
“Bukan masalah caranya yang legal atau ilegal. Yang paling penting itu adalah hasilnya. Dia bukan darah dagingku.”
Satria dan pengacaranya tersenyum mengejek Feli yang tidak mengerti tata cara dalam persidangan. Hakim pun meminta Feli untuk menyampaikan keberatannya dalam sidang berikutnya.
Setelah Satria menyampaikan semua bukti dan alasannya menceraikan Feli, akhirnya sidang akan dilanjutkan beberapa hari lagi.
Semua orang keluar dari ruang persidangan, begitu juga dengan Feli dan Satria. Dua orang yang masih berstatus suami istri itu berdiri saling berhadapan dengan mata yang sama-sama saling menatap.
Tiba-tiba beberapa orang polisi mendatangi mereka dan memberikan surat penahanan pada Lily. “Selamat siang, Saudari Lily. Anda kami tahan atas tuduhan penganiayaan yang dilaporkan oleh Saudari Kania.”
“Apa!? Saya tidak melakukan apa-apa kok.” Nyonya Lily mengelak. Dia memang tahu bahwa orang suruhannya tertangkap, tapi di sangat yakin bahwa tidak ada bukti apa pun yang bisa menyeretnya dalam kasus itu.
“Ma, penganiayaan apa?” tanya Felicia yang tidak tahu apa-apa mengenai kejahatan yang dilakukan oleh sang ibu.
“Mama difitnah, Fel. Saya tidak melakukan apa pun, Pak.” Nyonya Lily tetap tidak mau mengakui perbuatannya. Bahkan, kepada anaknya sendiri pun wanita itu tetap tidak mau mengaku.
“Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi. Silakan hubungi pengacara!” perintah polisi itu pada anak buahnya. Mereka kemudian membawa Nyonya Lily ke mobil polisi yang sudah siap di depan mereka.
“Feli. Kamu harus cari pengacara yang bagus buat mama,” teriak Nyonya Lily saat dibawa paksa.
“Bayar pengacara uang dari mana, Ma?” Felicia tiba-tiba merasa lemas.
__ADS_1
Satria hanya menonton sambil melipat kedua tangan di dada.
“Sat, tolongin, Mama. Mama enggak salah!” pinta Felicia meski dia tahu itu akan sia-sia saja.
“Mama kamu sudah membunuh anakku. Kamu juga sudah berselingkuh sampai hamil dengan laki-laki lain. Sekarang kamu minta aku buat menyelamatkan mama kamu? Hidupkan lagi anakku baru aku akan mengeluarkannya dari penjara,” jawab Satria dengan tatapan dingin. Matanya menatap benci pada wanita yang telah menemaninya selama delapan tahun itu.
“Ini anak kamu, Sat. Tega banget kamu enggak mau mengakuinya. Hanya karena pelaacur itu kamu tega, enggak mau mengakui anak kita.” Feli mulai menangis. Kedua tangannya dipakai untuk menutupi wajahnya yang dibuat sesedih mungkin.
“Tidak usah banyak bersandiwara Feli. Itu bukan anakku. Kemasi barang-barang kamu, karena rumah itu aku beli sebelum menikah denganmu.”
“Apa? Aku mau tinggal di mana, Sat. Kamu kejam banget sama aku. Aku masih istri sah kamu.”
“Gio.” Felicia berusaha menahan Sekretaris Gio tapi sia-sia.
“Itu kesalahan Anda sendiri, Nyonya.” Sekretaris Gio menepis tangan Feli dan mengikuti langkah tuannya meninggalkan pengadilan.
Feli sendirian. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang. Sebagai istri sah, kini di mata Satria dia tidak lebih berharga dari sampah di jalanan karena kesalahannya sendiri.
.
.
__ADS_1
.
Kania sudah diperbolehkan pulang sekarang. Dia dijemput oleh suaminya yang memasang wajah tampannya setelah berhasil mengirim mertuanya sendiri ke penjara.
“Kenapa kamu terlihat sangat bahagia, Mas?” tanya Kania yang sedang duduk di sofa menunggu suaminya menjemput.
“Karena kamu sudah sehat sekarang. Perban kamu juga sudah dilepas, sehingga kamu terlihat lebih cantik,” jawab Satria yang diiringi pujian kepada Kania.
“Kamu gombal banget sih, Mas.”
“Aku enggak lagi gombal kok. Kamu memang cantik. Sekarang kita pulang ke rumah ya!” ajak Satria lalu membantu Kania berdiri.
“Ke apartemen?” tanya Kania memastikan.
“Bukan, ke rumah kita. Rumah yang aku bangun untuk aku tinggali bersama istri dan anak-anakku,” jawab Satria.
“Kalau aku tinggal di sana. Istri kamu bagaimana, Mas?”
***
Sambil lipet-lipet baju, aku ngawasin komen² nya.. kalau rame up lagi 😄😄😄
__ADS_1