
Alana awalnya menolak permintaan Gabriel. Dia sudah berjanji pada Satria akan menjadi perempuan yang tidak murahan dan harus berkelas. Setidaknya, kata Satria tipe idaman Gabriel adalah perempuan seperti itu.
“Aduh, gimana ya, Kak. Kita ‘kan baru kenal, apa nggak ....”
“Please, Alana. Cuma pura-pura saja kok, aku itu enggak mau nikah dijodoh-jodohin gitu. Aku janji, apa pun permintaan kamu pasti aku kabulkan. Please, ya!”
Gabriel memohon pada Alana. Semua karena dia belum menemukan wanita yang sesuai dengan standartnya sebagai pasangan.
“Aku cuma punya satu keinginan sih seumur hidupku, tapi aku sendiri bahkan enggak yakin bisa mewujudkannya. Mungkin aku bukan orang yang tepat buat jadi pacar pura-pura Kakak,” balas Alana jual mahal. Walaupun dalam hati sudah sangat gemas ingin langsung mengiyakan.
“Ayolah Dek Alana yang cantik dan lucu, aku belum ketemu sama jodoh. Mungkin karena terlalu ganteng jadi banyak yang minder. Aku janji deh, apa yang kamu minta pasti aku turuti.” Gabriel memainkan alisnya naik turun.
Alana menghela napas berat sebelum akhirnya mengangguk. “Oke, tapi janji ya apa yang aku minta Kakak turuti, enggak boleh ingkar janji!”
“Iya, janji. Jadi, kamu diam saja dan iyakan kalau keluargaku tanya. Pokoknya kita pura-pura kalau kita baru dekat, hampir pacaran. Oke?” Gabriel mengulurkan tangan, membuat kesepakatan dengan Alana yang sudah bersorak-sorak dalam hati.
“Oke. Tapi, kalau cuma sekali aku rasa keluargamu enggak akan percaya, Kak. Kita bisa beberapa kali kok pura-puranya. Karena sesuatu yang aku minta ini sangat berat.”
“Hem, benar juga sih kamu. Oke, deal kita lakukan beberapa kali, sampai orang tuaku berhenti menjodohkan aku dengan anak manja itu.”
Dia bilang aku manja, padahal dia belum ketemu aku. Dasar, untung dia ganteng, kalau enggak ....
__ADS_1
Gabriel dan Alana kembali ke ruangan sang kakek untuk bertemu dengan laki-laki tua itu. Alana sekarang benar-benar bahagia. Ditolak saat belum bertemu secara langsung, tapi malah diajak pura-pura pacaran. Setidaknya, Gabriel tidak menolak kecantikannya, ‘kan?
“Sheina, kalau Gabriel sudah punya pacar, bilang sama Bara buat berhenti menjodohkannya dengan keponakan temannya itu. Keluarga kita tidak ada silsilahnya dijodoh-jodohkan,” kata sang kakek yang kini duduk di tepi ranjang.
“Iya, Pa. Nanti Shein bilang sama Bara.”
Yes misi berhasil. Memang sepertinya aku dan Alana harus lebih banyak bersama mengunjungi Opa, supaya lebih meyakinkan lagi.
.
.
.
“Kamu yakin enggak mau aku antar pulang saja?” tanya Gabriel saat Alana minta berhenti.
“Enggak usah, Kak. Ada barang yang mau aku beli di sini. Biasa kalau perempuan ngemal itu enggak akan cukup setengah jam.”
Gabriel manggut-manggut membenarkan apa yang Alana katakan, karena adiknya sendiri juga sangat lama jika sudah terjun ke dalam surga belanja.
“Oke. Nanti kalau aku butuh aku telepon kamu ya,” kata Gabriel.
__ADS_1
“Oke, Kak. Sudah kayak cewek panggilan aja.” Alana terkekeh sebelum akhirnya keluar dari mobil Gabriel.
Sementara itu, Felicia yang juga dirawat di rumah sakit yang sama dengan kakek Gabriel, saat ini sedang menangisi nasibnya yang harus kehilangan calon bayi. Wanita itu mengalami keguguran saat taksi yang dinaikinya menabrak pembatas jalan.
Andrew yang baru datang dari luar negeri, langsung menemui wanita itu di ruang perawatannya.
“Feli, sudah enggak usah nangis terus. Mungkin ini juga karma dari mamamu yang sudah tega membuat istri mudanya suami kamu keguguran,” kata Andrew.
“Ya, tapi aku bahkan enggak tahu rencana mamaku, Andrew. Sekarang aku bahkan enggak bisa manfaatin Satria lagi karena anak ini sudah pergi.”
“Fel, kamu itu harusnya sadar. Itu anakku, bukan anak Satria.”
Nada bicara Andrew setengah berteriak. Dia sudah kehilangan calon anaknya, dan Feli malah terus mengakui anak itu adalah milik Satria.
.
.
.
Sabar ya Bang Andrew, ntar bikin lagi.. Tapi, jedotin dulu tuh si Feli yang gak sadar diri, ya 🤣🤣🤣
__ADS_1