Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat

Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat
IKPH . Bab 46


__ADS_3

Kabar duka yang sampai di telinga Satria itu serasa menghancurkan semua kebahagiaannya. Dia yang seharusnya tertawa puas karena bisa dengan cepat terlepas dari Felicia, nyatanya malah merasakan duka yang teramat dalam karena kabar kehilangan buah hatinya.


Satria langsung mendatangi Kania di kampung untuk melihat langsung kondisinya. Sepanjang perjalanan itu, dia hanya diam karena tidak bisa memikirkan bagaimana bisa hal buruk itu menimpanya?


“Tuan, kita akan langsung mendarat di rumah sakit,” kata Sekretaris Gio memberi informasi.


Namun, Satria sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan sekretarisnya itu. Kehilangan bayi yang ada di dalam kandungan Kania, rasanya sudah menghancurkan seluruh hidupnya.


Helikopter mendarat sempurna di atap sebuah rumah sakit tempat Kania dirawat. Satria langsung minta diantar ke tempat Kania dirawat, tanpa peduli pemilik rumah sakit yang sampai turun tangan menyambut kedatangannya.


Saat sampai di depan ruangan Kania, ternyata sudah ada Gabriel yang sedang duduk di kursi tunggu. Laki-laki itu segera berdiri menyambut kedatangan Satria dan Sekretaris Gio yang sampai diantar langsung oleh pemilik rumah sakit.


“Bagaimana keadaan istriku?” tanya Satria terdengar pilu.


“Lihat sendiri saja, dokter sudah mengizinkan untuk dijenguk,” jawab Gabriel.


Satria mengangguk dan langsung masuk. Sementara Gabriel mendekati Sekretaris Gio untuk memberi informasi keadaan pengawal dan juga pelaku yang saat ini juga dirawat di rumah sakit lain karena Gabriel berhasil menangkap pelaku yang membuat Kania kehilangan bayinya.

__ADS_1


Satria berjalan gontai menatap istrinya yang babak belur. Kepala Kania sampai harus diperban juga luka diwajahnya, seperti bekas taamparan atau pukulan yang sangat keras. Wanita itu saat ini masih memejamkan mata dengan tangan yang dialiri selang infus berisi kantung darah.


Laki-laki itu mencium dalam-dalam pelipis Kania dengan mata terpejam. Hatinya benar-benar hancur sekarang, sampai tanpa bisa ditahan, ada buliran bening yang keluar dari pelupuk matanya.


“Mas.” Suara lirih yang memanggilnya, membuat Satria buru-buru menghapus bekas lelehan di pipinya, dan kini menatap Kania dengan sekuat hati.


“Ya, Sayang.” Satria menyentuh pipi Kania. Hatinya terasa seperti diiris saat menatap mata Kania yang berkaca-kaca.


“Maafkan aku, Mas,” ucap Kania dengan air mata yang mulai meluncur deras. Hatinya lebib rapuh dari Satria, tapi dia sempat meminta maaf untuk kesalahan yang bahkan tidak dia lakukan.


“Kenapa mereka tidak membunuhku saja?”


Satria tidak tahan lagi, dia menjatuhkan kepalanya di dada Kania dan memeluk tubuh yang terbaring lemah di ranjang pasien itu.


“Kanya, jangan pernah berkata seperti itu. Kita harus kuat menghadapinya.”


Satria kembali menatap Kania dan mengecup pipi istrinya itu.

__ADS_1


“Mereka memang berhasil memisahkan kita dengan anak kita, Kanya. Tapi, aku janji mereka tidak akan pernah bisa memisahkan kita.”


Laki-laki itu membiarkan istrinya menangis dalam pelukan, hingga Kania tertidur kembali dalam keadaan menangis.


Kemudian, Satria memanggil Sekretaris Gio untuk membicarakan keguguran Kania.


“Tuan, Ody dan Emon kritis. Mereka dan Nona Kania diserang oleh sepuluh orang bersenjata saat pagi buta. Tapi, pemimpin kelompok mereka yang menyerang Nona, saat ini sudah diamankan berkat Tuan Gabriel.”


“Gio, aku yakin ini ada hubungannya dengan Feli dan mamanya. Cabut semua fasilitas mereka sampai hakim memutuskan perceraian. Mereka sudah membunuh anakku.” Mata Satria memerah. Luapan amarahnya harus tertahan karena dia sedang mendekap Kania saat ini.


Aku tidak akan mengampuni mereka!


***


Sabar Bang, nanti aku kasih bonus 😜😜


Keluarkan unek-unek kalian karena aku sudah jahat sama si Kania 😂😂 Maafkan ya, ya namanya juga othor somplak sengaja banget mancing emosi readers biar rame kolom komennya 😜😜 enggak kok, bercanda, emang gitu alurnya, tapi sory ya, aku enggak suka mbulet-mbulet, makanya langsung to the point 😜😜

__ADS_1


__ADS_2