
...“Hidup bagaikan sisi antara dua koin, yang mana masing-masing dari mereka memiliki dua sisi yang berbeda. Engkau tak bisa menilai mereka hanya dengan satu sisi saja, karna itu akan membuat sisi yang lainnya terluka.”...
..._***_...
Salah satu pengikut setia Bima sejak awal di bentuknya geng singa maut mencoba menjelaskan apa yang terjadi, sebut saja ia Ivan. Wajahnya yang tampan, berkulit sawo matang, tubuh yang sedikit jenjang dan juga punyai rambut sedikit ikal, ia sudah sangat lama mengikuti Bima sejak awal merintis untuk membangun kerajaan-nya sendiri untuk suatu alasan.
Seperti yang kalian ketahui, jika Ivan juga tidak pernah melihat wajah dari orang yang ia idolakan itu, dan sampai saat ini hanya Cia seorang yang sudah sering melihat wajah, Bima.
“Bagaimana kak, apa langsung kita serang saja markas mereka sekarang. Kebetulan salah satu anak buah kita dapat informasi kalau ketua mereka sedang pergi ke luar negeri,” ucap Ivan sedikit kesal.
“Gue gak bisa bergerak sekarang, itu akan membahayakan Cia nantinya, dan juga besok kan ada ujian ulangan, karena Cia gagal kemarin gue terpaksa juga ikutan gagal. Kalau gue ikut nyerang malam ini pasti gak sempet ajarin Cia ulangan besoknya,” ucap bima cemas dalam hati.
Semua hening sembari menatap Bima yang masih asik bermain dalam pikiran-nya, begitupun dengan Ivan yang cemas menanti jawaban dari Bima. Tak beberapa lama akhirnya Bima angkat suara dengan tatapan yang tajam.
“Siapa di antara kalian yang masih sekolah?” ucapnya dingin.
Mendengar hal itu, semua tertegun tak percaya pada apa yang Bima sampaikan. Mereka hanya saling pandang satu sama lain dengan raut wajah pucat pasih, mereka berpikir ini adalah pertayaan jebakan seperti biasa yang akan memilih salah satu dari seorang untuk melakukan percobaan untuk menjadi umpan, begitu pula dalam benak Ivan.
“Maaf, Kak. Maksud dari pertayaan kakak?” ucap Ivan merasa cemas.
Sesaat Bima melirik tajam pada Ivan, “Jawab saja pertayaan gue!” ucap Bima datar.
Dengan sigap Ivan langsung saja menjawab dengan tegas di hadapan semua, “Saya sudah tidak sekolah,Kak." seru Ivan.
“Yang lain gimana?” ucap Bima semakin dingin.
“Untuk semua, tuan sedang bertanya pada kalian yang masih bersekolah angkat tangan sekarang!” ucap Ivan berteriak hingga menggema seluruh gedung markas.
Mendengar hal itu, langsung saja mereka mejawab pertayaan dari Bima. Dari sekian banyaknya anggota hanya 40% saja dari mereka yang mengangkat tangan dengan tinggi, walaupun perasaan cemas masih menyelimuti dalam benak mereka masing-masing.
Sesaat Bima hanya terdiam sembari memikirkan sesuatu yang tampak serius, tak lama ia mulai angkat bicara. “Yang masih sekolah kalian pulang aja, yang gak sekolah lagi malam ini serang markas utama mereka,” jelas Bima.
Sontak saja perkataan Bima membuat semua tercengang, dalam benak mereka apa hubungan-nya antara penyerangan ke markas dengan sekolah? Ya, sama sepertiku.
“Gue harus cepat pulang, jangan sampai besok gue kesiangan,” batin Bima meninggalkan
Setelah bicara seperti itu, Bima langsung saja bergegas untuk beranjak pergi kembali kerumah, Ivan dengan sigap langsung saja menahan Bima.
“Tunggu, Kak”
__ADS_1
“Apa lagi?” ketus Bima.
“Siapa yang akan memimpin peyerangan ini, Kak?” cemas Ivan.
“Seperti biasa loe yang akan pimpin mereka, gue ada urusan penting,” jelas Bima.
“Tapi, bagaimana jika Revai ada di sana juga?” keluh Ivan.
Sesaat Bima mengkerutkan dahinya, dan sesaat ia menghela nafas dalam, “Jangan sentuh dia, itu bagian khusus gue. Loe peringatin anak-anak juga, ingat ucapan gue ini!” ancam Bima.
Ivan hanya menunduk, menyanggupi permintaan Bima, walau dalam hatinya ia sangat ingin menghabisi Revai yang sudah menghabisi orang tua-nya 10 tahun yang lalu.
...***...
Mentari pagi telah menampakan sinarnya, namun Cia masih saja tidur berselimut menari bersama melodi mimpi, hingga Ny.Meriska membuka dengan perlahan pintu kamar Cia. Langkah kaki semakin dekat dengan Cia dan ia perlahan menarik selimut yang sedang Cia kenakan.
