JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#33


__ADS_3

...“Menggenggam hal yang sebenarnya menyakitkan. Bagaimanapun kamu berpikir itu baik, sejujurnya itu takkan pernah bisa menjadi baik. Cara yang terbaik adalah melepaskan.”...


...***...


“Berteman? Kenapa?” Cia masih saja merasa tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar.


Selama ini, sahabatnya hanyalah Bima seorang. Selain itu, mereka semua seperti mengasingkan dirinya. Apalagi ditambah rumor buruk yang sudah beredar dimanapun.


“Kami mohon, Kak. Kami bertiga sangat ingin berteman dengan Kakak. Kami janji akan menuruti semua yang Kak Cia perintakan.” ucap Lea berharap tinggi. Diikuti dengan keduanya, Mirna dan juga Dira.


Seketika Cia kikuk. Dirinya tidak tau apa yang harus ia lakukan. Sangat membuatnya merasa malu. Beberapa menit Cia hanya diam dan terus-menerus menatap ketiga siswi kelas satu tersebut.


“Ehem …” Cia berdehem. Memecah keheningan yang ada.


Ketiga siswi tersebut melukiskan senyuman tipis diwajah mereka. Mata yang berbinar-binar dan pengharapan yang tinggi. Cia semakin kikuk saja.


“Jadi bagaimana, Kak?” Dira bertanya tidak sabar.


“Maaf. Gue gak bisa.” Cia memalingkan wajahnya kesembarang arah.


“Eh, kenapa, Kak? Apa kami ada salah, hingga Kakak gak mau berteman dengan kami?” Lea merasa sedih.


“Kami janji gak akan buat Kakak repot.” sahut Mirna.


“Ya. Kami bertiga akan menuruti semua perkataan Kakak. Bahkan kami bersedia memberikan seluruh uang saku kepada, Kak Cia.” jelas dengan kenyakinan penuh dari Lea.


“Bukan itu. Gue gak bisa nerima kalian karna …” Cia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bingung untuk menjelaskan.


Ketiga perempuan itu masih menunggu jawaban dari Cia yang tak kunjung mereka dapatkan. Cia yang melihat hal tersebut merasa bersalah.


“Keputusan gue udah final. Kalian cari aja teman yang lain. Gue gak akan bisa jadi temen kalian. Pergilah.” Cia merubah sikapnya seketika dengan tegas.


“T-Tapi, Kak.” ucap Dira dengan ragu.


“Kalian bertiga ini gak denger ya gue bilang apa! Pergilah!” Cia menatap tajam.


Dira, Lea dan juga Mirna merasa sedih. Harapan mereka seketika hancur. Ketiganya pergi dengan sangat lesu. Tidak bersemangat sama sekali. Sebelum pergi dari sana, Lea memberikan bungkusan Bubur yang mereka bawa tadi. Cia menerimanya tanpa sadar.


Perasaan sedih Cia rasakan saat itu. Dirinya merasa bersalah atas apa yang baru saja ia katakan. Memang, selama ini sikap kasar sudah melekat pada dirinya itu, akan tetapi baru kali ini ia merasakan jika sikapnya sangat keterlaluan. Terlebih pada orang yang tidak pernah membuatnya terluka.


“Sial! Kenapa gue jadi kepikiran gini sih, apa sikap gue tadi terlalu keras ke mereka ya? Akh! Seharusnya gue gak mesti bentak-bentak gitu juga kan. Dasar Cia bodoh!” Cia menghardik dirinya sendiri.


Bell sekolah telah berdering keras. Tanda jika pelajaran akan segera dimulai. Siswa-siswi segera masuk kedalam kelasnya masing-masing. Termasuk, Cia.


Sepanjang pelajaran, Cia hanya bisa termenung seorang diri. Suasana kelas juga masih sama. Ia selalu menatap kearah luar jendela. Sedikit menenangkan pikirannya yang sedang kacau.

__ADS_1


Pelajaran semakin saja bertambah banyak. Semua siswa kelas III sibuk mempersiapkan diri mereka masing-masing, untuk persiapan ujian akhir yang akan segera tiba beberapa bulan lagi. Namun, siswi yang tidak memperdulihkan semua hal itu hanyalah Cia seorang. Selama ini ia sama sekali tidak perduli akan semua hal tentang sekolah. Baginya semua itu hanya sebuah fromalitas semata.


Cia sebenarnya anak yang pintar. Bahkan hampir bisa dikatakan jika dirinya itu jenius. Hanya saja, waktu dan keadaan merubah ia menjadi orang lain. Tujuan utama ia sekarang adalah mencari keberadaan dari Keysa. Mama kandungnya. Ia masih percaya, jika Keysa masih hidup dan tinggal disuatu tempat.


Di dunia ini, kepintaran saja tidaklah cukup. Butuh kerja keras lebih untuk bisa berdiri di puncak.


Beberapa jam kemudian. Pelajaran telah selesai, dan kini bagi para murid pergi keluar untuk beristirahat. Begitu juga dengan Cia. Tak ada yang bisa membuatnya tetap tinggal di dalam kelas terlebih Bima dan juga Jay tidak masuk hari ini.


Cia menuju koridor sekolah. Kemudian menuju halaman belakang. Seperti biasa ia akan bersantai disana. Jauh dari keramaian. Siapa sangkah, disana ia melihat segerombolan para murid sedang berkumpul akan sesuatu.


Dengan segera Cia menghampirinya, dan betapa terkejutnya ketika melihat tiga siswi sedang dipermalukan.


