JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#36


__ADS_3

“Terkenang masa lalu boleh saja, akan tetapi jangan sampai engkau terseret kedalamnya terlalu dalam.”


...***...


.


.


.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam membisu satu sama lain. Saling berdiam diri. Jay fokus mengemudi, sedangkan Cia terus saja larut dalam pemandangan langit-langit malam. Cia sangat merasakan keletihan. Ia hanya memikirkan untuk segera menyelesaikan semua sandiwara ini, dan langsung pergi.


Beberapa saat, keduanya sampai pada tujuan mereka. Sebuah café berkelas tinggi, menjadi pilihan Adiputera untuk pesta putra kesayangannya. Jay.


Sesampainya mereka, Jay dan juga Cia langsung saja turun. Cia sempat takjub atas apa yang ia lihat. Pemandangan dari tempat yang berkelas, walau ia sudah sering melihat berbagai tempat kalangan atas, namun ada perasaan nyaman saat ia melihat sebuah café tersebut.


“Apa loe suka tempat ini?” tanya Jay yang sudah sedari tadi memperhatikan cia.


Cia langsung saja menggeleng. “Gak. Gue Cuma takjub doang,” ucapnya yakin.


“Bukankah sama aja. Kalau loe mau, gue bisa beli tempat ini nanti, bagaimana?” tanya Jay lanjut.


Cia menaikan alisnya. “Jangan lebay deh. Sekarang kita masuk aja, jangan aneh-aneh!!”


Cia langsung saja berjalan mendahului Jay. Namun, Jay langsung menahan lengannya.


“Apaan sih, Jay?”


“Kita masuk bersama.”


“Yaudah. Gak mesti gandengan tangan juga kan, “ ketus Cia.


“Harus. Loe lupa apa status kita sekarang.” Jay sedikit kuat menggenggam lengannya.


“Huft. Kekanakan banget sih, heran gue.” Cia menghela nafasnya pelan.


Akhirnya keduanya masuk ke dalam café bersama-sama, sembari bergandengan tangan. Ada ukiran sedikit senyum di bibir Jay. Rasa kepuasan.


“Gue gak akan biarin loe pergi Cia, gak akan pernah,” batin Jay.


Keduanya terus melangkah bersama. Seperti sebuah pasangan yang romantis. Setidaknya itu adalah citra yang harus mereka tunjukan pada dunia.


Sesaat setelah Cia dan Jay masuk ke dalam ruangan pesta. Tampak sudah begitu banyak tamu undangan yang datang. Tidak ada para orang tua yang kaku di sana, hanya ada anak-anak remaja yang menghadiri upacara tersebut. Setidaknya itulah yang mampu membuat Cia sedikit tenang.


Tanpa menunggu lama, semua tamu undangan sudah berebut untuk memberikan ucapan selamat kepada Jay. Banyak dari mereka semua hanya ingin sekadar berbasa-basi kepada Jay, seraya hanya untuk mencari perhatian lebih untuk menopang usaha keluarga mereka masing-masing.


“Selamat ulang tahun tuan muda, Anda terlihat sangat tampan malam ini,” puji salah seorang tamu.


“Benar. Tuan muda keluarga Adiputera ternyata sangat tampan aslinya,” ucap salah seorang wanita. Salah satu tamu pesta.


“Terima kasih banyak untuk kalian semua. Silakan nikmati pestanya sampai puas,” ucap Jay penuh kharisma.


Cia yang berada di sampingnya merasa tertegun. Ia baru melihat kharisma yang Jay tunjukan selama pesta berlangsung.


“Mereka gak capek apa, pura-pura senyum gitu. Dasar orang-orang muka dua,” gerutu Cia.


“Fptt.” Jay menahan tawa.


“kenapa ketawa?” tanya Cia.


“Gak. Lucu aja,” elaknya.


“Apanya yang lucu? Dasar aneh!”


Beberapa saat kemudian, datang dua pria menghampiri Jay dan juga Cia.


“Wah, wah. Kakak Jay sangat terkenal sekarang. Sampai kami saja harus mengantri untuk memberikan ucapan selamat kepadamu,” ledek salah satu pria tersebut.


Robin. Sebut saja begitu, seorang anak dari salah satu rekan bisnis Adiputera. Sepupu jauh Jay.


“Jangan berani menggodanya. Apa kamu mau kita mati!!” sahutnya, menimpali ledekan tadi.


Kenzo. Ia juga sepupu jauh Jay dan juga sahabat masa kecil Jay.


“Aku kira kalian gak akan datang,” jawab Jay.


