
“Aku sudah mengusir Feli dari rumah. Rumah itu tidak termasuk dalam harta bersama. Jadi, dia tidak berhak tinggal di sana,” kata Satria yang menjawab ketakutan Kania sebagai istri kedua.
“Meskipun tidak tinggal di sana, tapi kenangannya akan tetap ada di rumah itu, Mas.”
Kania enggan tinggal di rumah yang pernah menjadi saksi kebahagiaan dan cinta antara suaminya dan istri pertama. Ya, walaupun dia mengenal Satria saat laki-laki itu menjadi suami Feli, tapi sebagai perempuan sisi egois Kania juga tidak menginginkan suaminya terbayang-bayang kenangan masa lalu nantinya.
“Jadi, kamu mau bagaimana, Sayang? Kamu mau aku membeli rumah baru? Kita tidak bisa tinggal di apartemen, di sana tidak bisa menempatkan banyak orang. Aku khawatir dengan keselamatan kamu, Kanya.”
Satria masih bersikeras ingin Kania tinggal bersamanya. Sebelum perceraian dan mendaftarkan pernikahannya dengan Kania, selama itu pula Kania belum bisa aman dari jangakauan Feli dan mamanya.
“Itu lebih baik, Mas. Walaupun rumah sederhana, atau rumah kontrakan sekali pun, rasanya akan membuat kita jauh lebih tentram daripada tinggal di rumah mewah yang pernah kamu bangun untuknya.”
Satria memikirkan kata-kata Kania. Memang ada benarnya jika Kania tinggal di rumah itu, pasti dia akan merasa tidak nyaman.
“Aku akan membeli rumah baru untukmu, tapi untuk sementara, kita tinggal di rumah itu dulu ya, demi keselamatan kamu, Kanya.”
__ADS_1
Meski berat hati, Kania mengangguk. Kemarin, karena keegoisannya yang tidak ingin kembali ke ibu kota bersama Satria, dia mengalami penyerangan yang membuatnya keguguran. Sekarang, dia harus menekan egonya, demi Satria.
“Baiklah, tapi kamu yakin Feli tidak mempermasalahkan ini?”
Mendengar pertanyaan itu, Satria memeluk istrinya dengan erat. “Selama ada aku, tidak akan ada yang bisa mengganggumu, Sayang.”
.
.
.
Untuk pertama kalinya, Kania menginjakkan kaki di istana Satria. Rumah yang sangat megah itu memang layak disebut istana. Kania sampai bingung, kenapa Feli tidak puas dengan Satria, padahal Satria sangat kaya raya?
Tepat saat Kania turun dari mobil sambil dirangkul oleh Satria, Feli keluar dari rumah menyeret koper besar miliknya.
__ADS_1
“Oh, jadi kamu mengusir aku karena permintaan pelaacur ini?” tanya Feli sambil bersedekap dada. “Dasar wanita ular tidak tahu malu! Sudah merebut suami orang, berani-beraninya meminta Satria untuk mengusirku?”
“Feli tutup mulutmu!” Satria bergerak maju, tapi Kania menahannya. Tidak ada gunanya ribut sekarang, karena Feli tidak akan bisa dihentikan.
“Dia memang pelaacur. Kalau kamu pikir kamu berhasil mendapatkan Satria, kamu salah. Satria menikahimu karena naafsu, tapi dia menikahiku karena cinta. Dia mengejarku selama lima tahun, pernikahan kami adalah wujud cintanya yang begitu besar. Kamu ingat baik-baik ya wanita ular! Setiap sudut rumah ini, sudah terukir kenangan kami, dan aku yakin Satria tidak akan melupakannya dengan mudah. Kamu akan segera dibuang saat dia bosan!”
“Gio, usir dia dari sini. Sudah cukup dia berpidato. Aku sudah muak mendengar suaranya yang selalu berkata kotor.”
Kania menundukkan kepala. Dia merasa apa yang Feli katakan mungkin ada benarnya. Satria sekarang bersamanya, kalau sudah bosan mungkin dia akan bernasib sama dengan Feli.
“Aku akan tinggal di apartemen, itu hadiah ulang tahunku kalau kamu lupa, Sat.” Feli menepis tangan Gio yang akan membawanya keluar dari halaman rumah mewah itu.
“Ambil saja, aku tidak peduli denganmu lagi.”
.
__ADS_1
.
Besok lagi ya gess.. mau rebahan dulu sambil mantau komen🤣🤣🤣 kalau sepi lagi ya besok aku libur 😜😜