
..."Bersyukur. Adalah hal yang paling di butuhkan dalam keadaan sulit"...
..._kangCilok_...
Siapa yang tak kesal, jika melihat sahabat baik kita, bisa nampak akrab dengan musuh kita sendiri. Begitu pula dengan Cia yang merasa kesal, entah apa yang sebenarnya membuat ia merasa kesal seperti itu. Apa karna Bima yang dekat dengan Kiki ataukah karena pertengkaran kecilnya dengan Jay? Entahlah.
"Bima!" Bentak Cia seraya menatap tajam.
Sontak saja Bima dan juga Kiki melihat dengan bersamaan ke arah Cia yang sudah berdiri di depan pintu kelas. Kebetulan sekali itu waktunya istirahat, dan para murid lainnya semua pergi ke kantin untuk beristirahat setelah ujian yang melelahkan tadi. Kini di dalam ruangan itu hanya tinggal mereka bertiga.
Bukannya menghampiri Bima, tapi Cia langsung saja pergi dari sana dengan raut wajah yang sudah memerah karena kesal. Melihat itu, Bima langsung menghela nafas dalam.
"Loe harus inget kata-kata gue tadi Ki, loe tau kan kalau Cia itu berarti buat gue," jelas Bima.
"Gue gak peduli Bim, itu urusan loe bukan gue!" jelas juga Kiki.
"Terserah loe aja, gue udah peringatin loe ya."
"Hem, loe kira gue bakalan terima anak haram itu sebagai adik gue, loe terlalu naif Bim," ketus Kiki.
"Gue udah bilang, dia bukan anak haram!"
"Jadi apa, anak yang terbuang atau ... "
Belum habis Kiki melanjutkan ucapannya, Bima langsung saja mencekik keras leher Kiki saat itu juga hingga Kiki merasa kehabisan nafas untuk sesaat.
"Jaga mulut loe Ki, gue bisa aja bunuh loe saat ini juga. Tapi, gue masih kasih kesempatan!"
Kiki hanya bisa menatap tajam seraya menahan sakit karena tangan Bima masih mencekik lehernya. Untung saja, salah seorang murid lain hendak masuk ke dalam ruangan kelas hingga akhirnya Bima melepaskan dengan segera cengkaraman tangannya itu.
"Uhuk ... Uhuk," Kiki terbatuk-batuk merasakan sempitnya udara yang ia rasakan tadi.
"Loe harus ingat, kata-kata gue tadi." ucap Bima.
Bima langsung pergi meninggalkan Kiki sendiri, sedangkan siswa tadi tampak pucat pasih dengan apa yang ia lihat barusan.
Di sisi lain, Cia menuju ke arah kantin untuk melampiaskan amarahnya dengan para makanan lezat. Hingga ia bertemu tiga murid kelas satu yang terbilang pemalu.
Melihat itu, kebiasaan buruknya timbul kembali ke permukaan.
"Hei kalian bertiga, sini." ucap Cia sedikit berteriak.
Ke-tiga siswi tadi langsung memasang wajah pucat pasih, mereka tau nasib apa yang akan mereka hadapi jika bertemu dengan Cia. Merekapun akhirnya berjalan mendekati Cia.
"Gimana ni, ada kak Cia habislah kita," bisik Melda.
"Aku takut," ucap Lisa.
"Huss, jangan berisik. Nanti kak Cia dengar," bisik Clau.
Akhirnya mereka bertiga menghadap Cia dengan tundukan kepala karena takut. Tekanan aura Cia yang garang dan berlabel preman membuat ia mudah di takuti terutama di kalangan anak-anak yang sering tertindas.
"Kalian ini lambat banget sih, keturunan sifut ya?" ledek Cia.
"Maaf kak, jangan hukum kami." ucap Melda, sembari meremas kuat buku yang ia bawa.
Sedangnkan Lisa dan juga Clau hanya bisa berdiam diri. Cia yang melihat itu mengkerutkan dahinya merasa heran. Seakan label yang ia bawa nampaknya sudah terpampang di setiap pikiran siswa-siswi Nusa Wijaya. Mereka bertiga kini kompak diam seribu bahasa, pandangan mereka tertuju pada langit-langit lantai sekolah. Dan, itu semakin membuat Cia merasa kesal.
