JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#29


__ADS_3

...“Jika cinta dapat membuat seseorang kehilangan akal. Maka, cinta pulahlah yang mampu mengembalikan akal. Dalam dunia cinta tidak ada yang salah ataupun benar. Semua di perbolehkan dalam urusan cinta.”...


...__...


“Bersikaplah baik. Papa sangat tidak suka dengan adanya keributan!!” Jay sedikit berbisik kepada Cia.


“Terserah deh, gue juga gak berniat buat keributan di sini.” Cia berucap ketus, seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Gadis baik.”


“Ngomong-ngomong, kapan acara yang ngebosenin ini selesai?”


“Kenapa?” selidik Jay.


“Gue bosen di sini, mau pulang aja.” Keluh Cia yang sedari tadi memang sudah merasa sangat lelah.


“Baiklah, gue akan anterin loe pulang nanti.”


“Janji?” Cia menatap kedua mata Jay.


Jay mengangguk, tersenyum.


Mereka berdua berjalan bersama, beriringan. Menuju aula pesta. Di sana sudah ada Adiputera bersama dengan Agung. Mereka masih saja berbasa-basi membicarakan sebuah bisnis. Sedangkan Kiki bersama Meriska, berdiri di pojok ruangan.


Adiputera yang melihat kedatangan Jay dan juga Cia, langsung segera menghampiri mereka berdua. Kharisma yang selalu Ad tunjukan, bisa membuat orang lain merasa segan untuk bersikap salah padanya.


Terdengar rumor, jika Ad adalah orang yang sangat dingin dan sangat ahli dalam menghancurkan sesuatu. Baik itu manusia, maupun kekuasaan seseorang. Rumor tersebut mulai beredar saat dirinya sudah sukses menginjak karirnya yang gemilang di usia muda, sebagai pendiri dari perusahaan AG (Adiputera Group) .


Jay dengan sengaja menyikut pelan lengan Cia. Memberi tanda untuk bersikap sopan, karena Ad sedang berjalan menghampiri mereka berdua. Cia membalas sikutan Jay dengan sikap cueknya.


“Kalian berdua darimana saja, Jay? Para tamu kita sedari tadi sedang mencari kalian berdua.” selidik Ad.


Jay tersenyum manis. “Tadi Cia merasa kurang sehat, Pa. Jadi Jay mengantarnya ke dalam kamar untuk istirahat sejenak.”


“Papa kira ada masalah besar,” Adiputera berbalik menatap Cia. “Apa sekarang kamu sudah membaik, Nak?” Ad terlihat cemas.


“Waw, dia sangat ahli berbohong. Selain mesum, pria ini seorang penipu.” Cia memaki Jay dalam hatinya.


Cia hanya menggelengkan kepalanya, ia juga masih bingung harus berkata apa. Terlebih Cia sama sekali tidak suka berbasa-basi. Jay melirik Cia. Ad menghela nafas sejenak dan tersenyum. Senyuman tersebut semakin membuat Cia merasa bingung.


“Maafkan saya. Sedari awal saya belum memperkenalkan diri dengan benar.” Ad mengulurkan tangannya, hendak bersalaman. “ Perkenalkan saya Papa dari Jay, saya ucapkan selamat datang di keluarga kami. Saya harap kamu bisa membawa keberuntungan ke dalam keluarga kami.”


Cia sempat ragu membalas salaman tersebut, hingga akhirnya memutuskan berjabat tangan. Ia tak menjawab ucapan dari, Ad. Masih tetap diam dan tersenyum tipis.


“Sepertinya, Papa Jay orang yang baik.” Cia berkata dalam hatinya.

__ADS_1


“Pa, Jay ijin pamit dahulu ya.”


“Kamu mau pergi kemana, Jay? Acara masih belum selesai.”


“Cia merasa kurang sehat malam ini, jadi Jay ingin mengantarnya pulang sekarang.” Jay menjawab santai.


Sesaat Ad terdiam, ia menatap kembali Cia yang masih diam membisu sedari tadi. Kemudian tersenyum, memberikan ijin. Terlihat jelas kegembiraan di raut wajah Cia.


Beberapa saat kemudian. Mereka berdua bergegas pergi meninggalkan pesta. Menuju pulang kediaman Wijaya. Sedangkan wijaya beserta anggota keluarga yang lain masih berada dalam pesta tersebut, menemani Ad.


“Kenapa daritadi kamu diam, sayang?” Meriska memutuskan bertanya pada putrinya, yang semenjak tadi hanya diam.


“Hanya ingin diam saja, Ma.”


“Apa kamu merasa kecewa, karena tidak jadi bertunangan dengan, Jay?” selidik Meriska.


Terlukis sunggingan sebuah senyum di ujung bibir Kiki. “Justru sebaliknya, Ma. Kiki sangat bahagia hari ini.”


“Bahagia? Mama tidak mengerti, Mama kira kamu akan merasa sedih.” Meriska menatap putrinya bingung.


“Kenapa harus merasa sedih? Kiki malah semakin senang, dengan dia bertunangan dengan Jay, maka kehidupannya yang damai itu akan segera berakhir.” Kiki menatap Mamanya. “Seseorang yang selama ini sangat suka terbang bebas di angkasa, apa yang akan terjadi saat seketika sayapnya langsung dipatahkan. Maka, itu akan menjadi penderitaannya yang teramat dalam. Sangat menyakitkan.” Kiki tersenyum puas.


Meriska hanya diam, ia tak mampu lagi membalas perkataan putri sulungnya tersebut. Selama ini ia sudah sangat lelah menghadapi segalanya. Namun, ia juga tak bisa membohongi diri sendiri, jika Meriska juga merasa senang Kiki tak jadi bertunangan pada malam hari itu.


