JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#56


__ADS_3

..."Sebuah hal yang terlalu kamu paksakan, akan berakhir dengan tiada kebaikan didalamnya. berusahalah untuk membahagiakan dirimu sendiri tanpa menyakiti orang-orang di sekelilingmu." /Lasceria...


Bima segera keluar dari ruangan dan menuju menemui Jay. Terlihat Jay duduk santai sembari meminum segelas kopi yang baru saja ia pesan.


"Kalian pergilah," tihta Jay kepada para pengawalnya.


Para pengawal itu pergi meninggalkan lorong tersebut. Hanya tersisa Jay dan Bima. Sungguh suasana yang tegang.


"Sekarang katakan,"


Jay menjawab dengan tenang, sembari menyeruput kopi panasnya.


Bima hanya menatap Jay dengan tatapannya yang menusuk. Jay merasakan tatapan itu dan hanya tersenyum tipis.


Tak lama Bima ikut duduk tepat di samping Jay. Tentu saja itu sangat mengejutkan. Jay pikir Bima akan mengamuk kembali atau berteriak padanya. Setidaknya itu yang sempat Jay pikirkan.


"Gue gak mau buat keributan di sini, sekarang katakan gimana dia bisa sampai masuk rumah sakit," ucapnya tegas.


Mata Bima hanya menatap pintu ruangan inaf. Tepat dimana Cia dirawat.


"Dia hanya pingsan di jalan. Kebetulan gue yang nemuin dia. Loe gak perlu cemas," jelas Jay.


"Jangan coba-coba nipu gue, Jay. Gue tau itu bukan cerita yang sebenarnya,"


Jay tersenyum tipis. "Kalau loe gak percaya juga gak masalah buat gue," Jay kembali menyeruput secangkir kopinya.


"Hah ..." Bima menghela nafas berat.


"Gue harap, loe bisa jagain dia. Dia itu berharga buat gue, loe harus ingat!! Kalau sampai dia terluka terus menerus saat bersama elo, gue pastikan gue yang akan habisi loe sendiri!" ancam Bima.


"Tanpa loe minta gue akan tetap jagain dia, karena ..." batin Jay.


"Gue harap, kepedulian loe selama ini kepadanya bukan cuman fake! Kalau sampai iru terjadi, gue pastikan kehancuran loe saat itu juga!"


Setelah mengatakan itu. Bima bangkit dari duduknya. Ia masuk kembali kedalam ruangan dimana Cia berada. Sedangkan Jay masih bermain dalam pikirannya sendiri.


***


Bima memasuki ruangan. Terlihat Cia sudah terlelap tidur. Ia berjalan perlahan. Duduk tepat di sampingnya. Memandangi Cia dengan penuh cinta.


"Maaf karena gue gagal jagain loe, Cia." batinnya.


Hatinya merasakan sakit yang teramat sakit. Saat orang yang ia kasihi selalu saja menderita dan ia tak pernah bisa melakukan apapun untuk mencegah itu semua. Rasa ketidakberdayaan seakan menampar Bima selama ini. Ia mencintai Cia, tapi tak pernah bisa membuatnya bahagia, itu seakan mengutuk dirinya sendiri.


Di lain sisi ternyata Jay melihat mereka berdua dari balik kaca pintu. Ia hanya menatap dan tanpa berkata apapun.


"Sepertinya dia benar-benar mencintai Cia," ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Walau ia berkata seperti itu. Tersirat akan kecemburuan yang melanda.


***


Meriska dan Agung kembali ke rumah mereka. Didepan halaman keduanya bertemu. Sama-sama baru kembali dari kegiatan mereka masing-masing.


Tampak kegelisahan dalam wajah Meriska. Namun, secepat kilat ia berhasil menyembunyikan dengan sigap dengan seutas senyumannya. Tapi ia tak tau, jika Agung sudah lebih dulu maksud dari kecemasannya itu.


"Darimana kamu?" tanya Agung.


"Aku ada urusan sebentar dengan temanku, sayang." jawabnya.


"Teman yang mana? Urusan apa malam-malam begini?" tanyanya lagi.


Meriska langsung mendekati Agung. Ia memeluk lengan Agung dengan erat.


"Sudahlah sayang, hanya urusan antar wanita. Dan ya, kamu sendiri juga sedang apa keluar malam-malam begini?" tanya Meriska.


"Aku kembali ke kantor karena perlu memeriksa berkas penting."


"Oh ya ..."


"Sudahlah. Ayo kita masuk," ucap Agung.


"Hem, baiklah."


Keduanya melangkah masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, tidak ada yang menyambut sama sekali. Rumah itu mewah, tapi kurang akan kehangatan.


"Eh, Kiki. Kenapa kamu belum tidur sayang?" ucap Meriska mendekati anaknya.


"Papa akan duluan di kamar."


Setelah mengatakan hal tersebut. Agung menaiki tangga dan bergegas masuk kedalam kamar.


"Mama belum jawab pertanyaan Kiki," ucapnya lagi.


