
Satria masih bingung dengan penjelasan sang ayah mengenai sosok Gabriel yang disukai adiknya. Namun, sebagai kakak sudah seharusnya dia membela sang adik jika memang Alana menyukai seorang laki-laki yang baik.
“Tapi, nama Gabriel kok jadi ingat sama yang nolongin kamu waktu penyerangan itu ya, Sayang,” kata Satria. Dia belum tahu jika Gabriel yang dia bicarakan adalah orang yang sama.
“Ya, kurang tahu aku, Mas.”
“Tapi kayaknya Alana enggak mungkin suka sama Gabriel yang itu. Dia masih muda enggak mungkinlah suka sama om-om kayak Gabriel yang itu.”
“Iya, Gabriel anaknya temen Daddy El itu udah tiga puluh tahun lebih lah, kamu masih empat tahunan aja dia udah kayak remaja, jauh umurnya sama Alana. Makanya daddy pusing banget sama adikmu itu.” Alfaro memijat kepalanya yang terasa berdenyut memikirkan tingkah sang putri.
“Ya ampun Alana. Centilnya enggak ilang-ilang. Mungkin memang harus dinikahin kali, Dad. Biar dia enggak kecentilan lagi.”
“Dia itu adikmu, Sat. Coba deh kamu cari tahu, mungkin itu si Gabriel punya pacar atau gimana, kenapa langsung nolak waktu Daddy El bilang mau jodohin sama Alana. Padahal dia belum tahu aja gimana cantiknya adik kamu,” sahut Anna yang merasa tersinggung dengan penolakan Gabriel hingga membuat putrinya merengek-rengek.
“Si Alana ditolak, Mom?” Seketika tawa Satria pecah. Membayangkan wajah kesal adiknya yang ditolak oleh Gabriel.
Kania hanya bisa mendengarkan obrolan keluarga suaminya, karena semua orang terasa asing. Apalagi, adiknya Satria yang sama sekali belum dikenal atau pun bertemu langsung.
__ADS_1
“Satria, bantuin adik kamu dong. Siapa tahu dengan kamu bantu cari tahu, adik kamu bisa menerima kalaupun tidak berjodoh dengan Gabriel,” kata Anna menghentikan tawa Satria.
Anna dan Alfaro tahu bahwa Satria dan adiknya kurang akrab. Maka dari itu, saat tahu adiknya ditolak, bukannya simpati Satria malah justru menertawakan nasib adiknya.
“Iya, iya, Mom. Nanti aku cari tahu. Gabriel dari perusahaan mana sih?”
“Rajawali grup,” jawab ayah Satria.
“Oke, nanti aku cari tahu, Dad, Mom.” Satria mengangguk dan berjanji akan membantu adiknya. “Mudah-mudahan aja bukan Gabriel yang itu ya, Sayang.”
“Memangnya kamu di mana, Sat, saat istri mudamu keguguran?” tanya Anna yang sedari tadi sangat ingin menanyakan hal itu pada putranya. Rasa penasaran membuat Anna akhirnya mencari tahu.
“Setelah tahu, Feli hamil. Kania pergi ninggalin aku karena dia tidak mau menghancurkan rumah tanggaku sama Feli. Pas dia pergi, Kania baru tahu kalau dia juga hamil, tapi enggak mau kasih tahu aku. Aku khawatir sama dia karena pergi enggak bawa uang atau apa pun yang berharga buat bertahan hidup. Ternyata, kebetulan juga perselingkuhan Feli terbongkar. Jadinya, aku semakin usaha cari Kania. Pas, aku balik buat ngurus perceraian, ternyata mamanya Feli tahu keberadaan Kania dan ya ... begitulah.”
“Ya, kalau mommy boleh kasih saran. Lebih baik kamu dan Feli bercerai dulu, baru kalian menikah ulang. Kalau pun kalian punya anak, anak kalian akan sah dan resmi.”
“Iya makasih, Mom. Tanpa restu Mommy, kita pasti akan kesulitan. Jadi, restui kami.”
__ADS_1
*
*
*
Sementara itu, Feli tidak bisa keluar rumah dengan bebas. Bahkan, saat menghadiri sidang perceraian pun dia harus sembunyi-sembunyi.
“Kalau kamu mau mempermudah perceraian ini, aku masih bisa memberimu sedikit harta untuk hidupmu setelah perceraian. Tapi, kalau kamu mempersulitnya, aku pastikan, kamu tidak mendapatkan sepeser pun,” kata Satria saat sidang belum dimulai.
.
.
.
Kembang sama kopinya dulu dong 😂😂😂
__ADS_1