
Setelah pesta pernikahan Satria dan Kania, Gabriel membulatkan tekad untuk mendapatkan cinta Alana lagi. Dia sangat yakin bahwa Alana adalah pilihan yang tepat untuk masa depannya.
Gabriel mendatangi rumah Kenzie, sepupunya. Dia ingin mencari tahu dulu apa hubungan Kenzie dengan Alana. Jangan sampai terjadi perebutan wanita. Ya, sedikit banyak Gabriel tahu sejarah kedua orang tuanya. Ayahnya dan ayah Kenzie dulu berseteru, bahkan setelah ayahnya berhasil mendapatkan sang ibu, ayah Kenzie masih saja menaruh harapan.
Gabriel tidak ingin terjadi perang saudara nantinya. Karena itulah, dia ingin memastikan pada Kenzie sebelum memutuskan untuk mengejar Alana.
“Kak Biel, mau cari siapa?” tanya Serena, kakak dari Kenzie yang tidak lain adalah anak pertama dari Om Mondy dan Tante Keyla.
“Mau cari Kenzie. Di mana dia?” tanya Gabriel sambil melirik ke dalam rumah mewah milik om sekaligus RT di kompleks perumahan itu.
“Oh, belum bangun dia. Minggu-minggu gini, tumben banget sih ke sini, Kak?” Serena mempersilakan Gabriel untuk masuk ke rumah mereka.
“Kamu tumben di sini, sama suamimu?” Gabriel langsung masuk dan berjalan santai seperti di rumahnya sendiri. Ya, memang rumah ini sudah biasa dia masuki sejak masih kecil.
“Enggak. Aku baru saja mampir. Suamiku kemarin sore ada kerjaan ke luar negeri,” jawab Serena. “Mau minum apa?”
__ADS_1
“Apa saja yang enak. Om Mondy sama Onty ke mana?”
“Mommy masih di tempat senam, diantar Daddy. Banyak tanya deh kayak introgasi aja,” omel Serena.
Gabriel mengabaikan sepupunya yang mengomel karena dia selalu banyak tanya setiap kali datang ke rumah mereka. Laki-laki itu langsung menuju kamar Kenzie di lantai dua.
Saat menyadari pintu kamar Kenzie tidak terkunci, Gabriel langsung masuk begitu saja. Sementara sang pemilik kamar masih menikmati mimpi indahnya.
“Ken, bangun dong!” Gabriel terus mengganggu sepupunya yang masih terlelap itu.
“Kenzie!” teriak Gabriel sambil menyingkirkan bantal yang dipakai Kenzie untuk menutupi kepalanya.
“Apa sih, Kak. Kamu gabut banget gangguin orang tidur!” balas Kenzie tak kalah sewot.
“Bangun dong! Malah pura-pura tidur. Aku mau ngomong penting soal Alana,” kata Gabriel sambil menarik tubuh Kenzie untuk bangun.
__ADS_1
“Alana itu calon pacarku, kamu ‘kan udah nolak dia, sekarang biar aku yang membahagiakannya.” Kenzie kembali memeluk bantal yang lain. Dia enggan berdebat atau pun berbagi cerita dengan Gabriel yang sudah menyakiti wanita sebaik Alana.
“Eh, Kenji pie, kue kering. Anak kecil ngalah aja dong sama yanv lebih tua. Nggak kasihan apa sama kakak sendiri.”
Mendengar omongan Gabriel itu, Kenzie langsung terbangun dan menatap Gabriel dengan kesal.
“Apa sih, Kakak tuh kebanyakan mainan sama ikan makanya enggak ngerti perasaan perempuan. Sekarang nyesel, ‘kan? Ya udah biar dia bahagia sama aku, toh aku sama dia seumuran. Beda sama Kakak yang kayak Alana jalan sama om-om,” balas Kenzie.
“Kok kamu gitu, sih. Kenzie, kamu tuh bantuin aku kenapa sih, malah ngomong kayak gitu. Memangnya Alana suka sama kamu?”
“Kak, kalau kamu beneran suka sama Alana. Kejar, buktikan. Jangan malah minta bantuan. Aku juga suka Alana, kita bersaing aja, siapa yang dipilih Alana. Harus kita terima dengan ikhlas.”
Biar saja. Kalau ada saingan ‘kan kamu pasti akan lebih berjuang, Kak.
***
__ADS_1
Good malam, akh baru up. Masih sakit banget tenggorokan. Betewe, sengaja ya gak gangguin Kania sama Sat yg lagi em anu..