Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat

Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat
IKPH . Bab 84


__ADS_3

Gabriel jadi salah tingkah dan bingung sendiri karena pertanyaan yang keluar dari mulut Alana. Bagaimana bisa Alana tahu masalah di kampung itu? Apa Satria dan Kania yang menceritakan pada gadis itu?


“Em, sebenarnya, itu cuma ....” Gabriel menghela napas berat. Sedikit merelakskan tubuh untuk bisa berpikir jernih. Seharusnya dia bicara jujur atau tidak?


“Jawab jujur, Kak. Jangan bohong!” sela Alana saat melihat Gabriel kebingungan dengan kata-katanya sendiri.


“Iya-iya, aku jujur. Jadi sebenarnya memang aku sekedar suka waktu pertama kali lihat Kania. Dia kelihatan baik, meski waktu itu banyak masalah. Kalau soal mengakui diri sebagai calon suami Kania itu, sebenarnya cuma salah paham,” jelas Gabriel.


Alana mendengarkan dengan baik apa yang Gabriel ingin jelaskan. Gadis itu memang ingin menguji kejujuran Gabriel, oleh karenanya dia berharap Gabriel akan menjawab semua pertanyaannya itu dengan kejujuran, meskipun kejujuran itu nantinya akan menyakiti hatinya.


“Waktu itu, Kania panik karena bingung dikejar-kejar orang. Aku memang salah juga karena tidak banyak tanya ada apa, malah ikut-ikutan bantu Kania. Ya, waktu dua preman itu datang cari-cari Kania, aku langsung ngaku sebagai calon suaminya dan bilang kalau wajah mereka memang mirip saja, tapi Kania bukan orang yang mereka cari. Aku pikir mereka itu orang-orang jahat yang mau mencelakai Kania. Eh, ternyata, sebenarnya Kania malah lari dari suaminya.”


Gabriel menunduk dan tersenyum mengingat kebodohannya sendiri. Dia yang salah telah buru-buru menilai tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Sama seperti perjodohannya dengan Alana yang buru-buru ditolak sebelum ditemui dulu.


“Aku salah sih, karena buru-buru membantu Kania. Tapi, setelah tahu kalau Satria itu suaminya Kania, aku langsung memperbaiki kesalahanku. Aku cuma kasihan waktu itu, enggak ada niat apa-apa.”


Alana mengerti. Gabriel memang selalu terburu-buru menilai tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Namun, sekali-sekali laki-laki seperti Gabriel memang harus diberi pelajaran supaya lebih bisa menghargai orang lain dari berbagai sudut pandang.


“Makanya, Kak. Lain kali itu, dicari tahu dulu yang bener. Jangan langsung nyimpulin sesuatu seenaknya aja.”

__ADS_1


“Iya, maaf. Jadi, sekarang kamu mau terima aku apa nggak?” Gabriel menaikkan satu alisnya berharap mendapat jawaban positif dari wanita cantik di sampingnya itu.


“Terima apa maksudnya?” Alana sudah berdebar tidak karuan. Apa iya Gabriel akan secepat ini meminta cintanya?


“Terima permintaan maaf aku yang sudah menyakiti bahkan merendahkan harga diri kamu karena menolak perjodohan itu,” jelas Gabriel. “Kamu izinkan aku buat dekat sama kamu lagi, ‘kan?” tanya Gabriel.


Laki-laki tampan yang usianya sudah matang itu pun menatap Alana dengan tatapan memohon. Dia telah menyukai Alana yang ditemui di rumah sakit dengan ekspresi bingung. Sekarang Gabriel mengerti, saat itu Alana pasti hanya mencari-cari alasan supaya bisa dekat dengannya.


Alana berdehem. Tebakannya ternyata salah. Gabriel bukan menanyakan cinta tapi meminta jawaban atas permintaan maafnya. Apa saat ini dia yang terlalu percaya diri?


“Em, gimana ya, aku mau saja sih maafin Kakak, tapi orang tuaku belum tentu, Kak. Apa yang Kakak katakan sama Kak Satria itu pasti melukai hati keluarga kami,” jawab Alana.


“Mas, kayaknya mereka perlu bantuan kamu deh. Kasihan mereka, Mas.” Kania berbisik supaya Alana dan Gabriel tidak mendengar.


“Iya deh iya,” jawab Satria menurut.


Satria dan Kania akhirnya menghampiri Gabriel dan Alana yang sudah membahas masalah keluarga. Satria sendiri juga merasa harus turun tangan karena Gabriel memang pernah terang-terangan menolak adiknya itu.


“Jadi, hubungan kalian bagaimana?” tanya Satria. Laki-laki itu duduk bersebelahan dengan sang istri.

__ADS_1


Namun, fokus Kania bukan pada Gabriel dan Alana, tapi pada seseorang yang tengah berusaha mengambil buah rambutan di taman samping.


“Ya, jadi aku sama Alana ingin mencoba hubungan baru. Tapi, sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu dulu Tuan Satria, karena aku pernah terang-terangan menolak Alana.”


Satria memicingkan mata saat melihat Alana sedang melotot padanya sembari memberikan kode lewat gerakan mata.


Maksud si centil ini apa sih? Aku harus menerima permintaan maaf Gabriel ini, atau malah harus marah dan menolak?


“Kalian ngobrolnya lama banget sih, aku sampai kenyang sendiri nih!” Kenzie muncul sembari membawa beberapa buah rambutan yang dipetik dari pohon milik Satria.


“Kenzie, bentar dulu lagi serius ini aku!” sela Gabriel yang masih menanti jawaban Satria.


Sementara Satria masih bingung dengan kode yang diberikan oleh adiknya itu pun akhirnya menjawab, “Tidak semudah itu kami memaafkan, Tuan Gabriel. Buktikan saja kalau kamu layak dimaafkan.”


Alana semakin melotot pada kakaknya. Sepertinya, Satria salah mengartikan kode yang diberikan oleh adiknya itu.


***


Kembang kopinya jangan lupa.. Happy weekend.. Hari minggu waktu santai ya ges 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2