"Lagi cari apa dibawah? Emangnya ada uang disana!" celoteh Cia.
"Eh ... E-Enggak kak, maaf kami ... " jawab bertiga serentak.
"Minta maaf terus, gak bosen apa kalian? Ais, sudahlah gue lagi gak mood ngadepin kalian." keluh Cia sembari mengacak sedikit rambutnya yang terikat super rapi.
Melda, Lisa dan juga Clau merasa heran dengan sikap Cia yang tidak sejahat di bicarakan oleh seluruh sekolah. Pikiran mereka masih terheran-heran melihat sikapnya itu, masing-masing dari mereka berpikir jika Cia tidaklah sejahat yang mereka pikirkan selama ini.
"Kalian bertiga anak kelas satu kan?" tanya Cia serius.
"Benar, Kak." jawab serentak dari ketiganya.
"Sekarang gue tanya, siapa di kelas kalian yang paling kaya?" selidik Cia lagi.
"Maksud, Kakak?" tanya Lisa
"Maaf kami gak paham, Kak." ucap Melda.
__ADS_1
"Kalian ini, udah akh, capek tanya sama kalian. Udah sana masuk kelas belajar yang rajin, gue mau malakin yang lain aja." ucap Cia sembari melenggang pergi begitu saja.
Mereka bertiga masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, bisa-bisanya seorang preman menasehati mereka untuk giat belajar. Mungkin selama ini pendapat orang tentang Cia sudah keliru.
"Gue lagi kenapa sih, bisa-bisanya mangsa gue lepas gitu aja tadi. Malahan sok banget gue semangatin anak cupu itu, akh ... sudahlah pusing gue mikir terus." batin Cia.
...***...
Sedangkan di lain sisi, Ivan tengah di larikan di rumah sakit terdekat akibat mendapat luka sayatan di sekujur tubuhnya yang di hasilkan dari pertempuran melawan geng cakar kucing. Untung saja, nyawanya terselamatkan karena tepat waktu mengantarnya di rumah sakit.
"Gimana ini, tuan pasti marah besar kalau tau kondisi kak Ivan." cemas Boby salah satu pengikut setia Bima.
"Loe aja deh yang kabari Kak Bima, gue gak berani." ucap Rick pengikut Bima lainnya.
"Nanti aja kita kabarinya, tunggu kak Ivan siuman dari masa kritisnya. Lagian kita juga mesti rawat luka-luka ini," ucap Refan.
"Gue takut Kak Bima bakalan marah besar, karena kita kalah dalam pertarungan tadi, terlebih sebagian dari kita sudah tewas di tangan geng cakar kucing." ucap cemas Boby sembari memegangi luka sayatan di bagian tangannya.
Tak lama seorang dokter keluar dari ruang ICU tempat dimana Ivan di rawat. Semua nampak cemas dan langsung menyerbu Dokter itu dengan berbagai pertayaan yang ada.
"Tenanglah, dia sudah baik-baik saja sekarang. Sekarang kita hanya perlu menunggu dia sadar, dan untuk kalian harusnya obati dulu luka agar tidak infeksi," jelas Dokter.
"Baguslah, Kak Ivan baik-baik saja." ucap Refan.
"Terima kasih, Dok." ucap Boby.
"Ya, sama-sama. Kalian bertiga harus segera obati luka itu," tihta dokter.
"Tentu saja, Dok. terima kasih." ucap rick.
Dokter itu kemudian pergi menjauh untuk melanjutkan tugasnya yang lain, dan begitu juga dengan Boby, Refan dan juga Rick. Mereka bertiga juga pergi untuk merawat luka akibat pertempuran sengit tadi.
...****...
Pukul 14:50
Akhirnya bell telah berdering keras. Menandakan seluruh siswa-siswi sudah di perbolehlan untuk kembali kerumah masing-masing. Rasanya lelah dan penat yang menumpuk seharian dan bersarang di pikiran mereka seketika plong (lega) seketika.
