
Kania sangat bahagia karena Satria yang pagi-pagi sudah memberi kejutan dengan tiba-tiba datang. Meski awalnya dia merajuk, tapi dia tidak bisa tahan dengan pesona dan kehangatan suaminya itu.
Satria mencium gemas perut Kania yang usia kehamilannya masih sangat muda. Laki-laki itu sangat menyayangi anak yang masih ada dalam kandungan Kania.
Sebagai perempuan, tentu saja Kania merasa sangat dicintai dengan perlakuan-perlakuan manis satria yang ditunjukkan padanya.
“Kamu enggak rewel ‘kan ditinggal daddy,” kata Satria yang seolah berbicara dengan bayi yang mungkin belum terbentuk sempurna itu.
“Enggak dong, ‘kan anak baik. Daddy juga enggak muntah-muntah lagi, ‘kan?”
Kali ini tatapan Satria mengarah pada wanita yang telah membuatnya tersadar, mana cinta yang benar-benar cinta, dan mana yang hanya obsesi.
“Enggak, Sayang.” Satria berdiri menyejajarkan tingginya dengan Kania yang sebenarnya hanya setinggi telinganya. “Mungkin dia tahu, kalau aku mual-mual enggak ada kamu, enggak akan ada yang mijitin pundak aku,” kata Satria yang kemudian mendaratkan ciuman mesra di bibir Kania.
Sudah cukup lama mereka berpisah, walau masih dalam hitungan hari, tapi tetap saja, Satria sudah terlanjur kecaanduan dengan bibir Kania yang manis. “Aku kangen kamu, Kanya,” bisiknya yang terdengar seensual di telinga Kania.
“Mas ....” Kania mendeesah saat Satria meniup telinga dan lehernya dengan napas yang memburu.
__ADS_1
Sebagai laki-laki normal yang memiliki hassrat tinggi, Satria tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya saat berhadapan dengan Kania yang sangat dia rindukan.
“Aku mau masak, Mas.” Kania berusaha menghindar karena saat ini mereka masih berada di dapur. Bisa saja, pengawal Kania ataupun Sekretaris Gio tiba-tiba datang dan melihat kemesraan mereka.
“Ya sudah, habis masak ya,” balas Satria dengan kerlingan nakal di matanya.
Kania tersipu malu karena tingkah suaminya itu. Dia langsung mengeluarkan sayuran yang dibelinya tadi, mencoba menetralkan debaran di jantungnya yang semakin lama semakin tidak karuan karena berada di dekat Satria.
Selama memasak, Satria terus menggoda Kania. Kejahilannya pada sang istri ternyata membuat kadar bahagia dalam diri Satria meningkat. Dia baru ini merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Bahagia yang dari dulu sangat dia impikan, dan Kania berhasil mewujudkannya.
Setelah masakannya matang, Kania mengajak Sekretaris Gio untuk makan, tapi Satria memelototi ketiga anak buahnya itu.
“Maaf, Nona. Kami makan di depan saja sambil menonton TV, lebih seru kayaknya,” tolak Sekretaris Gio mencari alasan yang tepat untuk tidak ikut makan. Daripada berurusan panjang dengan bosnya yang sedang bucin.
Sekretaris Gio dan dua pengawal Kania itu mengambil piring dan makanan secukupnya, lalu secepatnya pergi sebelum mata Satria melompat dari tempatnya.
“Kamu jangan jahatin mereka begitu dong. Kasihan mereka, Mas.” Kania memasang raut cemberut pada suaminya.
__ADS_1
“Aku cuma mau berduaan sama kamu. Biar saja mereka makan bertiga,” balas Satria acuh tak acuh.
“Kamu cemburu ya, Mas,” goda Kania. Dia tahu sikap suaminya itu karena tidak mau Kania berdekatan dengan laki-laki lain, dan itu artinya suaminya memang mencemburui anak buahnya sendiri.
“Memangnya kalau cemburu salah? Kamu ‘kan istriku.” Satria mendengus. Tujuannya datang menemui Kania tiba-tiba memang karena dia tidak suka Kania berdekatan dengan Gabriel.
Kania senyum-senyum sendiri karena pengakuan jujur suaminya. “Kamu manis banget sih, Mas. Pantas aja gula di sini rasanya hambar,” kata Kania sambil menggigit bibir bawahnya yang semakin menggoda hassrat Satria.
“Kamu mulai gombalin aku ya.” Satria berdiri dari kursi makan dan langsung melahap bibir Kania.
Siap tidak siap, Kania membalas ciuman Satria yang begitu menuntut. “Sarapan nanti saja, aku mau sarapan yang lain,” kata Satria yang kemudian menutup makanan di meja itu dengan tudung saji.
“Tapi, Mas.” Kania ingin menolak karena dia sudah lapar, tapi Satria keburu menggendongnya.
“Terlambat, Sayang. Salah siapa godain aku,” balas Satria yang kemudian membawa Kania ke kamar mereka.
***
__ADS_1
Cie yang pagi-pagi udah traveling.. maapken Bang Satt ya, soalnya kan dia emang butuh pelampiasan wkkkk sesuai judul..
Kembang kopi sama votenya mana dong, sepi banget, semangatin aku 😭