
Satria menolak keras saat pengawalnya mengusulkan untuk meminjam mobil milik Gabriel. Sebagai pengusaha sukses yang tidak kekurangan uang, Satria tidak mau menekan harga dirinya untuk meminjam barang milik orang lain. Apalagi meminjam mobil pada laki-laki yang pernah mengaku-ngaku sebagai calon suami Kania.
“Memang harga mobil berapa? Beli sana!” titahnya yang terdengar congkak.
Semua bisa Satria beli, bahkan helikopter yang dia sewa itu pun kalau dijual pasti sanggup dia beli, tapi masalahnya, apakah itu dijual?
“Mas, buat apa kamu beli mobil di sini? Memangnya kamu mau tinggal di sini seterusnya?” Kania tidak setuju, karena Satria bahkan lebih banyak waktu di ibu kota daripada di kampung bersamanya. Lalu, untuk apa membeli mobil yang hanya dipakai sesekali saja?
“Ya, itu penting loh, Sayang. Kita butuh mobil buat ke mana-mana. Kalau kayak gini ‘kan susah, masa’ pinjam sih,” balas Satria masih tetap tidak terima. Dia enggan meminjam mobil karena merasa mobil seperti itu bisa dibeli dengan mudah.
“Tuan, bagaimana kalau kita sewa saja? Kita bisa bayar sepuluh persen dari harga belinya. Kalau Tuan memang gengsi meminjamnya,” usul Sekretaris Gio yang merasa berdebat dengan bosnya itu tidak akan ada gunanya.
“Benar, Mas. Kita sewa saja. Daripada kamu beli mobil yang enggak akan kepakaii. Mending uangnya ditabung buat aku lahiran nanti.” Kania mengusap perutnya. “Ya, ‘kan, Sayang?” tanyanya pada sang buah hati.
Melihat tingkah Kania itu. Tidak mungkin Satria bisa menolak keinginannya. “Ya udahlah!” katanya dengan putus asa.
__ADS_1
Meski sebenarnya gengsi, tapi Satria tidak memiliki pilihan selain menyewa mobil Gabriel. Hanya laki-laki itu yang memiliki kendaraan saat ini untuk akses keluar masuk kampung. Mau tidak mau, Satria akhirnya harus menyewa mobil Gabriel.
Dia mendatangi Gabriel saat laki-laki itu sedang makan di rumah Bu Santi. Satria mengatakan langsung pada Gabriel karena akan sangat tidak sopan jika dia menyuruh anak buahnya, atau mungkin Kania.
“Selamat pagi, Tuan Gabriel,” sapa Satria dengan basa-basi.
“Eh, Tuan Satria. Selamat pagi juga,” balas laki-laki itu. Dia meletakkan kopinya di meja lalu berdiri untuk menyalami Satria.
Pak Ahmad kepala proyek yang ada di sebelah Satria, juga turut menyambut Satria yang entah tujuan apa menghadiri mereka.
Dua pengusaha yang sama-sama sukses itu saling berdampingan duduk di teras rumah Bu Santi.
Satria menghela napas dalam saat harus menekan ego dan gengsinya. “Jadi sebenarnya, saya mau sewa mobil. Istri saya lagi hamil dan ingin jalan-jalan, tapi karena tidak bawa mobil jadi ya ....”
“Oh, mau pinjam. Pakai saja, Tuan. Tidak masalah kok, mobil itu juga tidak ada yang pakai. Apalagi Kania memang butuh mobil,” potong Gabriel yang sudah bisa langsung memahami apa yang ingin Satria sampaikan.
__ADS_1
Satria sebenarnya sedikit kesal. Seolah-olah Gabriel mengizinkan mobilnya dia pakai demi Kania. Satria pikir, Gabriel pasti memang menyukai Kania.
Padahal, pikiran itu ada karena ketakutannya sendiri.
“Lima puluh juta cukup, ‘kan?” Satria menuliskan sebuah giro yang tertera nominal yang tadi dia sebutkan.
“Untuk apa?” tanya Gabriel sampai terbengong-bengong.
“Sewa mobil, Tuan Gabriel.”
Gabriel kehabisan kata-kata. Kecemburuan Satria pada laki-laki yang lebih tua darinya itu membuat akal sehatnya tidak bisa bekerja. Di mana ada harga sewa mobil sampai lima puluh juta?
***
Udah ya.. 3bab loh.. othornya lagi baek wkkk
__ADS_1