JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#28


__ADS_3

...“Setiap jejak yang engkau tinggalkan di masa lalu. Selamanya akan mengikutimu seperti halnya sebuah bayangan.”...


...__...


Semua pandangan, kini telah tertuju pada satu tujuan. Jay. Perlahan namun pasti, Jay mulai menuruni anak tangga itu secara elegan-nya. Penuh kharisma. Sangat berbeda jauh dari biasanya yang Cia tau.


Jay masih menuruni tangga, sedangkan para tamu undangan sudah asik bergosip satu sama lain. Ya, kemunculan Jay di depan publik sangatlah mengejutkan banyak pihak.


Selama ini, Adiputera sama sekali tidak pernah menunjukan apapun yang berhubungan dengan putranya tersebut. Semenjak kecil, Jay sudah hidup seorang diri di luar negeri. Wajar saja jika seluruh para tamu undangan baru pertama kali melihat sosok dari seorang, Jay Adiputera.


Semua memandang Jay dengan kagum, ada juga yang masih penasaran alasan di balik kemunculannya sekarang ini, dan ada juga yang bersikap acuh tidak peduli. Cia dan juga Kiki. Mereka berdua seolah tidak mengaggap Jay adalah sesuatu yang mampu membuat keduanya terpesona.


“Kapan acara ini akan selesai. Para orang kaya ini, semuanya sama. Sama-sama penipu.” Cia mengumpat dalam hatinya.


Di sela langkah kaki Jay, ia tanpa sengaja melihat keberadaan Cia di tengah kerumunan para tamu. Terlihat jelas jika wanita itu menunjukan rasa bosannya, dan hal itu membuat Jay tersenyum tipis melihat tingkah laku Cia yang konyol.


Setibanya Jay sampai di tengah aula pesta, Adiputera langsung menepuk pundak Jay. Tanda kebanggannya. Jay tersenyum tipis kepada semua tamu. Sikapnya sangat begitu kharismatik hingga membuat kaum hawa kagum padanya. Balutan kemeja putih berlapis jaz hitam beserta sepatu pantopel hitam, melengkapi kesempurnaan, Jay.


Tanpa menunggu waktu lama, Adiputera langsung memperkenalkan Jay kepada semua orang. Ia menjelaskan jika, di balik alasan Jay baru muncul di publik saat ini adalah sedari kecil Jay sedang berada di luar negeri. Tak ada alasan lain. Tetap saja, bagi sebagian orang hal ini masih sangat aneh. Namun, mereka semua memilih diam.


“Baiklah, setelah saya memperkenalkan putra tunggal saya, sekarang saya akan membuat satu pengumuman penting lainnya.” Ad bersiap diri, menghela nafas sejenak. “Putra tunggal saya, Jay Adiputera pada malam hari ini, akan melangsungkan pertunangan dari salah satu keluarga Wijaya.” jelas Ad.


Cia dan juga Kiki semakin gugup saja. Mereka berdua sama-sama merasakan kegelisahan yang mendalam. Masing-masing dari mereka berharap tidak terpilih dalam pertunangan tersebut, karena jika itu terjadi, maka jelas pula kebebebasan mereka berdua akan lenyap seketika.


“Baiklah, saya akan umumkan sekarang, yang akan menjadi pasangan dari putraku, Jay. Dia adalah putri bungsu dari keluarga Wijaya. Priscila Adintira.” Ad melemparkan pandangannya pada Cia yang berdiri tak jauh dari dirinya.


Prok … Prok … Prok ….


Suara gemuruh dari tepuk tangan dari seluruh tamu undangan, sudah menggema di seluruh aula pesta. Cia masih saja diam membisu. Dirinya masih belum bisa menerima atas apa yang baru saja ia dengar barusan.


Dirinya menjadi linglung seketika, pandangan telah tertuju pada dirinya. Sedangkan Cia masih saja kalut dalam pikirannya sendiri. Perasaan gelisah kian bertambah, rasa sesak seketika menyerang, udara kian menyempit. Tak tau harus menunjukan ekspresi seperti apa saat ini.


”Gak, gue gak bisa sama perjodohan ini. Semua ini salah, sangat salah. Kenapa harus gue? Dan sekarang gue harus apa?” Cia masih bertengkar dengan dirinya sendiri.


Berulang kali Adiputera mencoba memanggil Cia untuk maju kedepan, dekat dengan Jay. Namun, Cia tidak sedikitpun menggubris panggilan tersebut. Hingga memaksa Meriska untuk menuntunnya ke arah depan.