...***...


“Memang mau kemana lagi? Gue juga beneran lelah malam ini.” Cia menjawab pertayaan Jay, namun wajahnya ia lemparkan pandangan ke arah luar jendela. Menatap kelap-kelip lampu jalanan.


“Oke, gue kira dari tadi loe diem, karna lagi mikirin suatu tempat.” Jay fokus pada jalan.


“Gue capek, kalau udah sampe bangunin gue ya?” Cia masih menatap sendu sang langit malam.


“Ya, loe istirahat aja. Nanti gue bangunin loe.”


Beberapa saat kemudian, Cia sudah terlelap tidur. Kepalanya masih saja bersender di kaca mobil. Sedikit menunduk. Jay yang melihat tersebut merasa sedikit iba, hingga memaksanya untuk membenarkan posisi Cia tidur.


“Anak ini, dia lebih baik saat tidur. Jika terbangun, maka bumi akan tuli mendengar suaranya.” Jay meledek Cia di sela tidurnya, kemudian kembali fokus ke jalanan.


Jay terus saja fokus mengemudikan mobilnya. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai tujuan. Kediaman Wijaya. Jay menghentikan mobil tepat di depan teras rumah. Kemudian ia menepuk-nepuk dengan pelan pundak Cia, bertujuan untuk membuatnya bangun.


“Hei, bangun. Kita udah sampai.”


Berulang kali Jay berusaha membangunkan Cia, namun hasilnya nihil. Cia tertidur sangat lelap malam itu, hingga membuat Jay tidak tega untuk membangunkannya. Akhirnya Jay memutuskan untuk berdiam diri di dalam mobil, menunggu Cia terbangun. Jika ia memaksa ataupun mencoba menggendong masuk ke dalam, dengan sifatnya yang suka berteriak dan selalu saja mencari keributan, maka itu akan semakin menyulitkannya.


Jay membuka sabuk pengamannya, sedikit menyenderkan kepala dekat dengan kaca mobil. Kemudian menghidupkan sebuah musik, mendengarkan alunan melodi indah dari pianis terkenal. Setelah itu ia juga ikut memejamkan mata, tertidur.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian. Terdengar seseorang dari luar mengetuk kaca mobil. Jay tersadar dari tidurnya, terkejut dengan suara yang ada. Jay langsung menggosok kelopak matanya, kemudian menekan tombol di dekat pintu mobil. Menurunkan kaca jendela mobil.


“Nak, Jay. Kenapa kamu masih belum pulang?” Seorang pria sedikit menundukan kepalanya, melihat ke dalam mobil. Agung.


“Ahh Maaf, saya ketiduran di sini.” Jay masih sedikit linglung, karena baru saja terbangun dari tidurnya.


Jay langsung bergegas keluar dari dalam mobil. “Maaf, saya tanpa sengaja tertidur di dalam mobil.”


“Tidak apa, Nak Jay. Tapi, kenapa kamu masih ada di sini?”


“Ouh, tadi saat saya mengantarkan Cia, ia tertidur sangat pulas, hingga, sulit untuk di bangunkan, jadi saya berpikir untuk menunggu dia bangun saja.” jelas Jay sembari menunjukan, jika Cia masih tertidur pulas di dalam mobil.


“Pantas saja, maaf sudah merepotkanmu Nak Jay.”


“Tidak repot, sekarang dia adalah tunangan saya, jadi sudah seharusnya saya menjaga Cia.”


Meriska datang menghampiri keduanya, sedangkan Kiki bergegas masuk. Bersikap tidak peduli.


“Ada apa, Pa?”


“Cia tertidur di dalam mobil, Jay. Ma.”


“Apa.” Meriska bergegas melihat kedalam mobil, memastikan. “Astaga, dia pasti sangat lelah, maka dari itu dia tertidur pulas seperti ini,”


“Nak Jay, bisakah saya meminta sedikit bantuanmu?”


“Tentu saja, katakanlah apa yang bisa saya bantu, Pak Agung.”


“Bisakah kamu antarkan putriku kedalam kamarnya, melihat dia tertidur seperti itu saya rasa dia akan sulit bangun.”


“Baiklah, saya akan mengantarkannya masuk ke dalam.” Jay tersenyum.


Agung mengucapkan rasa terima kasihnya, karena hari semakin larut, Meriska dan juga Agung bergegas masuk ke dalam rumah duluan. Di susul dengan Jay yang sudah menggendong tubuh Cia. Meriska memberitaukan dimana letak kamar Cia, setelah itu Meriska ijin pamit masuk kedalam kamarnya sendiri.


“Dasar kebo. Lihatlah dia, tidak bangun sedikitpun. “ celoteh Jay dalam hatinya.


Setelah sampai ke dalam kamar, Jay langsung saja meletakan tubuh Cia di atas tempat tidur. Melepas satu persatu sepatu yang sedari tadi sudah melekat pada Cia. Kemudian menarik selimut, menutupi tubuh Cia.


“Mimpi indah, kera.” Jay tersenyum.


Kemudian berlalu pergi dari sana, sebelum itu terjadi ada satu benda yang membuatnya berhenti melangkah keluar, menarik perhatian dari Jay, hingga memaksa dirinya untuk melihat lebih dekat.


..._Bersambung_...


...*Buah duku, buah kiwi...

__ADS_1


...Kalau kau suka padaku, segeralah mengikat sebuah janji. (Asekkk)*...


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....


__ADS_2