
Sepasang pengantin baru yang juga bisa dikatakan pengantin lama itu masih berada di atas kasur mewah hotel berbintang yang mereka sewa. Setelah mengadakan resepsi pernikahan, Satria dan Kania memang ingin menikmati hari setelah pernikahan dengan menginap di hotel. Ya, tentu saja karena mereka ingin menikmati masa-masa pengantin baru tanpa ada gangguan.
Saat Kania terbangun, wanita itu menyadari bahwa hari telah siang. Dia merasakan perut yang mulai keroncongan karena lapar. Akibat bangun kesiangan itu, mereka melewatkan sarapan. Maklum saja, Satria dan Kania baru menyelesaikan permainan setelah lewat waktu sepertiga malam.
Kania menyingkirkan tangan sang suami yang memeluk erat dirinya. Setelah itu, baru Kania memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
“Kok kamu udah bangun, Sayang. Jam berapa sih?” tanya Satria.
Laki-laki itu membuka mata karena gerakan sang istri yang membuatnya ikut terbangun.
“Ini udah siang, Mas.” Kania meraih ponsel miliknya guna melihat waktu saat ini, dan benar dugaannya. “Jam sebelas. Sebentar lagi waktunya makan siang. Aku lapar banget, Mas.”
Kania kembali merebahkan tubuh di sebelah sang suami yang masih tidak memakai apa pun. Satria menyambut istrinya dengan pelukan hangat. Rasanya, masih ingin bermalas-malasan, tapi saat menatap wajah istrinya, adik kecil laki-laki itu kembali bangun.
“Makannya gampang nanti kita pesan. Gimana kalau sekarang kita ....”
Tanpa melanjutkan kata-katanya, Satria mulai mencium bibir sang istri yang selalu menggoda. Namun, Kania malah menolak ciuman itu.
“Kenapa?” tanya Satria bingung. Dia sudah sangat ingin mengulang pertempuran semalam yang begitu memabukkan, tapi penolakan Kania membuat keningnya berkerut memikirkan apa yang membuat wanita itu menolak.
__ADS_1
“Capek, Mas. Aku lemes banget.” Kania mengerucutkan bibir dengan wajah memelas. Sepertinya dia memang sangat kelaparan.
“Ya sudah, aku pesan makan dulu, setelah itu kita mandi ya!” putus Satria.
Dia mengambil ponsel yang ada di samping Kania. Karena gerakannya yang melewati tubuh sang istri, tiba-tiba saja Kania mendaratkan kecupan mesra di leher putih suaminya.
Kania merasa ingin semakin dekat dengan sang suami yang seperti memiliki magnet khusus. Dekat dalam arti menempel dan bermanja-manja, bukan berarti ingin melakukan hubungan suami istri terus.
“Kamu sengaja godain aku. Mau aku makan sekarang?”
Satria membalas dengan mengisap kuat leher Kania. Dia ingin mengukir tanda cinta yang baru di leher Kania yang sudah hampir penuh.
“Aku cuma mau peluk aja, Mas. Bukan mau godain. Aku lemes banget nih!”
Satria tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya, begitu pun dengan Kania yang juga menatap suaminya dengan perasaan bahagia. Setelah dipikir-pikir, memang dia belum mendapatkan tamu bulanan dua minggu ini. Kenapa dia tidak menyadarinya?
“Mas, jangan-jangan memang iya. Aku belum datang bulan,” balas Kania sembari mengusap perutnya. Dia berharap ada kehidupan baru di sana sebagai ganti bayinya yang harus keguguran karena mamanya Feli.
Satria langsung membuka perut Kania dan mencium perut itu. “Permisi, ada orang di dalam? Kalau ada, ini daddy, Sayang.”
__ADS_1
“Mas, kamu ngapain sih?” tanya Kania yang merasa aneh karena sikap sang suami. Mereka belum melakukan tes dan belum pasti apakah Kania benar-benar hamil atau tidak, tapi Satria sudah bersikap seolah Kania benar-benar hamil.
“Lagi latihan lagi, Sayang. Bentar aku suruh orang buat beli tes kehamilan, sekalian antar makanan buat kita.”
Kania hanya bisa tersenyum sambil mengangguk. Suaminya begitu antusias, dan dia berharap keinginannya itu akan segera menjadi kenyataan.
.
.
.
Makanan dan alat tes kehamilan yang dipesan oleh Satria akhirnya datang. Satria yang sangat antusias kali ini, padahal sebelumnya dia pernah bilang bahwa dia belum siap menjadi seorang ayah. Apakah sekarang dia sudah siap?
“Aku tes dulu, Mas. Tapi, apa pun hasilnya harus kita terima dengan ikhlas ya. Kalau aku belum dipercaya untuk hamil, jangan kecewa.” Kania menangkup wajah tampan suaminya dengan tangan yang masih memegang alat tes kehamilan.
“Iya, Sayang. Apa pun itu memang harus kita terima. Tapi, aku ikut ya. Aku mau lihat lebih dulu.” Satria mendorong tubuh sang istri untuk berjalan menuju kamar mandi.
“Tapi, Mas. Ini menjijikkan ....”
__ADS_1
***
Kembang kopinya jangan lupa gaess 💋💋