“Ada apa ini?” Cia bertanya dengan begitu tajamnya kepada segerombolan anak muda. Dirinya juga melihat jika ketiga murid tersebut adalah Lea, Mirna dan juga Dira.


“Apa urusannya sama loe! Mending pergi aja deh dari sini!” ucap salah seorang murid itu dengan angkuh.


“Gue tanya sekali lagi, ada apa?” Cia mengulang kembali pertayaannya.


“Cih, gak usah berisik deh! Belagu amat, sok jadi ratu kesorean ya!” ucap siswi yang lain.


Cia semakin geram, ia juga melihat siapa yang mendapatkan pembulyan tesebut. Ke-tiga siswi yang tadi pagi ia temui. Dengan aura menyeramkan, Cia mulai menatap segerombolan anak-anak tersebut. Dirinya paling tidak bisa melihat ketidakadilan.


“Kalian bertiga, bangun sekarang!” tihta Cia menatap Mirna, Lea dan Dira.


Ketiganya menunduk malu. Mereka perlahan bangkit bersamaan. Namun, seketika juga salah seorang menendang dengan keras tubuh mereka, hingga jatuh tersungkur.


Cia semakin naik pitam melihat hal tersebut, sedangkan segerombolan siswi nakal tersebut, tertawa senang bersamaan.


“Hei! Dasar gak tau diri! Bersiaplah untuk tidur untuk selamanya!” Cia memancarkan aura membunuh.


Sontak saja semua yang berada di sana merasakan tekanan tersebut. Cia tanpa berbasa-basi lagi, ia langsung memulai aksinya. Tanpa ragu ia membantai semua siswi tersebut, kecuali Dira, Lea dan juga Mirna.


Dengan sangat ganas, Cia memukul terus-menerus mereka semua tanpa ampun, perasaan buasnya kembali lagi. Ia juga melampiaskan kemarahan yang selama ini ia pendam.


Pukulan demi pukulan Cia berikan pada semua siswi jahat tersebut. Dirinya membabi buta. Memukul, menendang, menarik kuat rambut mereka satu persatu. Begitu bringasnya, terlebih selama ia memukuli dirinya teringat akan kejadian demi kejadian yang telah Cia alami beberapa akhir ini.


“Brengsek, kalian semua! Sampah! Kalian semua sama aja macam binatang yang punya akal! Gue benci orang yang sok berkuasa!”


“Ampun kami, ampuni kami. Sudah hentikan.” Para siswi yang menjadi korban dari kemarahan Cia, terus menerus meminta ampun. Namun, Cia tak juga berhenti, ia sama sekali tidak memperdulikan ucapan mereka.


“Gimana ini, sepertinya Kak Cia hilang kendali. Gimana kita menghentikannya?” Dira cemas. Begitu juga dengan Lea dan juga Mirna.


“Aku takut menghentikannya,” ucap Mirna.


“Sama, lalu gimana kita bisa menghentikan Kak Cia. Kalau ini terus berlanjut, mereka semua akan tiada,” Lea terus saja meremas telapak tangannya sendiri cemas.

__ADS_1


Perkelahian tak seimbang tersebut berlangsung cukup lama. Cia terus saja tanpa ada niat berhenti. Tiba-tiba saja, seseorang menghentikan pergerakan Cia begitu saja. Seketika suasana menjadi hening kembali, hanya ada deru nafas yang membara yang Cia rasakan.


“Cukup!”


Cia menoleh, ia ingin tau siapa yang berani menghentikannya. Para siswi yang terkena kemarahan Cia seketika bersyukur. Mereka semua pingsan seketika.


“Loe! Berani banget loe nyela pertarungan gue. Cari mati!” Cia menatap tajam. Tangannya melepaskan dari genggaman tersebut.


“Dasar orang gila! Loe gak lihat, mereka semua hampir mati!”


“Bodoh amat! Itu bukan urusan gue! Jadi, jangan sok baik, Kiki!” Cia menatap tajam. Ia sama sekali tidak merasakan sakit. Tangannya sedari tadi sudah terluka akibat perkelahiannya.


“Terserah loe mau denger apa gak! Tapi, gue gak mau loe lakuin hal bodoh,”


“Apa maksud loe, Ki!”


“Kalau mereka sampai mati, loe bakal masuk penjara. Apa itu yang loe mau!”


Mendengar ucapan Kiki, seketika Cia tersadar atas apa yang ia perbuat.


Dirinya tak ingin membuat Bima khawatir atas apa yang ia lakukan. Seketika Cia pergi begitu saja, meninggalkan semuanya.


“Kalian bertiga, panggil petugas kesehatan. Jangan sampai mereka mati di sini!” Kiki langsung pergi.


***


Bima sedari tadi merasakan cemas, ia terus saja memikirkan keadaan sahabatnya tersebut. Cia.


“Kenapa gue ngerasa gak tenang, apa Cia baik-baik saja?” ucapnya cemas.


Beberapa saat, Boby mengetuk pintu kamar Bima. Saat ini, Bima sudah kembali ke rumah. Kesehatannya juga sudah membaik.


“Masuklah.”


Boby membuka pintu, melangkah masuk.


“Bagaimana, apa semua persiapannya sudah siap?” tanya Bima.


“Sudah, Kak.” Boby mengangguk.


“Bagus. Kumpulkan seluruh anggota kita nanti malam,” tihta Bima.


“Baik, Kak.” ucap Boby. Kemudian melangkah pergi.


“Semoga hal ini, bisa membuat pertunangan mereka batal.” harap Bima.

__ADS_1


_Bersambung_


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....


__ADS_2