Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat

Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat
IKPH . Bab 68


__ADS_3

Satria berdiri dengan lantang saat sekretarisnya mengatakan bahwa ketiga pegawainya itu telah menghina Kania, istrinya tercinta. Sebagai seorang laki-laki yang sangat mencintai wanitanya, Satria tentu sangat marah saat ada orang yang menghina istrinya seperti itu.


“Atas dasar apa kalian menghina istriku?” tanya Satria dengan suara lantang. Otaknya terasa mendidih saat ini, terlebih melihat Kania yang seperti diam saja padahal baru saja direndahkan.


“Kalau kalian mau menghina, hina saya. Saya yang merayunya. Saya yang ingin memilikinya. Lalu, apa urusannya dengan kalian? Bukankah saya menggaji kalian untuk bekerja, untuk membantu perusahaan, bukan mengomentari kehidupan saya dan orang-orang di sekitar saya?” Suara bentakan itu semakin menunjukkan sisi buas yang selama ini tidak pernah ditunjukkan kepada siapa pun.


“Mas.” Kania mendekati suaminya dan meraih tangan itu dengan maksud untuk membuat suaminya lebih tenang. “Yang mereka katakan itu tidak salah kok, karena aku masuk ke dalam kehidupan kamu memang sebagai orang ketiga. Meskipun mereka tidak tahu kebenaran alasannya, tapi tetap saja faktanya aku memang istri simpanan, orang ketiga, perebut suami orang.”


Mata Kania berkaca-kaca tetapi bibirnya menyunggingkan senyum. Dia berusaha terlihat kuat dan tegar, tapi tubuhnya tidak bisa berdusta. Buliran bening meluncur tiba-tiba dari sudut matanya. Dengan cepat dia menghapusnya, seakan tidak ingin Satria melihat air mata itu.


“Tapi, mereka sama sekali tidak berhak menilai kehidupan kita, Kanya. Memangnya mereka siapa?” Meski masih kesal, tapi nada bicara Satria sudah mulai turun.


“Maafkan saya, Pak. Maafkan saya, Nona Kania, saya memang bersalah,” ucap salah seorang dari ketiga pegawai itu.


“Maafkan saya juga, Pak, Nona Kania. Maafkan saya.”

__ADS_1


“Saya juga minta maaf, Pak Satria, Nona Kania.”


Ketiganya menunduk ketakutan. Mereka tidak menyangka jika ada yang melapor pada Sekretaris Gio saat mereka menghina Kania. Mereka bahkan tidak tahu jika Kania sudah menjadi istri sah Satria, padahal Satria dan istri pertamanya baru saja bercerai.


“Iya, enggak apa-apa. Lain kali hati-hati saja ya kalau pas kerja,” balas Kania sembari mengulum senyum. Dia bukan pendendam yang akan membalas setiap ucapan menyakitkan dan penghinaan yang diterima.


“Gio, suruh mereka bersih-bersih toilet di lantai ini selama satu bulan. Bawa mereka keluar!” Satria kembali duduk dan enggan menatap ketiga pegawai itu.


Sekretaris Gio mengantar mereka keluar setelah ketiganya kembali mengucapkan maaf dan terima kasih pada Kania dan Satria.


Mata Satria menatap Kania begitu dalam, seolah dia mencari tahu ke dalam isi hati istrinya itu lewat mata.


“Aku tidak sesuci itu, Mas. Tapi, selama itu bukan fitnah, aku tidak akan pernah melawan. Jadi, aku diam saja, toh yang mereka katakan tadi memang benar,” jawab Kania.


Wanita itu memeluk suaminya dan menyandarkan kepala di pundak Satria. “Jangan mudah sakit hati hanya karena omongan orang, Mas. Kita yang menjalani dan hanya kita yang tahu.”

__ADS_1


“Kanya, aku beruntung memiliki kamu. Dan, supaya tidak ada yang menggunjingmu lagi, aku ingin secepatnya menggelar resepsi, supaya semua orang tahu bahwa kamu adalah milikku,” kata Satria yang kemudian mengecup mesra kening Kania. “Kamu bebas atur semuanya sesuai keinginan kamu.”


Kania mendongak hingga tatapannya bertemu dengan mata Satria. “Kamu serius, Mas?”


“Iya, Sayang. Tapi main di sini bentar ya, ingin ini.”


“Mas.”


Meski merengek, Kania tidak bisa menolak keinginan suaminya itu. Dia selalu pasrah apa pun yang Satria inginkan.


.


.


.

__ADS_1


Kalau mau diundang juga, vote sama kopinya banyakin dulu. Komentar jangan sampek sepi ya wkkkk. Aku memang othor banyak mau kok. Makasih ya wkkkkk


__ADS_2