
Seorang gadis kecil berusia dua tahun sedang menggoyangkan tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama musik. Gadis cantik yang diberi nama Tanisa itu menirukan gerakan bibinya yang sedang berjoget di depan televisi besar.
“Ya ampun, Alana.”
Nenek dari Tanisa berteriak kaget saat tahu cucu kesayangannya sedang diajarkan yang tidak-tidak oleh sang bibi. Bagaimana bisa Alana membiarkan Tanisa mengikuti gerakannya yang sedang berjoget mengikuti tren masa kini.
“Momy, Tanisa keren banget ya, bisa joget-joget gini,” balas Alana tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia mengajarkan keponakannya berjoget tanpa sepengetahuan kakaknya. Jika saja Satria tahu, maka bisa dipastikan laki-laki itu akan memarahinya habis-habisan.
“Alana. Apa-apaan sih kamu ini? Tanisa itu masih kecil, jangan diajari yang tidak-tidak!” Momy Anna langsung mematikan musik dan menggendong Tanisa yang masih asyik berjoget.
“Oma, Oma, no!” teriak Tanisa yang masih ingin berjoget seperti tantenya.
“Tanisa, jangan ikut-ikutan Onty ya! Nanti Momy sama Dady marah!” pinta Momy Anna yang tidak ingin cucunya terpengaruh oleh Alana. Nenek muda itu menyelamatkan cucu tunggalnya dari pengaruh buruk putrinya sendiri.
“Momy, mama papanya Tanisa itu lagi sibuk bikin adik buat Tanisa,” sahut Alana sambil terkekeh geli.
__ADS_1
Momy Anna menutup telinga cucunya dengan tangan supaya tidak mendengar ocehan tidak penting yang keluar dari mulut Alana. “Onty Lana kalau ngomong nggak pakai saringan, Sayang. Jangan didengarkan ya!” kata Momy Anna sembari menggendong Tanisa menuju kamar orang tuanya.
Setelah sampai di depan kamar putranya dan menunggu cukup lama, akhirnya si empunya kamar keluar juga. Laki-laki itu membuka pintu sambil memakai kausnya dengan ekspresi cengar-cengir.
“Momy kenapa? Tadi aku titip Tanisa sama Alana, kok sekarang bisa sama Momy?” tanya Satria yang baru saja menyelesaikan misi mulia bersama Kania.
“Kenapa dititipin Alana? Kamu tahu nggak, sama dia diajarin apa? Masa Tanisa diajarin joget-joget sih.” Momy Ana mulai mengomeli Satria yang sudah bisa ditebak baru saja melakukan usaha untuk memberi adik pada Tanisa.
“Edy, Edy mau oget ama Onty,” kata Tanisa antusias.
“Jangan ngomong yang enggak-enggak sama anak!” ancam Momy Anna sebelum meninggalkan kamar Satria.
Sementara itu, Alana mendapat telepon dari suaminya bahwa laki-laki tampan nomor satu di dunia menurutnya itu sudah sampai di bandara. Dengan panik, Alana segera bersiap-siap untuk menjemput Gabriel ke bandara.
“Kamu mau ke mana, Lana?" tanya sang ibu yang heran melihat tingkah putrinya.
__ADS_1
"Mau ke bandara, Mom. Jemput Kak Biel," jawab wanita itu yang kemudian pergi begitu saja setelah mencium kedua pipi ibunya.
Alana langsung tancap gas menuju bandara, menemui suaminya yang seminggu ini pergi menyisakan rasa rindu.
Saat sampai di bandara, mata Alana tertuju pada sosok laki-laki yang tengah mengobrol bersama seorang wanita, sepertinya mereka juga sama-sama dari luar negeri.
"Kak Biel," sapa Alana dengan lemas. Tak bersemangat seperti waktu akan berangkat tadi.
"Hai, Sayang. Eh iya, Chika. Kenalkan ini istriku, Alana," kata Gabriel memperkenalkan Alana pada Chika.
"Hai, Alana. Senang bertemu denganmu," kata Chika sembari mengulurkan tangan.
Oh, jadi ini yang namanya Chika. Ya ampun, emang cantik banget sih. Tapi, kenapa mereka bisa kebetulan bersama di tempat ini. Apa jangan-jangan mereka juga datang dari negara yang sama?
**
__ADS_1
Loha, maaf telat kasih bonchap. Hehe maklum othornya sok sibuk 😄 Gimana? Lanjut gak nih, ramein dulu komennya baru aku tambah 😄😄😄