Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat

Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat
IKPH . Bab 73


__ADS_3

Atas saran Satria, Alana akhirnya mulai membantu Alfaro di Singapura. Sebenarnya dia sangat tidak suka bekerja di kantor, tetapi Alana tetap melakukannya untuk bisa melupakan Gabriel.


Sementara itu, Gabriel sedang kebingungan mencari Alana. Meski tidak terlalu mengenal gadis itu, tetapi Gabriel merasa sangat kehilangan sosoknya. Alana begitu ceria, tulus dan apa adanya. Gadis yang mudah bergaul dan mendapat tempat di hati keluarganya itu telah membuat Gabriel merasakan rindu yang menyiksa.


“Alana, apa kamu benar-benar membenciku sekarang?”


Gabriel benar-benar kehilangan jejak Alana. Dia sama sekali tidak mendapat petunjuk tentang keberadaan pacar pura-puranya itu sampai saat ini.


Meski melihat putra mereka gundah mencari Alana, tetapi Bara dan Sheina juga tidak mau memberitahu keberadaan dan jati diri Alana yang sebenarnya pada Gabriel.


“Biar saja, Gabriel itu harus menyadari pada siapa cintanya tumbuh,” kata Sheina saat melihat Gabriel merenung sendirian di meja makan.


“Dia gengsinya besar sepertimu,” balas Bara.


“Hei, siapa yang gengsi. Aku sama Gabriel itu beda, Dad. Kalau Gabriel itu sama seperti kamu, sok kecakepan.” Sheina tidak terima dengan pendapat suaminya yang menganggap karakter Gabriel mirip dengannya, padahal semua orang juga tahu kalau Gabriel itu bisa dibilang duplikat Bara.


Sheina dan Bara sibuk bertengkar sampai-sampai mereka tidak menyadari ada Gabriel yang mendengar perdebatan mereka.


“Mommy sama Daddy ributin apa sih? Kenapa bawa-bawa aku?” tanya Gabriel yang tiba-tiba muncul di depan kedua orang tuanya, dan membuat pasangan paruh baya itu gelagapan.


Putra sulung Bara itu berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang menonton siaran televisi.

__ADS_1


“Eh, enggak kok, Gab. Biasa Daddy kamu ‘kan emang nyebelin gini.” Sheina mencubit perut Bara, jangan sampai Bara keceplosan soal Alana.


“Mommy, udah ngajak tidur. Biasa, pengen dimanja-manja, Gab. Padahal Daddy masih mau lihat debat nih, seru banget.” Bara mengedipkan sebelah mata pada putranya sebagai kode.


“Ih, fitnah banget sih, Dad.” Sheina melotot tidak terima dengan ucapan Bara.


“Mommy sama Daddy apaan sih. Anaknya lagi galau bukannya dibantuin, malah sibuk banget nambah anak,” sela Gabriel. Dia memilih duduk di antara kedua orang tuanya.


“Ya, itu ‘kan salah kamu sendiri, Gab. Mommy lihat kamu kayak enggak tulus gitu sama Alana, kalau mommy jadi Alana, pasti mommy juga putusin kamu setelah dengar nama perempuan lain,” balas Sheina.


Wanita itu malah membela Alana yang notabene sama-sama perempuan. Sebagai ibu, Sheina ingin anak-anaknya bisa menghargai perasaan perempuan, apalagi Alana terlihat tulus menyayangi Gabriel.


“Aku sama Chika ‘kan cuma teman, Mom. Ya, aneh aja sih si Alana. Kenapa dia cemburu?” Gabriel mengerutkan kening.


Gabriel mendengarkan cerita sang ayah dengan serius.


Ya, memang Bara dulu pernah kehilangan Sheina bertahun-tahun sehingga apa yang dikatakannya adalah cerminan hatinya dulu.


“Aku enggak mau menyesal, Dad. Aku akan cari Alana sampai ketemu.”


“Kalau tidak ketemu, kamu mah dijodohkan sama keluarga Hartono?” tanya Sheina.

__ADS_1


Gabriel menghela napas. “Enggak, Mom. Aku akan berusaha mendapatkan Alana lagi.”


.


.


.


Acara resepsi pernikahan Satria dan Kania sudah semakin dekat. Dua manusia itu semakin sibuk dengan perlengkapan pesta, terutama Kania. Wanita itu benar-benar mewujudkan semua yang dia inginkan dalam pernikahan. Mulai dari dekorasi, kue, undangan, souvenir dan segala macamnya semua pilihan Kania sendiri.


“Sayang, bagaimana persiapan pernikahan kita?” tanya Satria memulai obrolan.


Saat ini, mereka baru selesai makan malam dan bersiap untuk tidur. Namun, Kania masih sibuk dengan beberapa desain undangan yang akan dipakai untuk mengundang teman, keluarga dan juga rekan bisnis Satria.


“Ya, masih beberapa yang belum fix, Mas. Ini saja aku masih bingung mau undang teman-teman aku atau enggak,” jawab Kania yang kemudian menghela napas berat.


“Undang semua, Sayang. Pokoknya aku mau semua orang tahu kalau kita sudah menikah.” Satria merapatkan tubuh pada Kania dan ikut melihat-lihat desain undangannya.


Laki-laki itu sengaja memeluk Kania dengan tangan yang terus bergerak bebas menggenggam dua benda kenyal istrinya. Padahal, mata Satria fokus pada gambar-gambar undangan.


“Mas, tanganmu nakal deh,” protes Kania yang mulai merasa dibangunkan hassratnya.

__ADS_1



Ramein komennya dong, semangat up mulai kendor nih 😂😂😂


__ADS_2