Sedikit berbisik ke telingah Cia, Meriska terus mengantarkan Cia kepada Jay. “Sayang, Mama harap kamu tidak membuat masalah. Ingatlah pesan dari Papamu, kehormatan keluarga kita berada di tangan kamu.”


Cia tersadar dalam lamunannya, setelah sadar ia sudah berada di dekat Jay dan juga Ad. Bersiap saling menukar cincin.


Adiputera langsung memberikan sebuah tanda kepada salah satu pelayan, agar membawa sebuah nampan mini, yang di atasnya sudah ada sekotak merah mungil. Tempat cincin tersimpan.


“Mulai pertunangannya.”


Seketika semua hening, siap menyaksikan pertunangan tersebut. Lampu pesta kian meredup, dan terfokus pada pasangan yang akan saling menukar cincin.


Cia masih saja gelisah, ia tak mengerti lagi harus bagaimana menghentikan pertunangan ini. Sepertinya semua sudah terlambat. Jay sudah bersiap memasangkan cincin berlian tersebut di jari manis Cia. Untuk sesaat, Cia mencoba menyembunyikan jari-jemarinya, namun Jay langsung menggenggam kuat jari Cia dan langsung memasukan cincin tersebut.


Kemudian kini saatnya Cia yang memasukan cincin ke dalam jari Jay.

__ADS_1


Terlihat jelas jika tangannya bergetar hebat. Tak kuasa menahan rasa kegelisahannya. Dengan sigap Jay langsung menggenggam lembut tangan Cia.


“Tenanglah, gue ada di sini.” Jay berusaha menenangkan Cia.


Cia mengangguk, menuruti perkataan Jay. Entah kenapa perasannya sedikit tenang mendengar perkataan Jay. Sesaat kemudian Cia sudah berhasil memasukan cincin pertunangan ke jari Jay, dan pertunanganpun telah terjadi. Mereka berdua kini telah menjadi sepasang kekasih.


Suara tepuk tangan kembali terdengar, tanda peresmian hubungan tersebut. Semua tampak ikut berbahagia, namun tidak untuk sebagian orang.


“Akhirnya, sebentar lagi hidupmu akan semakin menderita. Selamat berjalan di neraka Cia!” Kiki bergumam, tersenyum puas.


“Harus segera cari cara untuk membatalkan pertunangan ini, gue gak mau Bima tau dan dalam masalah hanya karna gue.” Cia berucap dalam hati.


“Hari ini adalah hari terbaik, terima kasih, Pa.” Jay memeluk Ad selesai pertunanganya.


Meriska dan juga Agung smendekat pada Ad. Saling berjabat tangan. Tanda di mulainya sebuah hubungan baru.


“Selamat untuk kita, Pak Adiputera,” Agung tersenyum puas.


“Ya, selamat untuk kita. Setelah ini saya harap kerja sama kita akan semakin lancar.” ucap Ad tersenyum tipis.


“Selamat ya sayang, Mama sangat senang.” Meriska memeluk Cia.


Cia berusaha menghindar pelukan tersebut, namun sudah terlambat untuk menghindar.


Semuanya sedang berbasa-basi untuk memberikan ucapan selamat. Cia semakin lama tidak tahan lagi untuk tetap berada di sana, dadanya kian semakin sesak dengan keadaan yang ada. Hingga, memutuskan untuk segera beranjak pergi.


Semuanya masih terkejut atas kepergian Cia yang mendadak. Ad memerintahkan Jay untuk segera menyusul tunangannya tersebut.


Air mata tanpa di minta sudah mengalir deras, membasahi pipi Cia yang mungil. Terlihat menyedihkan. Gaun yang iakenakan sudah terlihat kusut. Perlahan dengan pasti Cia menatap sang rembulan dengan begitu senduhnya.


“Ma, Cia capek.” Hanya itu yang mampu Cia ucapkan.


Air matanya kian mengalir deras semakin lama. Tak bisa berhenti. Perlahan ia menundukan kepala. Lelah dengan segal hal yang ada.


“Cia harus bagaimana lagii, Ma. Aku gak mau Bima terluka, tapi Aku juga gak bisa menerima perjodohan ini, apalagi harus berurusan dengan mereka semua.” Cia menghapus air matanya. “Cia harus gimana, Ma. Aku lelah. sangat lelah.” ia menagis tersedu-sedu.


