
...“Cinta harus di dapatkan dengan kesabaran bukan dengan paksaan. Cinta akan di dapatkan dengan cinta dan bukan ilusi. Pahamilah!!”...
...__...
Malam yang akan membuat Cia merasakan sesak kini telah datang menyapa. Senyuman akan ada hanya dalam pekatnya malam. Takdir, maut dan rezeki semua sudah di takdirkan. Cia kini berada di rumah sakit.
Menjenguk keadaan sahabatnya, Bima. Begitu banyak rasa takut dan cerita yang ingin ia bagi kepada Bima. Namun, jika mengingat kembali apa yang Agung katakan malam itu, keberaniannya perlahan memudar. Ia tak ingin melibatkan Bima dalam masalahnya.
“Hei, ada apa? Dari tadi gue perhatikan loe sepertinya lagi mikirin sesuatu. Katakan ada apa.” Bima menatap Cia dengan penuh kebingungan.
“Perasaan loe aja. Udah sekarang gue mau pulang dulu ya, Bim.” Cia tersenyum tanggung.
Cia terlihat lesu, ia bahkan tak berani menatap mata sahabatnya. Bagaimana mungkin dia bisa, semua ketakutan telah merantai seluruh keberanian dan nalurinya. Bima mulai menaruh rasa curiga.
“Katakan sekarang, Cia. Apa yang loe cemaskan saat ini!”
Cia menggeleng. Diam membisu. Menunduk. Bima tak tahan dengan hal itu, dengan segera ia menggengam lengan Cia.
“Jawab gue, Cia! Jangan buat gue khawatir.” Bima terus mencoba menatap mata Cia, namun Cia masih terus saja menyembunyikan pandangan itu.
“Gue harus pulang sekarang, Bim.”
“Ini bukan loe, Cia. Sahabatku gak akan pernah menyembunyikan apapun dariku.”
Cia segera melepaskan genggaman Bima. Ia menatap mata Bima dengan sangat tajam.
“Cukup, Bim! Udah gue bilang gak ada apapun. Gue capek. Loe istirahat, besok gue bakal jenguk loe lagi.” Cia langsung bergegas pergi meninggalkan Bima sendirian.
“Kenapa, Cia. Apa yang coba loe sembunyikan dari gue?”
“Maafin gue, Bim. Saat ini keselamatan loe lebih penting dari apapun. Jangan sampai mereka menyakitimu lagi. Kalau sampai itu terjadi, gue gak akan sanggup, Bim. Gak akan sanggung.” Cia berbicara dalam hatinya sendiri.
Cia menitikan air matanya yang berharga. Saat ini dirinya masih saja bingung apa yang harus di lakukan. Acara pertunangan akan segera di mulai. Walaupun ia belum mengetahui siapa yang akan di pilih malam ini, akan tetapi ia juga harus mempersiapkan diri serta hatinya untuk segala hal yang akan terjadi. Yang paling ia takutkan adalah Bima, jika samai sahabatnya itu tau jika Cia di paksa ikut perjodohan. Maka, Bima akan sangat terluka.
...**...
Gaun biru muda sudah ia kenakan, warna yang lembut dengan berhiaskan permata di setiap helainya adalah gaun yang di pilihkan oleh Meriska untuk, Cia. Sedangkan Kiki memakai gaun berwarna merah muda. Sangat cocok untuk kulinya yang bersih.
Kedua putri Wijaya hanya bisa pasrah pada malam hari itu. Semua keputusan hanya ada di tangan orang tua. Sekeras apapun mereka menolak, namun pada akhirnya hanya orang tualah yang akan memutuskan.
Kini mereka telah tiba dalam sebuah gedung mewah. Tempat dimana pertunangan itu akan di laksanakan. Ada begitu banyak para tamu yang datang. Mulai dari kalangan para rekan bisnis, maupun selebriti. Bagaimana tidak, ini adalah acara yang di adakan dari kedua keluarga yang memiliki peran penting dalam kota tersebut. Tak lupa para wartawan juga turut hadir untuk merekam semua acara yang berlangsung.
“Selamat datang, Pak Agung. Saya senang sebentar lagi kita akan semakin dekat.” Pak Ad mengulurkan tangannya kepada Agung.
__ADS_1
Agung menerima salam itu. “Saya juga sangat senang, Pak Ad.”
Mereka saling berbasa-basi seperti biasa. Kemudian Pak Ad dengan Agung saling menyapa para tamu undangan. Sedangkan Meriska ikut di samping Agung. Kiki dan juga Cia hanya bisa diam di tengah keramaian yang ada.
Jay masih belum terlihat, Cia jadi memikirkan apa yang Jay katakan dengannya tadi siang akan benar-benar ia lakukan.
“Masih ada waktu, Cia. Jika loe ingin kabur dari sini maka lakukanlah sekarang.” Kiki bergumam di samping Cia.
“Berisik! Kalau loe mau kabur, kabur aja sendiri. jangan ajak-ajak gue.” Cia membalas gumaman Kiki.
“Cih, gue tau sekarang. Loe itu ternyata sama aja seperti Mama loe yang pelacur itu! Sama-sama mencari kesempatan dengan pria tajir.”
“Cukup, Ki! Jaga lidah loe, atau kalau gak percayalah. Gue akan buat loe bisu selamanya!”
“Coba saja, kalau loe bisa.”