"Mama ada urusan sebentar sayang. Kami sendiri kenapa belum tidur?"


"Urusan apa? Sepertinya Mama dan Papa selalu saja sibuk walau sudah larut malam,"


Meriska tersenyum. "Sudahlah. Kamu jangan pikirkan semua itu, Mama lelah. Mama istirahat dulu ya," ucap Meriska seraya menyentuh pundak Kiki dengan lembut.


"Mama tumben gak tanya dimana anak haram itu," ledek Kiki.


Ucapan itu seraya mengentikan langkah Meriska yang hendak kembali ke kamarnya.


"Apa maksudmu, Kiki?"

__ADS_1


"Sejak kalian pergi, anak haram itu juga tidak ada dirumah. Sampai sekarang dia juga belum pulang,"


"Kiki! Jaga ucapan kamu itu. Dia itu adikmu," bentak Meriska menatap kesal.


Kiki terseyum puas. "Adik? Mama gak salah kan. Gimana bisa anak selingkuhan papa itu jadi adikku,"


Plak!


"Semakin hari sikapmu semakin liar saja, Kiki! Sudah sering Mama katakan, dia adalah adikmu, bukan orang lain, jadi ..."


"Jadi apa, Ma!"


Kiki langsung memotong perkataan Meriska. Ia seakan sudah sangat bosan dan geram akan semua yang dikatakan Mamanya.v


"Kiki tau dalam hati Mama, selama ini Mama terluka karna dia dan Papa kan!"


Mata Meriska seaakan membulat mendengar apa yang Kiki katakan.


"Kiki tau sejak saat itu, Mama juga gak ingin bersama Papa. Bagaimana bisa Mama terus berpura-pura tidak terjadi apapun selama ini, yang dikhianati adalah Mama bukan Papa ataupun anak haram itu!"


Kiki sudah berlinang air mata di kala semua yang ia katakan. Air matanya seakan mengalir deras, mengungkapkan segala keluh-kesahnya selama ini.


"Kiki sudah muak dengan semuanya! Kiki juga harus bersikap seolah tidak peduli akan apapun selama ini, Mama pikir itu demi siapa? Itu semua demi Mama!" Mata Kiki seakan memancarkan sebuah penderitaan yang teramat sakit.


"Tapi, semenjak anak haram itu datang, Mama selalu saja sibuk ngurusin dia. Mama udah gak pernah lagi pedulikan perasaan Kiki dirumah ini! Sebenarnya siapa yang anak Mama disini!" ucapnya lagi.


"Cukup, Kiki! Hentikan!!" ucapan Meriska seakan bergetar.


"Kenapa Mama suruh Kiki diam? Apa Mama takut dengan Papa! Kenapa Mama masih bertahan didekatnya, aku udah muak dengan drama keluarga ini, Ma. Aku ingin pergi dari sini," isaknya.


"Ayo kita pergi dari sini, Ma. Kiki mohon. Kita tinggalkan semuanya dan mulai lagi dengan yang baru," pintanya memelas, sembari menggenggam erat ujung baju Meriska.


Meriska tidak bisa lagi berkata-kata. Tubuhnya masih saja bergetar hebat. Menyaksikan penderitaan tepat di kedua mata putrinya, membuat ia terasa amat tersakiti.


Meriska secara langsung memeluk Kiki saat itu. Ia memeluknya erat. Hendak menangis namun, sekuat tenaga ia tahan. Ia sama sekali tidak suka menunjukkan kelemahannya pada siapapun.


"Maafkan Mama Kiki. Mama juga sebenarnya sayang denganmu, tapi Mama harus bertahan sampai semua dendam Mama terbalaskan," lirihnya dalam hati.


Kiki masih menangis, namun kemudian ia melepaskan paksa pelukan itu dan langsung saja menjauhkan tubuhnya dengan sang Mama. Kemudian ia berlari masuk kedalam kamarnya, sembari tersedu-sedu. Sedangkan Meriska langsung merasa lemas dan ia terduduk dilantai.


"Maaf. Maafkan Mama sayang, Mama sungguh mengira selama ini kamu anak yang kuat dan ..." gumamnya.


"Aku tau apa yang kau tunggu, Meriska," ucap pelan Agung. Yang sudah menyaksikan kejadian itu sejak tadi, dari lantai atas.


"Sebenarnya apa yang benar-benar kau inginkan dariku, Meriska? Aku harap kau tidak melewati batasanmu." ucapnya lagi.


Malam itu menjadi malam yang kelam kembali. Sama seperti sebelumnya. Seakan tidak ada ketenangan sedikitpun dalam rumah itu. Disebut sebagai rumah juga sebenarnya tidaklah tepat, karena rumah merupakan tempat yang paling bisa membuat kita tenang akan segala kepenatan dunia luar. Rumah adalah tempat pulang hati orang-orang yang kesepian dan memerlukan sebuah kehangatan. Rumah bukan hanya sekedar rumah.

__ADS_1


Bersambung ...


..."DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI. DAN BUDAYAKAN MEMBACA."...


__ADS_2