
Satria dan Alana memang dua kakak beradik yang tidak akan bisa akur. Sejak dulu, mereka berdua sering bertengkar dan berdebat yang terkadang membuat Satria memilih hidup tenang bersama keluarga paman bibinya di ibu kota.
Saat mereka dewasa seperti sekarang ini pun keduanya tidak bisa akrab dan akur layaknya saudara. Padahal, hubungan Satria dengan sepupunya yang lain jauh lebih baik dari hubungan Satria dan adik kandungnya sendiri.
Namun, di balik semua keributan itu, sebenarnya mereka saling menyayangi satu sama lain. Hanya saja, mereka gengsi untuk mengakuinya.
Saat ini, Alana masih harus banyak bersabar untuk bisa bersatu dengan Gabriel. Semua karena kakaknya yang meminta Gabriel membuktikan langsung usahanya untuk menjadi pendamping yang pantas bagi Alana.
Sementara itu, Kania yang sedang hamil muda sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan pada umumnya. Dia tidak mual muntah di pagi hari seperti wanita hamil pada umumnya, membuat Satria khawatir jika kehamilannya tidak normal.
“Mending kita periksa deh, Kanya. Kamu sama sekali nggak ada mual-mual kayak pas hamil pertama kemarin.”
__ADS_1
Calon ayah itu sudah mulai bingung sensdiri dengan kehamilan Kania kali ini. Maklum saja, awal kehamilan anak pertama, dia tidak ada di samping Kania. Lalu, saat Kania kehilangan calon bayi mereka, dia juga tidak ada di sisi istrinya. Karena itulah, krkhawatiran Satria kali ini memang hal yang masih terbilang wajar.
“Mas, nggak semua orang hamil itu mual dan muntah-muntah. Ada juga yang biasa aja kok. Aku udah ngobrol-ngobrol sama Mama, dan kata Mama pas hamil Alana nggak separah pas hamil kamu mualnya,” jawab Kania sembari mengusap rambut suaminya dengan sayang.
Kania merasa kebahagiaan yang berkali-kali lipat. Dia merasa kasih sayang yang ditunjukkan suaminya ini adalah impian terbesar dalam hidupnya.
“Benarkah?” Satria merebahkan tubuh dan menyandarkan kepalanya di pangkuan sang istri. Dia menghadap perut Kania yang belum sepenuhnya buncit. “Apa daddy terlalu mencemaskanmu, Sayang? Kamu di sini baik-baik saja, ‘kan? Jangan suka nangis kayak Tante Alana ya,” kata Satria yang kemudian mendaratkan kecupan lembut di perut Kania, seakan sedang mencium anaknya di dalam sana.
“Kanya, aku jauh lebih bersyukur. Aku beruntung karena memiliki istri yang lembut, dan mengerti tanggung jawab sepertimu. Kalau kamu nggak ada mungkin aku akan terus terjebak dengan dia,” kata Satria yang kini menggeser tubuh dan menghadap ke atas, supaya bisa menatap wajah istrinya.
“Mas, Feli itu sebenarnya orang baik, hanya saja dia salah jalan dan kurang mensyukuri apa yang dia punya. Jangan menyesali orang yang pernah hadir dalam hidup kita, apalagi dia yang pernah memberikan kebahagiaan.”
__ADS_1
Kania benar-benar menjadi wanita yang kuat dan bijak di mata Satria. Perjalanan menyakitkan yang pernah wanita itu lewati tidak membuat Kania menyalahkan orang lain. Padahal, Feli juga menjadi alasan dia kehilangan bayinya dulu.
“Dia sudah pergi, bersama Andrew. Aku harap mereka akan menikah dan hidup bahagia.”
“Lalu, kenapa dia bisa di rumah sakit waktu itu, Mas? Apa anaknya ....” Kania menatap suaminya, meskipun dia meyakini itu anak Andrew, tetap saja Kania ingin menggoda Satria.
“Jangan melihatku seperti itu. Itu bukan anakku, karena hasil tes DNA memang mengatakan kalau itu anak Andrew. Sayangnya, dia mengalami keguguran juga karena taksi yang ditumpanginya sepulang dari pengadilan mengalami kecelakaan.”
“Kasihan dia, semoga saja dia bisa kembali hamil dan berbahagia dengan kehidupan barunya.”
***
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa.. Mon maaf ya slow update, othornya mulai rewang di tetangga 😂😂.. Konfliknya udah, tinggal Gabriel Alana aja kan, jadi agak slow ya.. Maaf jangan kabur loh, aku masih tetep stay di sini, hanya saja sedikit sibuk akhir² ini di dunia nyata 💋💋