Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat

Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat
IKPH . Bab 45


__ADS_3

Satria membeli banyak sekali susu hamil untuk Kania. Dia sengaja membeli banyak karena tidak mau Kania kehabisan susu lagi seperti pagi ini. Jauh dari kota membuat Satria khawatir anaknya akan kekurangan gizi.


“Mas, ini berlebihan banget deh, takutnya nanti aku keburu bosan dan malah terbuang sia-sia,” protes Kania saat suaminya mengambil banyak kotak susu hamil.


“Enggak apa-apa, Sayang. Lebih baik kelebihan daripada kamu kehabisan nantinya,” balas Satria yang tidak pernah memikirkan sisa uangnya di rekening.


“Ya ampun, Mas. Kamu buang-buang uang banget sih,” cibir Kania yang merasa kesal dengan sikap suaminya yang semena-mena. Memangnya siapa yang akan menghabiskan uang itu. Tidak mungkin ‘kan Satria mau membantu menghabiskan nantinya?


“Sayang, pokoknya aku enggak mau anak kita kekurangan gizi. Kamu harus minum terus jangan sampai lupa!” pesan Satria pada Kania yang tetap tidak ingin menghabiskan uang untuk hal yang sia-sia, meskipun dia sadar sepenuhnya bahwa sang suami tidak akan pernah kehabisan uang.


Setelah berbelanja dan membeli barang-barang yang Kania butuhkan, akhirnya mereka bersiap untuk pulang. Namun, saat baru memasuki mobil, tiba-tiba Sekretaris Gio mendapat telepon dari anak buahnya bahwa mamanya Feli sedang berusaha menyabotase hasil tes DNA.


“Kita kembali saja, Gio. Hasilnya keluar besok ‘kan, jangan sampai wanita licik itu berhasil menyabotasenya,” kata Satria yang harus mengingkari janjinya pada Kania demi mengungkapkan kebenaran.


“Baik, Tuan.” Sekretaris Gio langsung menyiapkan keberangkatan mereka kembali ke ibu kota.


Kania menunduk. Dia masih ingin bermesraan dengan Satria, tapi malah berakhir seperti ini. Padahal, laki-laki itu baru sampai tadi pagi. Kenapa secepat itu pergi?


“Kanya, maaf!” Satria menarik tubuh Kania ke dalam pelukannya. Dia tahu, Kania pasti kecewa karena mereka baru bertemu lagi, tapi hasil tes itu juga sangat penting buatnya.


“Enggak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok,” balas Kania. Dia merangkul tubuh suaminya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh laki-laki yang menjadi ayah dari janiin yang dikandung saat ini.


“Aku harus kembali untuk mengambil hasil tesnya. Meskipun aku sudah memberikan pengawalan ketat, tapi aku nggak mau kecolongan, Kanya. Mamanya Feli itu sangat licik, dia bisa melakukan cara apa saja untuk mencapai tujuannya.”

__ADS_1


“Iya, aku ngerti kok. Tapi, Mas. Kalau anak yang istri kamu kandung itu anakmu, kamu tetap menceraikan dia, ‘kan?”


Sebagai istri yang dinikahi di bawah tangan, Kania selalu takut apalagi, sekarang dia juga hamil. Wajar jika wanita itu mengkhawatirkan masa depan anak yang ada dalam kandungannya.


“Kanya, jangan khawatir. Aku menceraikan Feli karena dia mengkhianatiku, dan aku memiliki banyak bukti tentang perselingkuhannya. Aku yakin, aku pasti bisa menceraikannya, sekalipun anak itu terbukti sebagai anakku.”


*


Satria harus kembali ke ibu kota, malam ini juga. Meskipun dia masih ingin bersama Kania, tapi dia harus memastikan tes DNA itu tidak sampai di tangan Lily.


“Aku pasti merindukanmu, Mas.” Kania memeluk Satria malam ini, sebelum laki-laki itu naik ke helikopter yang sudah menjemputnya.


“Aku juga pasti akan merindukanmu, Sayang.”


.


.


.


Satria sudah berada di rumah sakit untuk mengambil tes DNA miliknya. Di saat yang sama, Andrew dan Sekretaris Gio juga mengambil hadil tes di rumah sakit yang berbeda.


Lily sama sekali tidak tahu tentang rumah sakit ini dan juga tentang Andrew yang melakukan tes di rumah sakit yang berbeda dengan darah milik Feli.

__ADS_1


Bisa dibilang, rencana Satria tentang tes DNA Andrew itu berhasil karena sekarang dia sudah mendapatkan hasilnya.


Saat dia membuka hasil tes miliknya, terbukti bahwa anak yang dikandung Feli bukanlah anaknya, dan di saat yang bersamaan, Sekretaris Gio menelepon untuk memberi kabar bahwa tes DNA Andrew cocok dengan anak Feli.


Lihatlah, Fel. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa karena anak itu bukan milikku. Aku hanya akan memberikan apa yang memang menjadi hakmu sebagai istri, tapi tidak tujuh puluh persen seperti yang kamu mau.


Satria menatap marah pada kertas hasil tes DNA yang dia pegang saat ini. Secara bersamaan, ponselnya berdering dan itu dari Sekretaris Gio lagi.


“Tuan, pengawal kita diserang, dan Nona Kania ....”


“Kanya kenapa, Gio?”


“Tuan, maaf.” Sekretaris Gio terdengar ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


“Cepat katakan atau kamu kuhabisi sekarang juga!” teriak Satria dengan sangat marah.


“Nona sedang berada di rumah sakit karena keguguran.”


***


Maaf, bukan salahku. Tapi, salah jariku. Jan protes, kenapa bisa keguguran. wkkkk


Maaf kalau typo ya gaes, tlong dikomen pas pargrafnya, karna aku ngetiknya buru2 ini wkkk baru pulang dari rewang 😜

__ADS_1


__ADS_2