“Bagaimana mungkin kami tidak datang. Di kesempatan sebelumnya aku belum bisa melihat calon kakak iparku,” goda Robin.


“Ya benar. Karena ada urusan bisnis di luar negeri saat itu, jadi kami berdua gak bisa datang di acara pertunanganmu Kak Jay,” jelas Kenzo.


“Tidak masalah. Yang penting kalian ada di sini,” ucap Jay santai.


“Ouh ya, perkenalkan dia Cia.Tunanganku,” ucap Jay lagi.


Seketika Cia mendengar pernyataan tersebut. Ia merasa malu. Namun, berusaha bersikap santai.

__ADS_1


“Halo kakak ipar, namaku Kenzo. Senang bertemu denganmu. Wah, kau sangat cantik. Lebih dari rumor yang beredar,” ucap Kenzo bersemangat.


Kenzo mengulurkan tangannya. Mengajak Cia bersalaman. Cia membalas sautan tangan tersebut.


“Cia,” ucapnya datar.


“Hai Kakak ipar. Aku Robin, sepupu dari Kak Jay,” ucap Robin mengulurkan tangannya.


Cia kembali bersalaman kepada Robin.


“Cia.”


“Wah, wah. Kakak ipar lebih dingin melebihi Kak Jay. Haha, ini mengejutkan,” celoteh Kenzo.


Robin memukul pelan kepala Kenzo.


“Diamlah, Kenz. Atau kau akan di kubur hidup olehnya nanti,” sahut Robin yang juga ikut menjahili Cia.


“Pftt.” Cia tertawa kecil.


Dirinya tak kuasa menahan hal lucu yang di sebabkan kedua sahabat Jay.


Jay melihat itu. Ia juga mengukir senyuman.


“Aduh aku sangat lapar. Apa kita semua akan berencana berdiri di sini sepanjang malam. Ayolah kita ke lantai atas dulu,” rengek Kenzo.


“Dasar tukang makan,” sahut robin.


“Baiklah. Kita naik ke atas dahulu. Ayo,” ajak jay.


Akhirnya mereka ber-empat pergi menuju ke lantai atas. Ruangan VVIP. Ruangan khusus yang hanya di siapkan untuk Jay dan juga Cia beserta keluarganya. Sedangkan yang lainnya, tetap berada di lantai dasar.


Sesampainya di lantai atas. Mereka langsung duduk dan bersiap menyantap makanan yang sudah tersaji sejak awal beserta sebotol wine.


“Ayo, kita rayakan hari spesial ini dengan bahagia,” ucap Kenzo yang sudah menggenggam segelas wine di tangannya.


Ajakan itu di sambut oleh Jay dan juga Robin. Namun, tidak dengan Cia.


“Kakak ipar, ayo kota bersulang,” ajak Robin.


Jay hanya menatapnya.


“Gue gak bisa minum.”


“Baiklah. Aku pesankan juz untukmu,” ucap Jay berinisiatif. Dirinya memanggil pelayan dan memesankannya.


“Cobalah sedikit saja Kakak ipar,” pinta Robin.


“Iya kak, cobalah sedikit,” sahut Kenzo.


“Gue gak suka di paksa!!”


“Kalian berdua hentikan. Dia sudah bilang tidak bisa minum kan, jadi berhenti merengek,” ucap Jay dengan tatapan tajamnya.


“Baiklah. Maafkan kami Kakak ipar.”


Kenzo dan juga Robin menundukan kepalanya. Merasa bersalah.


“Sudahlah. Jangan seperti itu, gue udah maafkan kalian,’ jawab Cia.


“HIks, Kakak iparku terbaik. Terima kasih kakak ipar,” ucap Kenzo berusaha bersikap imut kembali.


Cia menaikan alisnya melihat tingkah kenzo. Begitu pula dengan Jay.


“Hentikan, Kenz. Perutku mual melihatmu begitu,” ucap Robin.


“Cih, kalian semua memang tidak tau caranya bersenang-senang,” keluhnya.


“Kapan pesta ini akan berakhir,” batin Cia.


Beberapa saat kemudian. Pesanan tersebut datang.


“Nah, sekarang mari kita bersulang.” Kenzo mengangkat gelasnya.


“Selamat ulang tahun untuk Tuan muda dari keluarga Adiputera. Jay adiputera,” seru Kenzo lagi.


“Criss.”


Mereka bersulang bersama.


Beberapa saat kemudian. Di saat mereka ber-empat menikmati hidangan malam bersama-sama. Tampak seorang gadis dengan tubuh yang jenjang, berkulit putih, rambutnya yang terurai panjang padupadan dengan gaun merahnya yang seksi sedang menghampiri Jay dengan yang lainnya.


