
Kania dan Satria sampai di rumah mewah yang baru beberapa waktu lalu dibeli oleh Satria. Laki-laki itu menghadiahkan rumah mewah itu untuk istrinya sebagai hadiah pelipur lara usai mengalami keguguran dulu. Kini, mereka memasuki rumah itu dengan calon anggota baru keluarga Hartono yang kini ada dalam kandungan Kania.
Sebagai wanita hamil yang butuh perhatian khusus, Kania diperlakukan begitu istimewa oleh suaminya.
“Awas hati-hati, kata dokter apa tadi.” Laki-laki bernama Satria itu terus mengoceh selama perjalanan. Bahkan, sampai di rumah pun dia terus mengoceh memberikan nasehat-nasehat yang sebenarnya Kania sendiri sudah tahu.
Bagi Kania, itu adalah sebuah perhatian yang sangat luar biasa. Satria memanjakannya dengan kasih sayang berlimpah. Padahal, jika menoleh ke belakang, dia hanya seorang istri kedua yang bertugas melayani Satria demi melunasi utang, tapi sekarang roda sudah berputar. Kania menjelma menjadi ratu di hidup Satria.
“Iya, Mas. Ya ampun, aku kayak nenek-nenek di panti jompo sampai jalan saja diperhatikan begini,” kata Kania setelah mereka berhasil melewati anak tangga menuju teras rumah.
“Kok kalian sudah pulang sih?” Anna muncul dari dalam rumah setelah mendengar putra dan menantunya pulang lebih awal. Padahal, Satria bilang mereka akan menginap di hotel itu selama tiga hari.
Satria dan Kania memang belum memberitakan kabar kehamilan Kania pada keluarga yang lain karena memang Kania baru beberapa saat lalu dinyatakan hamil.
“Iya, Mom. Kita ada kabar bahagia soalnya,” jawab Satria sembari merangkul pinggang Kania.
Anna dan Kania melakukan ritual ala perempuan saat bertemu. Kemudian, mereka sama-sama masuk ke rumah Satria dan Kania.
“Kabar bahagia apa nih, Mommy jadi penasaran.”
__ADS_1
“Wah pengantin baru sudah pulang? Cepet banget bulan madunya, perasaan belum ada tiga hari deh,” celoteh Alana sembari mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.
“Iya, Sat kamu cepat banget udah pulang,” sahut Alfaro.
Jadi, memang orang tua dan juga adik Satria sengaja menginap di rumah Satria setelah pesta tadi malam, bukan menginap di hotel. Karena itulah, tidak heran jika semua keluarga sekarang berkumpul. Kesempatan baik juga untuk Satria dan Kania mengumumkan calon anggota baru keluarga mereka.
“Ya, tadinya mau lama-lama sih, Dad, Mom. Tapi, pas tahu Kania lagi berbadan dua, kami memutuskan untuk pulang. Enggak baik juga kalau terlalu sering olah raga di kehamilan yang masih sangat muda ini,” jelas Satria setelah mengajak Kania untuk duduk di ruang keluarga.
Semua orang yang mendengar pernyataan Satria itu kini menatap Kania dengan tatapan tanda tanya. Apakah maksudnya Kania sedang hamil saat ini?
“Kamu hamil, Sayang?” tanya ibu mertua Kania yang kini merapatkan duduknya pada sang menantu.
“Wah, cepat banget hamilnya. Mbak Kania juara banget deh,” puji Alana pada sang kakak ipar.
Anna mengusap perut Kania yang masih datar. “Ya ampun, mommy jadi semakin sadar umur. Selamat ya, Sayang,” ucap wanita itu yang kemudian memeluk Kania dengan bahagia.
“Yang hebat itu kakak, Lana. Mbak Kaniamu itu ‘kan menampung dan mengolah hasilnya. Yang punya bibit berkualitas ya kakakmu ini.”
“Astaga Satria. Kamu semeesum ini ajaran siapa sih. Daddy El?” sahut Alfaro sembari menggelengkan kepala.
__ADS_1
Kania sendiri merasa malu dengan ucapan suaminya, untung saja dia sedang bersembunyi di balik pelukan sang mertua.
“Oh, ya enggak juga sih, Dad. Naluriah itu.”
“Aku enggak ikut-ikutan, aku masih kecil,” sahut Alana sembari berpura-pura menutup telinga.
“Kalau masih kecil, ‘kan itu si Gabriel lebih tua pasti lebih berpengalaman, Lana.”
“Abang apaan sih, aku enggak ada hubungan sama dia.”
Alana selalu memanggil Satria dengan panggilan abang saat gadis itu merasa kesal dengan kakaknya.
“Bukannya kamu udah ketahuan ya kalau kamu dari keluarga Hartono? Jadi gimana sekarang hubungan kamu sama dia?”
Alana menatap kakaknya dengan mata memicing. “Abang Satria! Nyebelin banget sih!”
***
Kembang kopinya jangan lupa gaess 💋
__ADS_1