Cia sudah teramat sesak dengan acara malam itu, ditambah dengan cacian yang di berikan oleh Kiki. Lukanya semakin parah. Ketenangan hatinya semakin hilang, karena sudah tak lagi kuat menahan amarah, Cia akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana. Keluar. Dan langkah kakinya berakhir di atas balkon, jauh dari keramaian pesta.
Cia berdiri sendiri di atas sana, menatap sendu sang rembulan. Setiap kali ia melihat bulan, maka kerinduannya terhadap sosok seorang Ibu kian membesar. Apalagi saat ini ia tak tau harus berbuat apa.
“Lihatlah, Ma. Malam ini putrimu sudah menjadi seorang wanita. Berpakaian anggun dengan balutan mutiara yang berkilau. Bukankah Mama selalu ingin melihatku seperti ini dulu.” Perlahan namun pasti Cia menitihan air matanya kembali. Dadanya serasa kian sesak. Mencoba menahan rasa sakit seorang diri.
“Apa yang harus Cia lakukan sekarang, Ma? Cia sama sekali gak suka di sini. Apakah aku boleh ikut dengan Mama saja sekarang.” Cia terus saja menatap senduh sang rembulan.
“Hei, kenapa kau di sini sendiri?”
Seseorang menyentuh pundak, Cia. Cia langsung sigap menghapus air matanya. Berbalik melihat siapa orang itu. Ternyata ia adalah seorang wanita. Wanita yang pernah ia temui dalam mipinya pagi ini.
“Kau.” Cia masih tidak percaya, apa yang ia lihat memang benar adanya. Wanita yang berdiri dihadapannya kini sama dengan yang ia temui dalam mimpi.
“Maaf, aku tadi melihatmu sendiri di sini. Tapi, sepertinya tadi kau mengenalku. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” selidik wanita tersebut.
“Apa nama loe, Keslin?” Cia menerka-nerka, memastikan jika yang ia duga adalah sebuah kesalahan.
“Bagaimana kau bisa tau namaku? Bukankah kita baru saja bertemu.” Keslin merasa heran.
“Ternyata benar. Cewek ini bernama Keslin, wajah dan nama mereka benar-benar sama dalam mimpiku di sekolah tadi. Apa itu artinya kalau gue akan benar-benar bertunangan malam ini.” Cia asik berbicara dengan hatinya sendiri.
“Hei, kenapa melamun. Aku tanya kenapa kau bisa tau namaku?” rasa penasaran Keslin masih saja ada.
Cia menggelengkan kepalanya. Mengusir semua pikiran buruk. Mencoba berpikir jika semua ini hanyalah kebetulan semata.
“Maaf, gue tadi ngelantur.” Cia menggaruk sedikit rambutnya yang tak gatal.
__ADS_1
“Ouh begitu, kenalin namaku Keslin. Dan kau siapa?”
“Gue, Cia.”
“Halo, Cia. Salam kenal dariku ya.”
Terlihat jelas jika wajah Keslin sangat senang.
Cia hanya mengangguk. Pikirannya masih saja terusik dengan sebuah mimpi. Keslin bingung.
“Kalau boleh tau, sedang apa kau di sini sendiri, Cia? Bukankah acaranya ada di dalam.”
Cia tersenyum tipis. “Tidak ada, gue merasa sesak di dalam sana, jadinya sedikit mencari udara segar.” ucapnya berbohong.
Akhirnya keduanya bersama di atas balkon tersebut. Keslin terus saja berbicara ini dan itu, namun Cia hanya mendengarkan tidak berniat menjawabnya.
Beberapa saat kemudian. Acara pertunangan sudah dimulai. Semua para tamu merapat di aula utama. Cia dan juga lainnya ikut berkumpul. Kini, semua mata telah memandang mereka berdua. Dua gadis cantik yang menjadi pemeran utama pada malam hari ini.
Cia terus saja merasakan gugup. Ia semakin panik sedari tadi, dan juga Jay belum juga menampakan diri. Kemana dan kapan ia akan muncul tidak ada yang tau.
“Baiklah para hadirin yang terhormat. Saya sangat senang dan mengucapkan terima kasih kepada kalian semua yang mau hadir dalam acara pertunangan putra tunggalku.” Pak Ad mulai menyampaikan kata sambutannya.
“Sebelum itu, saya akan perkenalkan dahulu putra pertama dari keluarga Adiputera. Penerus perusahaan ITS di kota ini. Jay Adiputera.” seru Ad, memperlihatkan kedatangan putranya dari atas tangga.
Semua mata tertuju pada Jay, dengan balutan busana yang keren, memakai jaz hitam dengan padupadan celana hitam mengkhilap bersanding sepatu pantopel, membuat penampilannya sempurna malam hari ini. Setelah sekian lama, akhirnya keluarga Adiputera memperkenalkan pewarisnya yang sedari dulu di sembunyikan dari dunia. Kini akhirnya ia menunjukan diri di permukaan secara hormat.
..._Bersambung_...
...“Kenapa keluarga Adiputera baru meperkenalkan Jay kepada dunia pada malam pertunangan tersebut?”...
...a. Mungkin dulu Jay masih kecil...
...b. Takut di culik...
...c. Ada rahasia khusus kali...
...d. Mana aku tau, coba tanyak aja sama orangnya....
...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....
...#Bima Bagaskara...
__ADS_1