“Hai sayang,” ucapnya bersuara seksi.


Cia seketika mengentikan aktivitas makannya, begitu pula dengan yang lain.

__ADS_1


“Wah, bencana datang sekarang,” gumam Kenzo.


“Lea,” ucap Jay.


“Selamat ulang tahun Jay.”


Lea langsung saja menyodorkan kedua pipinya kepada Jay. Memberi salam ala barat. Namun, sebelum itu terjadi, Jay langsung menghindarinya.


Cia mengkerutkan keningnya. Tidak suka dengan sikap yang Lea tunjukan.


“Jaga sikapmu, Lea. Kau tidak lihat ada tunanganku di sini!” ucap Jay dingin.


Lea langsung berubah ekpresi. Ia melihat kearah Cia yang menatapnya tajam. Mereka berdua beradu tatapan.


“Ouh. Ini dia anak haram yang menjadi tunanganmu itu, Jay.” Lea memandang Cia rendah.


“Sangat mengecewakan,” ucapnya lanjut.


Cia mengkerutkan kembali dahinya. Ia berusaha menahan kesal demi Jay yang berulang tahun hari ini.


“Lea. Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah Jay tidak mengundangmu?” .tanya Robin.


“Aku tidak perlu undangan untuk datang ke pesta kekasihku sendiri kan,” jawab Lea dengan kepercayaan diri tinggi.


“Jangan menyebarkan rumor yang buruk, Lea. Atau kau akan mati nanti,” celoteh Kenzo. Ia meneguk habis winenya karena ikutan kesal.


Cia berusaha tak menggubrisnya. Dirinya kembali melanjutkan makan. Jay menatap Cia.


“Kenapa sikapnya masih tidak peduli begitu, padahal gue kira dia akan marah karena adanya Lea di sini,” batin Jay.


“Lebih baik gue cepat habiskan makan ini deh. Mungkin pesta yang membosankan ini akan cepat kelar.” batin Cia.


Suasana seketika menjadi suram. Tanpa di duga Lea langsung berinisiatif untuk duduk tepat di samping Jay.


“Jay. Ini hadiah untukmu,” ucapnya sembari memberikan sebuah kotak.


Jay menerimanya. “Terima kasih, Lea.”


“Apa kabarmu Jay. Taukah kau, aku sangat rindu padamu ketika kau memutuskan pindah ke luar negeri dulu,” ucap Lea.


“Aku baik.”


Jay terus saja menjawab singkat.


Seketika Cia beranjak dari duduknya. Jay dan juga Robin beserta Kenzo tertegun.


“Kau mau kemana, Cia?” tanya Jay.


“Toilet.”


“Baiklah,” jawab jay.


Cia pergi meninggalkan ruangan tersebut. Pergi menuju toilet. Namun, beberapa saat Lea juga pergi menyusul Cia.


Cia yang sedang membersikan kedua telapak tangannya di air mengalir. Menatap dirinya sendiri di sebuah cermin yang sangat lebar.


“Kapan ini akan berakhir. Gue capek,” keluhnya.


“Menjauhlah darinya.”


Suara Lea terdengar secara tiba-tiba oleh Cia ternyata Lea sudah ada di pintu masuk toilet.


Cia menatapnya lewat pantulan cermin. Menatap kesal. Mencoba mengacuhkannya. Dan bergegas pergi dari sana.


“Kau tuli ya. Aku bilang jahui dia!!” ucap Lea lanjut.


Cia menaikan alisnya.


“Siapa yang loe maksud?”


“Wah, gaya bicaramu seperti preman ya. Itu pantas dengan identitasmu yang memalukan itu,” ucap Lea santai.


“Maksud loe apa?”


“Cih. Gue Cuma mau peringatkan. Jahui Jay mulai saat ini. Jay hanya milikku seorang. loe paham!” ancam Lea.


“Kalau gue gak mau. Loe mau apa?” ucapnya Cia sembari tersenyum sinis.


Lea seketika mendekati Cia. Menatap tajam.


“Kalau loe gak mau turuti ucapan gue. Gue akan buat loe gak bisa lihat matahari pagi lagi,” ancamnya lagi.


“Oke, ambilah selagi bisa.” Cia tersenyum sinis kembali.“Loe mau Jay kan. Maka ambilah selagi loe bisa, tapi itupun kalau loe punya kemampuan,” ledek Cia.


Bersambung ...

__ADS_1


BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI.


__ADS_2