“Kenapa Mama pergi! Kenapa Mama gak menepati janji Mama sama Cia, kenapa! Cia benci Mama, sangat benci!” Cia tersungkur kembali setelah bebarapa saat meluapkan amarahnya kepada sang rembulan.


Beberapa jam kemudian, tangisan itu telah meredah. Hanya tersisa dari isakan tangis saja. Cia masih duduk di lantai, menatap rembulan sedari tadi. Ia sama sekali tidak peduli apa pendapat orang ketika melihatnya seperti itu.


Langkah kaki terdengar sudah di telingah Cia. Kian mendekat. Dan, sebuah tangan menepuk lembut pundakna. Cia berbalik, menatap siap orang tersebut. Tak lain adalah, Jay.


“Loe! Mau apa loe kesini?” ucapnya ketus.


Jay tidak menjawab. Ia memutuskan untuk ikut duduk di lantai, bersama Cia.


“Ngapain sih, loe? Pergi dari sini!” Cia sedikit menjauh.


“Hidup itu sangat aneh ya,” Jay tersenyum

__ADS_1


“Maksud loe apa?” Cia masih saja bingung, tidak memahami sedikitpun perataan Jay.


Jay tersenyum tipis, menatap sang rembulan dengan sendu, sama seperti yang Cia lakukan tadi. “Terkadang, kita harus terlihat bahagia, untuk orang yang tidak pernah membuat kita bahagia sedikitpun.” Jay mengalihkan pandangannya kearah Cia. “Bukankah, itu aneh. kita tau itu takkan bisa membuat kita bahagia, tapi kita tetap melakukannya. Sangat konyol, bukan.”


“Kenapa tiba-tiba dia bicara seperti itu? Apakah tadi ia melihatku menangis.” Cia berbicara dalam hatinya sendiri.


“Tenang saja, gue gak lihat loe tadi nangis.” Jay tersenyum tipis.


Cia mengkerutkan keningnya, “Itu artinya loe lihat gue nangis, kan?” selidik Cia.


“Gue gak lihat. Mana tau gue kalau loe tadi nangis sampai menyedihkan seperti itu.” Jay berucap santai, sembari terus menatap sang rembulan. “Lagian mana ada, cewek kayak loe bakalan nangis sambil lihat bulan gitu.” Kali ini Jay tak bisa lagi menahan tawanya.


Cia sudah menduganya, ia langsung marah. Lebih tepatnya merasa malu.


“Dasar cowok mesum, gue tau loe dari tadi ngintipin gue kan? Cih, brengsek! Awas aja kalau sampai loe sebarin hal ini ke semua orang. Mati!” Cia dengan garangnya mengancam.


“Tenang aja, gue juga tau. Kalau sampai gue sebar ini, maka gue juga akan ikut malu.”


“Cih, awas aja kalau sampai loe ingkar janji.”


“Ouh, ya. Soal pertunangan kita, gue harap loe gak berbuat hal yang bisa mencoreng nama keluarga Adiputera. Gue Cuma ngingetin aja, kalau Papa sangat tidak suka jika ada yang berani membuatnya malu.” jelas Jay.


“Gue gak peduli, jangan kira karna kita udah bertunangan, jadi loe bisa seenaknya ngatur-ngatur hidup gue!” Cia menatap wajah Jay dengan sangat tajam. “Ingatlah, Jay. Kita masih bertunangan belum menikah, dan gue akan cari segala cara untuk batalin perjodohan ini, paham!”


“Dasar, gadis kera.” Jay tersenyum manis.


Cia melebarkan matanya, menatap tajam pada Jay. “Apa loe bilang! Gue kera? Kurang ajar!”


“Ya, kera. Sangat berisik dan tidak bisa diam sedikitpun.”


“Jay!”


“Cia.” Jay membalas setiap perkataan Cia.


“Gue akan bunuh loe!”


“Coba saja kalau bisa.” Jay terus menerus meledek Cia.


Keduanya saling meledek satu sama lain. Tak ada akhirnya. Cukup lama mereka berdua bersama di bawah sinar sang rembulan, hanya saja tidak ada cinta di antara keduanya yang bisa membuat sinar sang rembulan semakin terlihat indah.


..._Bersambung_...


...Jika kamu jadi Cia, apa yang akan kamu lakukan jika bertunangan dengan Jay?...


...a. Sangat bersyukur...


...b. karungin bawa pulang kerumah...


...c. menolaknya...

__ADS_1


...d. menjadikannya model dan mendapatkan banyak uang darinya...


...e. tidak mau apapun....


__ADS_2