
Satria mengerucutkan bibir saat memasuki kamar pengantinnya. Dia terus menggerutu karena kesal dengan adik-adiknya yang mengambil alih Kania sesuka mereka.
Pengantin laki-laki itu sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mendekati istrinya sejak Alana mengatakan ingin berfoto. Sampai akhirnya, Satria mengirimkan kode pada Kania yang pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya, Kania hanya sungkan dengan Anna dan Alisha karena dua wanita itu masih terus mengajaknya mengobrol.
“Ya udahlah, aku mau ke kamar duluan,” kata Satria sambil berdiri.
“Udah enggak sabar banget sih, Sat. Kamu kayaknya hyper deh,” sindir Rafael yang kini melirik jam di pergelangan tangannya. Baru jam delapan malam dan mereka baru selesai makan malam sambil duduk-duduk bersama.
“Daddy kayak enggak pernah muda aja,” balas Satria. Dia beranjak dari sofa dan langsung menuju tangga.
Alfaro memberikan kode pada Alana agar melepaskan kakak iparnya. Mereka memang sengaja menggoda Satria yang pasti sudah tidak sabaran ingin menikmati malam pengantinnya.
“Mbak Kania, susulin gih suaminya. Udah ngambek,” goda Alana yang diiringi suara tawa Cloudia dan juga Alisha.
“Udah, jangan diledekin terus. Biar aja, mereka sudah resmi menikah kok.” Anna menatap kasihan pada menantunya yang menjadi bahan candaan keluarganya. Wanita itu merangkul Kania dan mengantarkannya pada sang putra.
Sesampainya di kamar, Anna dan Kania tidak melihat Satria karena laki-laki itu sedang di kamar mandi.
“Makasih ya, Mi.”
Anna menghela napas berat. “Kamu yang sabar aja ya, Satria sama Alanna itu memang susah akur. Dan kalau bisa, bujuk Satria untuk mengenalkan Alanna sama laki-laki yang disukainya itu,” pintanya.
Kania mengangguk. “Iya, Mi. Nanti aku coba ngomong sama Mas Satria.”
__ADS_1
Anna kembali bergabung bersama keluarganya, sementara Kania menghampiri suaminya.
“Mas, kamu mandi ya?”
Bukannya menjawab, Satria langsung menarik tubuh istrinya itu dan menciumnya dengan naapsu. Dia sudah menahannya sejak tadi, dan sekarang sudah tidak tahan lagi. Satria butuh pelampiasan.
Hingga akhirnya, beberapa jam pun berlalu. Kini mereka ada di kasur dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh dengan posisi Satria yang berada di atas Kania.
“Makasih, Sayang.” Satria menutup malam indah itu dengan kecupan manis di kening Kania.
*
*
*
Dengan dandanan natural seperti biasa, gadis itu mencari-cari kamar rawat kakek Gabriel. Dia membawa keranjang buah di tangan layaknya biasa mau membesuk pasien rumah sakit.
Kebetulan, Gabriel menyempatkan diri untuk menjenguk sang kakek dan melihat Alana. Karena tingkah gadis itu yang mondar-mandir kebingungan, Gabriel pun memberanikan diri untuk bertanya.
“Mau cari siapa, Dek?” tanya Gabriel.
Melihat wajah dan penampilan Alana, Gabriel sangat yakin, gadis itu seumuran dengan adik bungsunya, Brian. Dia pikir mungkin saja itu pacar Brian yang katanya mau membesuk kakek.
__ADS_1
Alana terpana melihat ketampanan Gabriel yang semakin dekat semakin nyata. Wangi tubuhnya membuat gadis centil itu memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam.
“Halo! Kalau tidur jangan di sini, Dek.”
Seketika itu, Alana membuka mata. “E, itu Kak, ini rumah sakit ‘kan ya?” tanyanya yang mendadak gugup. Grogi juga kalau berhadapan langsung.
“Iya ini rumah sakit umum lebih tepatnya, bukan rumah sakit jiwa,” jawab Gabriel yang sepertinya menyesal menanyai gadis di hadapannya.
Sayang banget, cantik-cantik gini tapi kayaknya kurang waras.
“Iya, tapi kalau aku sakit jiwa kan obatnya cuma kamu,” gumam Alana sambil menunduk malu.
“Apa?” Gabriel semakin kaget, dia sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur dari Alana.
“Eh itu, Kak. Aku ‘kan disuruh mamaku buat jenguk kakek. Eh kakek siapa ya aku lupa namanya, tapi aku ingat wajahnya. Gimana ya, Kak?” Alana memasang raut sedih sambil memegangi keranjang buah miliknya.
Ya ampun, sepertinya gadis ini memang tidak beres.
.
.
.
__ADS_1
Kalem ya gaeeess, sepertinya ada lumayan pembaca yang baru, mungkin baru unduh entun ya, jadi ini novel masih diketik ya, bukan tinggal salin dari laptop, bukan. Othornya tiap hari mikir dan ngetik, jadi sabar bukan karena males atau gak niat nulis, tapi ya gitu lah, ini kan fresh from the open 😂😂😂 otakku udah kayak open emang, jadi jangan bilang aku gak niat ya. Aku usahakan up tiap hari kok 🥰🥰 thinkyou winkyou readers kereen kayak kamu, iya kamu yang lagi baca 😂😂