Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat

Istri Kontrak Pelampiasan Hasrat
IKPH . Bab 51


__ADS_3

Setelah kepergian Felicia dari rumah, Kania jadi teringat sebuah drama yang mengisahkan tentang seorang wanita yang tega merebut suami dan juga rumah sahabatnya sendiri.


Meski Feli bukan sahabatnya, tetapi kisahnya bisa dibilang sama. Bahkan adegan pengusiran yang saat ini dilakukan Satria, itu juga sama persis seperti yang terjadi di drama.


“Apa aku se-murahan itu sampai-sampai merebut suami orang lain dan mengusir istri sah dari rumahnya sendiri?” gumam Kania saat memasuki rumah mewah milik Satria dengan tatapan kosong.


Pikirannya sudah terpengaruh oleh kata-kata Feli yang menghinanya habis-habisan.


“Kenapa, Sayang?” tanya Satria yang meski tidak jelas, tapi masih bisa mendengar gumaman istrinya.


“Apa kamu kepikiran dengan kata-kata Feli tadi?” Satria menangkup wajah Kania yang tiba-tiba menunduk.


Tanpa Kania jawab, sorot matanya yang sayu membuat Satria paham.


“Aku memang pelakor, aku memang pelaacur,” kata Kania sambil menangis. Hatinya mudah sekali bersedih, apalagi dia baru saja kehilangan anak.


Satria menghapus air mata Kania dan menempelkan keningnya di kening istrinya itu.


“Bagiku, kamu bukan pelaacur, atau perebut suami orang. Kita melakukannya setelah menikah, kamu tidak mengambilku dari Feli. Tapi, Feli melakukan perselingkuhan bahkan sampai hamil anak orang lain. Dia yang pelaacur Kania. Kamu istriku. Kamu istriku secara sah meski pernikahan kita belum resmi.”


Apa yang Satria katakan memang benar, karena dalam hal ini memang Felicia yang lebih dulu melakukan kesalahan dan dia sudah mengkhianati Satria, merusak kepercayaan yang telah diberikan padanya.

__ADS_1


“Tapi, karena aku juga kamu ceraikan Feli,” kata Kania.


Satria mendekap erat tubuh Kania. Dia menarik napas dalam dan tidak mau menyerah meyakinkan Kania.


“Walaupun kita tidak bertemu, tapi Feli tetap berselingkuh, maka aku akan tetap menceraikannya. Kamu tahu, aku benci milikku dipakai orang lain, Kanya. Aku sudah percaya bahkan aku menyuruh orang mengikutinya, tapi ternyata dia dan mamanya jauh lebih licin menutupi kebodohan. Kalau malam itu, aku tidak bertemu kamu, mungkin aku tidak akan pernah menyadari bagaimana perasaanku yang sebenarnya, Kanya.”


Kania terdiam. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah kesalahannya. Ini adalah salah Feli yang mengkhianati Satria.


Kania tidak salah karena dia menjalanjan kewajiban sebagai istri Satria dengan baik.


*


*


*


“Sayang, hari ini kita akan lihat rumah baru. Nanti agak siang Gio akan jemput, kamu siap-siap ya, kalau cocok kita beli,” kata Satria yang kini mengenakan pakaian kerja dibantu oleh Kania.


“Ya, baiklah. Aku sebenarnya kangen kerja,” balas Kania sambil mengikat dasi Satria.


“Nanti malam kamu bisa mulai bekerja kalau sudah siap.” Satria malah menggoda Kania padahal dia tahu yang diinginkan Kania bukanlah hal itu.

__ADS_1


“Kita puasa dulu, Mas.”


“Tapi kalau bantuin dikit, enggak masalah ‘kan, Sayang?”


Satria sudah ingin mencium leher Kania, tapi saat bibirnya baru mendarat, tiba-tiba ponselnya berdering membuat Satria menghela napas berat.


“Siapa sih, ganggu banget pagi-pagi.”


Satria melihat nama peneleponnya, dan ternyata dari Sekretaris Gio.


“Tuan, Nyonya Feli membuat pemberitaan di media soal perceraian ini, dan sepertinya Tuan Besar dan Nyonya sudah mendengarnya.”


“Apa Papi akan datang ke sini?”


“Sepertinya iya, Tuan. Apa kita perlu meredakan pemberitaan ini?”


“Tidak usah, sekalian saja kita bongkar semuanya.”


***


Nggak jadi libur karena komennya rame.. mamacih ya sayang²ku, komen lagi yang banyak 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2