
Alana pulang ke rumah Satria dengan perasaan yang sangat bahagia. Gadis itu sudah berhasil mendekati Gabriel dengan mudah tanpa disadari. Sekarang, misinya adalah membuat laki-laki itu jatuh cinta dan tergila-gila dengannya.
“Kamu bahagia sekali, Lana,” sapa Kania saat melihat adik iparnya masuk dengan wajah berseri-seri.
“Eh, Kakak Ipar. Iya dong, rencanaku mendekati Kak Gabriel itu berhasil. Dengan usahaku sendiri loh, nungguin Bang Satria kelamaan,” balas Alana dengan bangga. Dia memandangi ponselnya yang menampilkan nama dan nomor telepon Gabriel.
Untung saja dia tidak ingat bahwa yang ingin dijodohkan dengannya itu namanya Alana juga, kalau ingat bisa-bisa aku ditolak kedua kalinya. Tapi, menyebalkan juga sih Kak Briel, bahkan sampai namaku pun dia tidak ingat.
“Kamu sama Mas Satria kenapa tidak pernah akur sih? Memangnya kamu senakal apa?” tanya Kania. Dia sedang menyiapkan makan siang untuk Satria karena hari ini sudah mencoba resep baru dan ingin suaminya yang pertama kali mencoba.
“Dia itu menyebalkan pokoknya. Dia lebih suka main sama Sky atau Kak Shaka. Makanya dia lebih suka tinggal di sini daripada di Singapura. SMA sampai kuliah pun dia di sini. Aku itu sudah seperti anak tunggal buat Mommy Daddy, kalau Kak Satria itu anaknya Mommy Al sama Daddy El.”
“Oh jadi begitu.”
“Pokoknya Mbak Kania jangan mengharap aku sama dia itu akan akur.” Alana memperingatkan kakak iparnya sendiri dengan telunjuk yang diacung-acungkan. Lalu, dia meninggalkan Kania untuk pergi ke kamarnya.
Dari penjelasan Alana itu, Kania memahami satu hal, hubungan Satria dan adiknya itu sebenarnya bukan masalah yang besar, hanya saja mungkin mereka tidak nyaman jika bersama-sama.
__ADS_1
Kania mendatangi kantor sang suami diatar dua pengawal yang menjaganya. Namun, Kania hanya mengizinkan mereka untuk mengantar sampai di depan gedung karena tidak ingin kehadirannya dipandang mencolok.
Saat berjalan memasuki lobi, Kania mendapat tatapan aneh dari beberapa pegawai yang kebetulan melihatnya. Kania tetap masuk menggunakan kartu pengenal lamanya saat bekerja di kantor itu.
“Eh, lihat deh. Itu ‘kan mantan sekretaris bos yang jadi istri simpanan dan akhirnya berhasil membuat Pak Satria dan Bu Feli bercerai,” kata salah seorang pegawai Satria.
Pernikahan Satria dan Kania memang belum diumumkan secara resmi, karena baru kemarin Satria bercerai dan malamnya menikahi Kania secara resmi. Belum banyak yang tahu jika mereka sudah menikah resmi termasuk para pegawai.
“Iya, aku dengar-dengar wanita itu memang perusak rumah tangga orang. Lihat deh, penampilan dia yang dulu sebelum jadi istri simpanan, sekarang dia naik mobil. Mau antar makan siang buat laki-laki yang berhasil direbut,” balas perempuan lainnya.
“Iya ya. Walaupun Bu Feli juga selingkuh, tapi bukan berarti dia bisa menggantikan posisi Bu Feli untuk menghangatkan ranjang bos kita ya.”
Tiga perempuan itu tertawa mengejek Kania yang sedang menunggu lift terbuka. Meski hatinya terasa sakit, tapi dia sama sekali tidak membalas karena sedikit banyak apa yang mereka katakan memang ada benarnya.
Kania mengatur napas saat merasakan sesak di dada saat mengingat semua yang dikatakan oleh pegawai-pegawai di bawah tadi. Saat pintu lift terbuka, Kania disambut Sekretaris Gio yang tadinya ingin turun menyambut istri bosnya.
“Nyonya, Anda baik-baik saja?” tanya Sekretaris Gio.
__ADS_1
“Ya, aku baik-baik saja kok. Memangnya kenapa? Terlihat jelek ya?” Kani tersenyum menutupi rasa sakitnya. Dia mencoba sebisa mungkin membuat sekretaris suaminya itu tidak curiga.
“Oh, buka begitu Nyonya. Kenapa tidak ada pengawal?”
“Aku suruh mereka tunggu di bawah. Sudahlah, aku ke sini mau ketemu Mas Satria. Dia belum keluar makan, ‘kan?”
“Tuan masih ada tamu. Tuan Gabriel yang di kampung waktu itu tiba-tiba ingin bertemu,” jawab Sekretaris Gio.
“Mas Gabriel? Ada apa?”
.
.
.
Ada sesuatulah sama Alana 😄😄
__ADS_1
yuk, jempolnya jangan dilupain ya 😚😚😚