
Satria tidak berkutik karena ciuman Feli yang sejujurnya memang membuat hassratnya naik. Akan tetapi, dia langsung menyadarkan pikirannya bahwa Feli telah mengkhianatinya. Dia tidak ingin merasakan sesuatu yang telah dinikmati orang lain, walaupun dia baru menyadari sekarang.
Satria mencari cara supaya Feli mau melakukan tes DNA yang tidak akan disadarinya.
“Fel. Aku tahu kalau anak aku pasti kuat, tapi tolong mengerti rasa khawatir aku. Aku hanya takut kalau dia kenapa-napa, apalagi kehamilan kamu masih sangat muda.” Satria membaringkan tubuh Feli di sampingnya dan dia langsung bangun untuk menarik selimut.
“Kok kamu gitu sih, Sat. Aku tuh lagi pengen, dedeknya juga pasti pengen banget dijenguk papanya. Apa karena wanita itu, kamu enggak berselera lagi sama aku?” tanya Feli dengan kesal. Wajah cemberutnya selalu menjadi andalan karena Satria yang dulu tidak akan pernah mengizinkan wajah sedih atau marah menghiasi kecantikannya.
“Sayang. Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Kanya. Aku itu benar-benar khawatir sama keadaan kamu. Gini aja, besok kita tes lengkap kondisi kamu dan anak kita. Setelah hasilnya keluar baik-baik saja. Baru kita lakukan, oke.” Satria memainkan alisnya dengan senyum menawan.
Dia sangat luar biasa dalam hal wajah, tapi entah kenapa Feli masih saja memilih mengkhianatinya. Padahal, Satria adalah sosok suami yang sangat sempurna.
“Ya udah, terserah kamu aja. Aku yakin kok semuanya baik-baik aja,” balas Feli yang membuat Satria semakin tersenyum lebar.
Akhirnya, aku bisa mendapat alasan yang bagus untuk melakukan tes DNA tanpa Feli atau mamanya tahu.
***
__ADS_1
***
Felicia dan Satria ke rumah sakit bersama Sekretaris Gio. Sementara itu, Andrew juga menjalani pemeriksaan di rumah sakit yang lain.
Setelah melakukan registrasi, mereka langsung menemui dokter ahli kandungan yang pernah memeriksa keadaan Felicia. Dokter perempuan itu telah diatur oleh Satria dan sekretarisnya supaya mereka bisa melakukan pemeriksaan DNA untuk bayi Feli.
“Kondisinya cukup, tapi kalau mau pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan tidak ada masalah yang serius, lebih baik menjalani tes NIPT.” Dokter masih memeriksa kandungan Felicia melalui USG.
“Apa itu NIPT, Dok?” tanya Feli yang tiba-tiba ikut tegang.
“NIPT adalah bentuk tes skrining yang bertujuan untuk mengidentifikasi kelainan kromosom pada bayi yang belum lahir, yang dapat diindikasikan dengan menguji darah ibu,” jawab dokter itu dengan sangat jelas.
“Sayang, aku takut,” kata Felicia dengan jantung yang berdebar keras. Dia turut khawatir karena dokter sepertinya sangat serius.
“Tenanglah, Fel. Kita akan lakukan apapun demi kesehatannya. Aku tidak akan membiarkan anakku menderita, jangan khawatir ya, kita ikuti saja tesnya.”
Mau tidak mau, Feli menurut dan mengizinkan dokter mengambil darahnya untuk memeriksa DNA janinnya.
__ADS_1
“Kamu harus temani aku terus, Sat. Aku takut.” Feli terus memeluk erat Satria saat jarum itu menembus kulitnya.
“Tahan, Fel. Ini adalah perjuanganmu untuk anak kita,” balas Satria sambil mengusap kepala Feli yang sedang memeluk perutnya dengan satu tangan.
Mereka akhirnya selesai melakukan pemeriksaan, dan Sekretaris Gio menebus obat dan vitamin yang diresepkan dokter.
Saat Sekretaris Gio kembali, tiba-tiba ponsel Feli berdering dan dia langsung mengangkat telfon dari mamanya itu.
“Fel, kamu di mana?” tanya Lily tanpa basa-basi. Suaranya terdengar gusar karena mencemaskan sesuatu.
“Aku baru selesai dari rumah sakit, Ma. Ada apa?”
“Apa kamu tahu, Satria sudah melayangkan gugatan cerai di pengadilan dan sekarang kamu mendapat surat panggilannya, Fel.”
Kelopak mata Feli terbuka sempurna dan dia langsung menatap sang suami yang masih duduk di sampingnya.
Kenapa? Kenapa se-mendadak ini? Ada apa sebenarnya?
__ADS_1
Mohon maaf ya, othornya slow update.. Insya Allah besok diusahakan crazy up ya.. mohon pengertiannya wkkk