Ya, anak jaman sekarang memang begitu. Dari kebanyakan kalau soal belajar 5 menit saja sudah merasa bosan, penat, gabut tak karuan bak seperti cacing kepanasan. Tapi jika menyangkut game online, mereka akan tahan dari pagi hari sampai pagi hari kembali. Sungguh ironis jika melihatnya.
"Cia," panggil, Bima.
Panggilan itu tak dihiraukan sama sekali olehnya. Cia sengaja memakai harfound untuk menghindari ucapan Bima. Entah apa lagi yang merasuki Cia saat ini, sepertinya dia lagi PMS hingga marah-marah tidak jelas. Kiki yang melihat itu hanya terseyum kecut dan terus merapikan buku-bukunya.
Entah apa juga yang merasuki Kiki hingga dalam beberapa hari ia tak lagi memainkan peran baku hantamnya jika bertemu Cia. Itu semua sengaja ia hindari karena mendapat ancaman dari Papanya, Pak Agung Sukti Wijaya.
Setelah selesai berkemas, Kiki dengan acuh melenggang pergi meninggalkan mereka berdua.
"Tunggu, Ki." panggil Cia
Kiki berbalik mentap Cia. "Apa?" ucapnya dingin.
"Gue nebeng (menumpang) sama loe pulangnya," ucap Cia tanpa ragu-ragu.
"Nebeng? Apa itu? ... " Kiki terheran-heran.
"Gue pulang bareng loe, dasar kudet (kurang update)" celoteh Cia.
Sontak saja ucapan Cia itu membuat Kiki dan Bima terpengangah merasa heran. Tentu saja, karena ini hal langka yang tidak pernah mereka temui. Bisa-bisanya Cia sendiri yang meminta pulang bareng dengan orang yang paling ia benci itu.
"Gue males banget pulang bareng dia, tapi kalau gak gitu Bima pasti bakalan ceramah panjang lebar lagi nanti, terpaksa deh gue." batin Cia.
"Loe yakin mau pulang sama, gue?" tanya Kiki heran, seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa, itu juga mobil gue kan?" jawab Cia tanpa ragu-ragu.
"Terserah loe aja, gue udah janji sama Papa untuk gak berantem lagi sama loe," jelas Kiki.
"Dasar anak, Papa." gumam Cia.
Akhirnya mereka berdua pulang bersama kerumah untuk pertama kalinya, sedangkan Bima juga langsung pulang ke gedung tua. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam membisu, sembari menatap keluar jendela dari tempat duduk mereka masing-masing. Sedangkan Pak Ucok supir pribadi Kiki untuk beberapa saat memperhatikan kejadian langkah itu.
Sesaat Cia mencoba menurunkan kaca mobil itu tapi tak kunjung berhasil. Karena ia sedari kecil memanglah sudah hidup susah, dan setelah dewasa ia juga tak pernah sekalipun ikut masuk ke dalam mobil karena kebencian yang teramat besar itu.
Beberapa kali Cia mencoba mengetuk-ketuk kaca mobil berharap akan bisa membuka kaca mobil tersebut. Kiki yang melihat itu, merasa heran atas tingkah norak yang Cia lakukan.
__ADS_1
"Loe, ngapain sih?" tanya Kiki.
"Apaan sih, Ki. Urus aja urusan loe sendiri!" jelas Cia.
"Kalau mau buka jendela mobil bukan gitu caranya, kalau gak tau itu tanya jangan gengsian jadi orang!" cibir Kiki, sembari membantu membukakan jendela mobil.
Kiki menekan tombol otomatis hingga kaca jendela-pun ikut bergerak naik dan turun sendiri. Cia yang melihat itu merasa terpanah dan takjub, karena biasa ia menaiki mobil terbuka beralaskan haparan langit. Matanya seraya naik dan turun mengikuti irama kaca mobil, Kiki yang melihat itu langsung terpikirkan rencana jahil untuk memberi pelajaran pada Cia.
