Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat

Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat
IKPH . Bab 71


__ADS_3

Alana tetap memaksa untuk pulang karena hatinya yang tidak bisa diajak kompromi saat mendengar nama wanita lain yang mengisi hati Gabriel saat ini. Sebagai wanita yang benar-benar menyukai Gabriel sampai tergila-gila dan melakukan banyak hal untuknya, Alana merasa sakit hati dan tidak bisa berpikir apa pun selain pulang.


Gabriel pun tidak bisa mencegahnya. Laki-laki itu akhirnya mengantarkan Alana ke rumah setelah perdebatan yang cukup sengit.


“Akting kamu benar-benar luar biasa, Alana. Semua orang percaya dengan apa yang kita lakukan. Kamu benar-benar hebat, cemburu kamu kayak natural banget,” puji Gabriel saat mereka sudah berada di mobil.


“Aku enggak lagi akting kok,” balas Alana sembari membuang muka ke arah jendela mobil.


Hati Alana terasa begitu sakit saat membayangkan rasa cintanya yang harus kandas karena ternyata hati Gabriel telah terisi oleh wanita lain.


Mendengar pengakuan Alana, kening Gabriel berkerut seketika. “Maksud kamu?”


Terdengar helaan napas kasar yang keluar dari mulut Alana. Dia menata hatinya dulu yang belum siap mundur, sebelum akhirnya menoleh pada Gabriel.


“Aku mau kita berhenti saja berpura-pura pacaran. Tidak ada gunanya juga karena kamu sudah memiliki kekasih yang sebentar lagi akan kembali, Chika.”


Gabriel menepikan mobil di tempat yang cukup sepi. Dia sama sekali tidak menduga jika Alana akan benar-benar marah.


“Alana sebentar! Maksud kamu, kamu ingin kita putus di hadapan keluargaku begitu?” tanya Gabriel.


“Iya. Kamu tinggal kasih alasan kalau kita putus karena aku cemburu sama Chika. Setelah itu, kamu bisa benar-benar menjalin hubungan setelah gadis itu kembali, ‘kan? Aku turun di sini. Jangan hubungi aku lagi.”

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, Alana melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil Gabriel. Gadis itu meninggalkan pujaan hatinya karena kecemburuan yang sama sekali tidak ada unsur kepura-puraannya.


Gabriel ikut keluar dari mobil dan mengejar Alana. Sementara gadis itu sudah berhasil menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat.


“Alana, kamu kenapa marah sih? Aku sama Chika cuma temenan saja, Al,” kata Gabriel sembari mencekal tangan Alana.


“Apa sih kamu, Kak? Aku mau pulang, mulai sekarang kita putus, jangan ganggu aku lagi!” Alana menepis tangannya dengan kasar, lalu sebisa mungkin masuk ke taksi dengan gerakan cepat.


“Alana!” pekik Gabriel saat Alana menutup pintu mobil taksi itu dan menyerempet jemari tangan Gabriel. “Aduh, untung masih selamat. Kalau putus beli di mana coba?” gumanya sambil mengibas-ngibas tangannya yang sedikit sakit karena hampir terjepit.


“Dia kenapa sih? Datang bulan kali ya.”


Sementara itu di dalam taksi, Alana mulai menangisi kebodohannya sendiri.


“Kenapa mencintai harus sesakit ini sih?” Gadis itu tersedu-sedu di dalam taksi, hingga membuat sang sopir yang merasa iba, mengulurkan tisu padanya.


“Makasih, Pak.” Alana mengambil beberapa helai tisu dan kembali menangis sejadi-jadinya di taksi.


Sampai di rumah, wajah Alana yang kusut dan sembab membuat iparnya khawatir.


“Alana, kamu kenapa?” tanya Kania dengan kening berkerut. Kedua tangannya menangkup wajah sang adik ipar dengan cemas.

__ADS_1


“Aku putus sama Kak Briel, Mbak Kania,” jawab Alana sembari menyandarkan tubuh pada kakak iparnya.


Kania pun memeluk Alana yang mulai kembali meraung. Dia sudah seperti anak kecil yang kehilangan permen.


“Kok bisa putus, memangnya kapan kalian pacaran?” tanya Kania tanpa sadar.


Alana semakin tersedu-sedu. Dia melepas pelukan Kania dari tubuhnya. “Mbak Kania kenapa pertanyaannya begitu sih?”


“Maaf, Alana. Habisnya aneh, beberapa hari lalu kakak kamu bilang dia membatalkan perjodohan kalian karena sudah punya pacar.”


“Pacar? Jadi benar dia punya wanita lain?”


Alana semakin tersedu. Cinta memang membutakannya, akal sehat gadis itu sudah dipenuhi nama Gabriel hingga membuatnya seperti gadis boodoh yang tidak bisa berpikir apa-apa.


.


.


.


Tenang, Alana. Sebentar lagi kamu waras kok wkkk

__ADS_1


__ADS_2