
Pengawal Kania menyetir mobil di dampingi Sekretaris Gio. Sementara Kania dan Satria ada di belakang karena mereka memang bosnya.
Demi mengajak sang istri jalan-jalan, Satria rela mengeluarkan uang lima puluh juta untuk menyewa mobil milik Gabriel. Bukan karena harga sewanya yang mahal, tapi gengsi dari seorang Satria itulah yang membuat nilai sewa mobil itu menjadi mahal.
“Sekarang kamu tahu ‘kan, Mas, kalau Mas Gabriel itu baik?” Kania menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Ibu hamil itu memang sangat ingin dimanja sekaligus memanfaatkan waktu dengan baik karena tidak setiap hari dia bisa begini.
“Kamu jangan muji-muji laki-laki lain, Kanya. Aku enggak suka ya kamu dekat-dekat sama dia,” balas Satria yang malah jadi sewot. Hatinya seperti terbakar api cemburu saat mendengar wanita yang dicintainya itu memuji Gabriel, yang menurut Satria memang menyukai Kania.
“Sayang, aku enggak muji kok. Kamu kalau cemburu lucu banget sih,” kata Kania.
Dia mendaratkan kecupan lembut di pipi Satria supaya laki-laki itu tidak terlalu marah.
“Hati aku cuma buat kamu, Mas. Di sini ada anak kamu yang akan jadi bukti cinta aku ke kamu,” imbuhnya.
“Sayangnya daddy yang pintar, bikin mommy mual-mual dong kalau dekat sama cowok lain,” kata Satria sembari mengusap perut Kania.
“Mas, kok kamu gitu sih,” protes Kania yang juga menertawakan kecemburuan suaminya.
__ADS_1
Dua manusia itu saling mengungkapkan cinta dengan cara mereka sendiri yang sedikit aneh. Sayangnya, Kania adan Satria lupa, di depan mereka ada Sekretaris Gio dan seorang pengawal mereka yang mendadak jadi manusia tidak berharga.
Kalau sudah berduaan, memang seolah yang lain itu ngontrak.
.
.
.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di kota. Kota kecil yang benar-benar di luar ekspektasi Satria.
“Iya benar, Tuan. Sekarang kita sudah sampai,” jawab Sekretaris Gio dengan sangat yakin.
Satria menatap sekeliling. Hanya ada beberapa toko, bengkel, sekolah, pos polisi, bank, dan mini market. Tidak ada mal apalagi gedung pencakar langit. Kenapa ini disebut kota?
“Kota di sini jangan kamu bandingin sama ibu kota, Mas,” kata Kania. Dia paham kebingungan suaminya yang mungkin di luar bayangannya. “Kita beli susunya di mini market aja. Nanti beli bajunya di pasar.”
__ADS_1
“Pasar?” Lagi-lagi Satria dibuat kaget. “Kanya, kok kamu bisa kesasar di sini sih? Heran aku. Ini tuh jauh banget dari kehidupan kita.”
“Ya, aku ‘kan turun di terminal, naik bis kecil pokoknya biar kamu enggak nemuin akulah,” jawab Kania mengingat peristiwa beberapa minggu lalu.
Sekarang dia sadar, meskipun dia bersembunyi di lubang semut sekali pun, Satria pasti bisa menemukannya.
“Jangan berpikir untuk pergi dariku lagi, Kanya. Karena aku bisa saja gila tanpa kamu.” Satria merangkul tubuh Kania dengan mesra. Dia takut membayangkan Kania yang sendirian dalam keadaan hamil, luntang-lantung tidak punya arah tujuan.
Sekretaris Gio menyandarkan tubuhnya di pintu mobil, dia melirik pengawal Kania yang juga sedang meliriknya.
“Tau gitu, biar kamu sama Ody saja yang ikut, aku jaga rumah aja,” gumam Sekretaris Gio.
Nasib jomblo yang hanya menjadi pajangan di mobil itu. Sementara dua majikannya tanpa tahu malu malah saling bermesraan, padahal mobil sudah berhenti di depan mini market.
Haruskah Sekretaris Gio dan pengawal Kania itu turun meninggalkan Satria dan Kania?
***
__ADS_1
Kembang kopinya dulu jangan lupa 😜😜