“Sayang, ayo bangun, Ini sudah siang lo, apa kamu gak sekolah?” ucapnya lembut.
Beberapa saat Ny. Meriska menunggu, tapi tak ada jawaban yang ia terima, “Cia, kalau gak bangun juga Mama tidur dengan kamu ya nanti malam?” ucapnya menggoda.
Mendengar hal itu, Cia terbelalak dan langsung bangkit dari mimpi indahnya, entah mengapa suara Ny.Meriska seperti sebuah alarm yang berbahaya bagi dirinya.
Ny.Meriska memberikan seyuman lembutnya di hadapan Cia, “Sayang, ayo mandi Ini sudah siang lo, nanti kamu terlambat?” ucapnnya terseyum lebar.
“Oke aku mandi sekarang, tapi tolong pergilah dari sini,” ucapnya ketus.
“Baiklah, Mama tunggu kamu di meja makan ya,” ucapnya terseyum kembali sembari mengusap rambut Cia lembut.
...***...
Setelah beberapa saat, akhirnya Cia turun keluar dari kamarnya dengan rambut yang terikat super rapi dengan tas yang ia jinjing dengan sepatu sekolah yang super mengkilat. Entah apa yang merasuki cia pagi ini hingga berpakaian super rapi bak murid teladan, entahlah.
Nampak jelas terlihat olehnya Ny.Meriska yang tengah sibuk menyiapkan sarapan di meja makan, ia perlahan turun dan dengan sengaja mengacuhkan Mama tirinya itu.
“Cia, tunggu sayang.”
Cia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Meriska. Ia hanya diam membisu sembari terus menatap Mama tirinya itu dengan perasaan yang sedikit berbeda.
“Cia ayo sarapan dulu, Mama sudah buatkan Nasi Goreng kesukaan kamu lo,” ucapnya terseyum ria.
__ADS_1
“Bagaimana dia tau, jika aku suka sekali sarapan dengan itu? Kenapa rasanya tiba-tiba aku merasakan kehadiran Mama,” batin Cia yang menatap sendu.
Untuk sesaat ia merasakan hal yang sejak lama ia rindukan, dan untuk sesaat juga hatinya sedikit melunak terhadap sikap yang di berikan oleh Meriska. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena Cia segera mengusir jauh-jauh perasaan yang akan membuat ia lema.
“Sayang, ayo makan. Tenang saja kak Kiki dan Papa sudah berangkat duluan ke sekolah, ayo sini.” ucapnya membujuk sembari terus menyiapkan sarapan di atas meja.
Pagi itu entah mengapa hati cia mudah sekali lunak dengan sikap dari Ny.Meriska,pada akhirnya ia ikut sarapan bersama Meriska. Setelah itu ia langsung bergegas pergi ke sekolah dengan di antar supir pribadi dari keluarga barunya itu.
Setelah beberapa saat akhirnya cia sampai juga di sekolah, dan di sana telah tampak Bima yang sudah bersiap menunggu-nya sedari tadi, dengan membawa beberapa buku, Bima mulai menghampiri Cia yang baru saja turun dari dalam mobil.
Seperti biasa, setiap paginya ia akan lebih dulu menghadang semua anak kelas satu di gerbang sekolah untuk jadwal malakin mereka satu-persatu.
"Loe udah belajar tadi malam?" selidik Bima.
"Belajar apaan?" ucapnya singkat.
Cia terus aja berjaga di depan gerbang sekolah sembari terus celingak-celinguk melhat sekitar yang tak kunjung mendapati para mangsanya. Semakin lama Bima juga semakin kesal melihat sikap Cia yang mengacuhkan dirinya itu,
"Loe nyari apaan sih? Anak kelas satu udah gue suruh masuk semua tadi," jelas Bima ketus.
sontak cia menatap tajam pada sahabatanya itu,"Apa loe bilang tadi?" tanya ulang Cia.
"Gue bilang, anak kelas satu udah gue suruh masuk semua tadi." jelas Bima lagi,
"Kenapa loe lakuin itu, Bima!"
"Gue tau setiap pagi loe bakal malakin mereka, lagian loe gak capek apa bersikap jahat sama mereka? Kalau sikap loe begini terus, gimana mereka mau berteman sama loe Cia?" cibir Bima.
Cia mengangkat sebelah alisnya sembari menyilangkan tangannya, "Gue gak butuh temen, loe aja udah cukup buat gue, Bim." jelas Cia.
Bima menghela nafas melihat sahabatnya itu begitu keras kepala, "Terserah loe aja, sekarang gimana soal ujian loe nanti, udah belajar tadi malam?" selidik Bima.
"Seperti biasa," ucapnya cengengesan.
"Astaga, Cia!"
..._Bersambung_...
Terima kasih kepada para pembaca setia JPA. Do'a-kan terus Author kece ini ya(✿ ♡‿♡)
__ADS_1
... BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI....