-baik saja di sana?” Satria mendaratkan kecupan lembut penuh cinta di perut Kania yang kini kembali bersemayam buah cintanya.


Satria masih sibuk mencium perut Kahia. Rasa bahagia yang saat ini Satria rasakan begitu besar. Maklum saja, setelah peristiwa yang membuat Kania keguguran, rasanya masih menyisakan luka yang menganga di hati keduanya.


“Iya, Sayang. Ini hasil kerja keras kita. Hasil keringat kita berdua,” jawab Satria antusias.


Kania mengerutkan kening saat suaminya mengatakan anak dalam kandungannya adalah hasil keringat mereka berdua.


“Mas, kok kamu ngomong gitu sih. Ih bikin malu aja,” kata Kania sembari menyugar rambut sang suami dengan sayang.

__ADS_1


“Ya memang ini hasil keringat kita, Sayang.” Satria kembali mendaratkan kecupan sayang di perut Kania. Rasa syukur dan bahagianya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Satria sangat bahagia dengan kehamilan Kania.


“Tapi kita periksa ke dokter, Mas. Untuk memastikannya kalau aku memang benar-benar hamil.”


Mendengar pernyataan istrinya itu, Satria langsung berdiri dan menatap sang istri dengan antusias.


“Ya, sudah. Ayo ke dokter, kita periksa!” ajak Satria tanpa pikir panjang.


“Ya enggak sekarang, Mas. Nanti aja kalau kita udah sarapan. Memangnya kamu enggak lapar?” tanya Kania yang kini mengerucutkan bibir.


“Oh iya, aku lupa. Ya udah kita makan dulu, jangan sampai anak kita kelaparan. Hasil kerja keras kita tiap hari ini, Sayang.”


Satria menuntun sang istri dengan sangat hati-hati. Laki-laki itu tidak ingin melukai anaknya sedikit pun.


“Sayang, karena kamu sudah hamil lagi, aku jadi tidak sabar mewujudkan keinginan ngidammu nanti,” kata Satria sembari memainkan alisnya naik turun.


“Ya ampun, Mas. Biasanya orang itu paling anti kalau disuruh memenuhi ngidam istrinya. Kenapa kamu antusias sekali, Mas?” Kania kini duduk di sofa, dan bersiap untuk makan siang sekaligus sarapan yang telah mereka lewatkan.


“Karena aku ingin membuktikan bahwa kamu dan anak kita adalah hal paling berharga dalam hidupku, Kania, istriku.”


***

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋


__ADS_2