"Hei, loe."
"Apa?" ucap Cia yang masih terfokus pada luar jendela.
"Coba deh loe, keluarin kepala keluar jendela. Pasti seru," ucap Kiki.
"Serius?" Cia heran tak percaya.
"Terserah loe aja mau percaya atau gak, gue cuma kasih tau hal seru." ucap Kiki santai sembari menatap ke arah lain.
Pak Ucok seketika melirik dari balik kaca ... , ia tau apa yang akan di rencanakan oleh Kiki. Langsung saja Pak Ucok mengkunci kaca mobil hingga tertutup rapat, di sisi lain Cia hampir saja mau mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil. Kiki yang melihat itu merasa tidak senang dan menatap tajam pada Pak Ucok.
"Eh, kok ketutup lagi jendelanya?" tanya Cia heran.
"Maaf, Nona Cia, jalanan terlalu banyak polusi dan juga sangat berbahaya jika Nona berbuat seperti itu," ucap Pak Ucok penuh hormat.
Mendengar hal itu, Cia langsung mengarahkan pandangannya pada Kiki. Ia tersadar jika hampir saja Kiki mencoba menipu dirinya.
"Loe, berani mau celakai gue hah!"
"Kalau iya kenapa? Loenya aja yang terlalu bod*h jadi anak," cibir Kiki.
"Kurang ajar loe, Ki!"
Belum sempat Cia melayangkan pukulannya Pak Ucok sudah lebih dulu memberhentikan secara mendadak mobil tersebut di tepi jalan. Hingga kedua kepala anak itu sampai terbentur kan kursi depan.
Ckittt ....
"Akh! ... " Spontan mereka berdua teriak serentak.
"Maaf Nona-Nona, (bukan Nano-nano ya guys) Bisakah Nona tidak berisik sebentar saja, saya takut tidak bisa konsenstrasi membawa mobil ini nantinya," ucap Pak Ucok terseyum paksa menghadap mereka berdua.
Seketika Cia dan juga Kiki langsung diam di tempat mereka masing-masing. Dan Pak Ucok kembali menjalankan mobilnya dengan santai. Hingga beberapa saat sampailah mereka di kediaman Wijaya.
Kiki langsung turun dari mobil begitu pula dengan Cia. Kiki perlahan menjauh entah begitu pula dengan Cia tapi Pak Ucok memanggil Cia,
"Tunggu dulu, Nona Cia." panggil Pak Ucok.
Cia menghentikan langkah kakinya dan berbalik seketika. "Ada apa?" tanya Cia.
"Tolong, berhati-hatilah." pintanya.
Cia mengangkat sebelah alisnya, merasa heran dengan apa yang di katakan supirnya itu.
"Maksudnya?"
"Tidak ... Tidak. Maaf saya hanya asal bicara saja Nona." ucapnya sembari mengusap rambutnya sendiri.
"O-Oke,"
"Apa yang Pak Ucok maksud?" batin Cia.
Tanpa berpikir panjang lagi ia langsung saja melangkah jauh dari sana dan mulai memasuki rumah. Setiba di ruangan utama terlihat Bibi Imah mulai menghampiri dirinya.
"Nona sudah pulang sekolah ternyata, ayo makan dulu, Non." ucapnya lembut.
"Gak,"
"Tapi, Nyonya berpesan ... "
"Dia pergi keluar lagi?"
"Eh, benar, Non." jawab Bi Imah cepat.
"Sebenarnya apa yang wanita itu lakukan, sejak gue datang ke rumah ini dia selalu saja pergi di hari yang sama? Akh apa urusannya denganku dia mau berbuat apa." batin Cia.
..._Bersambung_...
__ADS_1
"Teruntuk semua pembaca setia JPA! Kang cilok sangat berterima kasih untuk kalian yang masih stay di sini dan setia mendukung akang... Maaf juga karena akang jarang banget update sampai cerita ini bersarang macam gua belantara 😂 Doakan akang terus ya agar bisa Up setiap hari dan cerita ini di sukai banyak orang. Sampai jumpa di episode berikutnya"😉