
Saat ini, Gabriel sedang mengunjungi kantor Satria untuk membicarakan adik Satria.
“Jadi, kamu menolak adikku karena sudah punya pacar?” tanya Satria setelah Gabriel mengutarakan maksud kedatangannya.
“Iya, begitulah. Yang aku tahu, adikmu sekarang sedang di Australia, dan karena aku juga tidak enak sama kamu makanya aku datang langsung ke sini,” jawab Gabriel dengan yakin.
“Ya, aku tahu adikku memang sedikit aneh, tapi dia sangat baik. Aku yakin, dia akan mendapatkan suami yang terbaik.”
“Ya, aku juga berharap demikian. Kalau begitu, aku pamit duluan ya.” Gabriel menyalami Satria sebagai tanda pamitannya.
Satria lalu mengantarkan laki-laki yang lebih tua darinya itu untuk keluar dari ruangannya.
“Oh iya. Aku sama Kania sudah menikah secara resmi, aku harap saat kami mengadakan resepsi nanti, kamu bersedia datang bersama pacar kamu.”
Tepat saat Satria menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan terbuka dan muncullah Kania yang membawa rantang untuk makan siang mereka.
Kania sangat penasaran, apakah Gabriel itu orang yang sama dengan laki-laki idaman Alana. Dari yang gadis itu ceritakan, sepertinya mereka sudah semakin dekat.
“Eh, ada Mas Gabriel,” kata Kania sambil menundukkan kepala.
“Iya kebetulan aku ada meeting sekalian makan siang dekat sini jadi sekalian mampir aja, Kania. Kayaknya kalian juga mau makan siang, kalau gitu aku duluan ya.”
__ADS_1
Gabriel seperti buru-buru meninggalkan Satria dan Kania. Sebenarnya dia juga malu pada Kania kalau sampai wanita itu tahu bahwa dirinya dijodohkan dengan adik iparnya, pasti akan sangat memalukan. Seorang laki-laki tampan yang tidak bisa mencari jodohnya sendiri.
Satria langsung menarik pinggang wanita itu dan merangkulnya. “Dia bilang punya pacar, makanya menolak dijodohin sama Alana. Kamu ke sini bawa apa, Sayang?” tanya Satria saat melihat Gabriel telah pergi.
“Aku bawain makanan buat makan siang kita. Cobain ya, Mas.”
Dua orang yang menjadi suami istri itu masuk ke ruangan Satria.
“Berarti memang Gabriel yang sama ‘kan, Mas? Tapi tadi Alana kelihatan bahagia banget habis jalan sama Gabriel.”
“Palingan dia halusinasi. Saking tergila-gilanya. Udah jelas-jelas Gabriel itu punya pacar dan menolak Alana mentah-mentah, sampai kabur ke kampung. Gimana bisa dia jalan sama Gabriel. Udahlah, Sayang biarin aja si Alana itu. Dia emang gitu, kecentilan.”
“Mas, dia adikmu loh. Jangan gitu dong. Sama adik sendiri jahat banget sih!” Kania mengerucutkan bibir, membuat Satria gemas dan menciumnya. “Mas!”
Otak messum Satria tiba-tiba bekerja dan membayangkan saat Kania masih menjadi asisten pribadinya.
“Gimana kalau kamu di sini sambil temenin aku kerja. Semangat aku pasti berkali-kali lipat, Sayang.”
“Apa sih, Mas. Kamu mengada-ada aja deh.” Kania menyiapkan makanan yang tadi sudah dia bawa dari rumah.
Mengingat penghinaan karyawan tadi, Kania berpikir tidak akan kembali ke kantor. Mereka sudah mengecapnya dengan buruk. Perebut suami orang telah melekat pada dirinya. Kalau kembali ke kantor, entah penghinaan apa lagi yang akan Kania terima.
__ADS_1
Kania tidak mau menceritakan ucapan para pegawau tadi pada Satria, karena dia yakin hal itu akan semakin menambah buruk image-nya.
Saat Satria baru selesai makan, tiba-tiba Sekretaris Gio meminta izin untuk masuk.
“Aku baru selesai makan siang dengan istriku. Ada apa?” tanya Satria pada Sekretaris Gio yang membawa tiga perempuan entah dari divisi mana.
“Ada yang ingin minta maaf dengan Nyonya,” jawab Sekretaris Gio.
“Minta maaf? Ada masalah apa?”
Kania langsung menoleh ke belakang dan melihat sekretaris suaminya membawa tiga wanita yang tadi menghinanya.
“Mereka sudah menghina Nyonya Kania. Mereka mengatakan banyak hal buruk tentang Nyonya. Salah satunya mengatakan bahwa Nyonya hanya istri simpanan yang menggoda Tuan Satria.”
Mendengar penjelasan sekretarisnya, Satria menatap ketiga pegawai itu sambil mengepalkan tangan. Matanya memerah seperti pedang yang siap menghunus musuhnya .
.
.
.
__ADS_1
Ramein dulu komennya, biar semangat up 😄😄