Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat

Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat
IKPH . Bab 60


__ADS_3

Satria mengunci rapat pintu kamarnya bersama Kania. Dia tidak mau mendapat gangguan dari adiknya sendiri karena setelah keguguran itu, Kania dan Satria memang belum merasakan lagi surga dunia pernikahan.


Sebagai laki-laki yang normal, Satria tentu ingin dimanja-manja dan juga merindukan kenikmatan yang dimiliki oleh Kania.


“Harusnya sekarang kita bisa merayakan kebebasan aku ya, Kanya,” kata Satria sambil memeluk tubuh Kania. Dia ingin meluapkan kebahagiaannya pada Kania karena hakim telah mengetuk palu atas perceraiannya dengan Feli.


“Maaf ya, Mas.” Kania menunduk. Dia merasa bersalah karena tidak bisa melakukan tugas sebagai istri dengan baik.


“Hei, enggak apa-apa, Sayang. Lagian kamu masih sakit. Aku mau ajak kamu ke rumah sakit buat cek kesehatan kita. Supaya kita bisa merencanakan kehamilan lagi. Kamu mau, ‘kan?” tanya Satria.


Satria menangkup wajah Kania hingga wanita itu bisa melihat ke dalam mata suaminya. Kania bisa merasakan ketulusan dan rasa cinta Satria lewat tatap matanya itu. Ia juga tahu, Satria pasti sudah tidak tahan ingin bercuumbu dengannya.


Kania tiba-tiba mencium bibir Satria dan menahan tengkuk laki-laki yang lebih tinggi darinya itu. Dia ingin membantu suaminya melampiaskan hassrat yang memang menjadi tugasnya.


Satria yang mulai terpancing hanya bisa pasrah dengan perlakuan sang istri yang akan membawanya pada kenikmatan. Dia turut membantu saat Kania melepaskan seluruh pakaiannya dan akhirnya menggenggam miliknya. Namun, saat Satria bergantian melepas pakaian Kania, wanita itu hanya mengizinkan bagian atasnya saja.


“Kenapa?” tanya Satria dengan raut menahan gejolak asmara yang mulai naik karena digoda Kania.


“Masih puasa, Mas. Atasnya saja boleh, aku bantuin aja, ya.”


Mau menolak tapi tanggung, Satria pun mengiyakan dan akhirnya dia bisa melepaskan apa yang seharusnya dikeluarkan berkat bantuan Kania.

__ADS_1


.


.


.


Seperti janjinya, Satria mengajak Kania ke rumah sakit untuk kontrol kondisi rahimnya pasca keguguran. Saat baru sampai di parkiran, Kania melihat seorang wanita yang baru ditarik keluar dari ambulans.


Kania melihat jelas wanita itu dan seketika matanya terbelalak sempurna saat menyadari bahwa wanita itu adalah Felicia.


Kania langsung membuka pintu mobil saat mobil Satria berhasil parkir.


“Kanya, kamu mau ke mana?” tanya Satria saat sang istri terburu-buru keluar dari mobil.


Menyeberang dengan buru-buru membuat Kania hampir saja tertabrak. Untung saja, Satria degan cepat menarik tangan Kania dan memeluknya.


“Kanya, kamu malah membahayakan diri kamu sendiri kalau cerboboh gini,” kata Satria yang masih memeluk Kania dengan erat.


Jantung Satria berdebar keras karena hampir saja Kania mengalami kecelakaan di depan matanya. Pun demikian dengan Kania yang juga merasakan dadanya berdegup kencang.


“Maaf, Mas,” ucapnya dengan lirih.

__ADS_1


“Hati-hati, Kanya. Aku enggak mau kamu kenapa-kenapa.” Satria melepaskan pelukannya pada tubuh Kania dan mereka kembali bertatapan mata.


Kania mengangguk dan kembali meminta maaf.


Lalu, mereka pun masuk ke gedung rumah sakit. Kania yang penasaran dan ingin memastikan apa yang terjadi pada Feli, akhirnya memaksa Satria untuk menjenguk Feli terlebih dahulu. Namun, karena baru dibawa masuk UGD, mereka masih harus menunggu informasi dari dokter setelah selesai pemeriksaan untuk tahu keadaan Feli.


Sementara itu, di tempat lain, Gabriel terpaksa kembali ke ibu kota karena kakeknya sedang sakit parah. Gabriel adalah cucu kesayangan sang kakek karena hampir semua sifat dan hobi mereka sama. Apalagi kecintaan mereka terhadap ikan.


“Gabriel, apa opa akan segera mati?” tanya kakek Gabriel sambil menahan napasnya yang mulai ngos-ngosan karena sakitnya itu.


“Opa kenapa bilang begitu sih? Opa pasti akan sehat-sehat sampai Gabriel punya anak yang lucu-lucu. Nanti kita ajak anak-anak Gabriel buat mancing ikan di kolam Opa ya,” jawab Gabriel.


“Kamu menikah saja belu, kapan kasih cucunya,” balas sang kakek sambil melengos.


“Biel itu ditaksir sama anaknya teman daddynya, Pa. Tapi, malah dia tolak sampai kabur ke kampung, padahal belum lihat orangnya,” sahut Sheina yang sedang membereskan wadah bekas makanan mertuanya.


“Kamu sok kegantengan nolak perempuan, persis papamu.” Sorot mata sang kakek nampak begitu kecewa.


“Ya, habisnya kayak jaman siti nurbaya saja dijodohin, apalagi Daddy bilang umurnya sepuluh tahun di bawah aku. Nanti dia panggil aku bukan mas atau kak, tapi om, kan malu-maluin, Opa.”


***

__ADS_1


Ramein dong komennya biar aku semangat 😭😭


__ADS_2