JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#43


__ADS_3

..."Terlalu bermimpi dan tidak melakukan apapun akan mendapatkan dua hal. Tekad yang hancur serta penyesalan."...


Meriska kembali pulang ke kediamannya. Ia langsung saja memasuki kamar. Merebahkan diri di atas ranjang. Melemparkan tas mini yang ia genggam ke sembarang arah.


"Ada apa? Kau kelihatan cemas, sayang."


Suara Agung tiba-tiba saja terdengar. Gak tersebut tentu saja membuat Meriska langsung bangkit dari duduknya.


"S-Sayang. K-kau ada di sini?"


Meriska membulatkan kedua matanya. Menatap suaminya sudah berada tepat di hadapannya.


Agung tersenyum. Mendekati Meriska.


"Kenapa kamu terkejut begitu, sayang?"


Agung memeluk Meriska dengan erat. Menyenderkan kepalanya tepat di leher Meriska.


"B-Bukan begitu. Maksudku, kenapa jam segini kamu ada di rumah. Bukankah kau harus pergi bekerja di kantor."


Agung menggesek-gesekkan kepalanya di leher Meriska. Seperti halnya seekor kucing yang ingin bermanja. Sesekali ia memberikan kecupan hangat di leher Meriska.


"Ada beberapa dokumen yang tertinggal. Aku hanya datang mengambilnya," ucapnya.


"Kenapa kamu tidak menelponku saja. Aku juga bisa mengantarkannya nanti," balas Meriska.


Agung melepaskan pelukannya. Menatap Meriska dalam. Sedikit senyuman di ujung bibirnya tersebut.


"Aku tau kamu banyak hal yang mesti di urus. Jadi aku tidak ingin merepotkan kamu."


"Ouh. Baiklah. Aku akan membawa dulu dokumen yang kamu butuhkan."


Meriska hendak melangkah. Menghindari ketengagan yang ada.


Beberapa saat kemudian. Meriska kembali seraya membawa beberapa dokumen yang Agung perlukan. Ia memberikannya langsung.


"Terimakasih, sayang. Kalau gitu aku pergi dulu."


"Oke. Berhati-hatilah."


Sebelum pergi, Agung memberikan kecupan singkat di bibir Meriska.


"Jangan terlalu tegang sayangku. Beristirahatlah. Sepertinya kamu sangat cemas akan sesuatu hari ini. Jaga dirimu jangan sampai sakit."


Setelah mengatakan hal tersebut. Agung langsung pergi. Kembali ke kantor.


"Sepertinya dia tidak curiga padaku," gumam Meriska.


Dirinya kembali menghela nafas. Akhirnya terbebas dari tekanan yang ada. Tidak lama setelah itu, ia langsung menunju kamar mandi. Membersihkan dirinya.


Perusahaan Adiputera.


"Bagaimana penyelidikannya? Apa sudah ada hasil?" tanya Adiputera.


"Kami belum menemukan apapun yang mencurigakan dari Tuan Agung. Tapi, kemarin kami melihat Nyonya Meriska sempat pergi keluar rumah dengan terburu-buru, Tuan."


"Kemana dia pergi?"


"Dia pergi menuju sebuah villa yang letaknya cukup jauh dari kediaman mereka," jelas sang pengawal.


Adiputera berpikir keras. Ia beranjak dari duduknya. Berjalan mendekati jendela kaca yang memberikan pandangan seluruh kota dari ketinggian tersebut.


"Mulai sekarang. Awasi juga Nyonya Meriska. Dan cari tau, apa saja yang ada di dalam villa itu," tihtanya.


"Siap laksanakan, Tuan besar." Pengawal tersebut menundukkan kepalanya.


"Pergilah."


"Baik, Tuan."


Pengawal tersebut pergi meninggalkan ruangannya. Sedangkan Adiputera masih saja berpikir tentang apa yang terjadi.


"Apa yang coba dia sembunyikan di villa itu. Apa semuanya ada hubungannya dengan ..." gumamnya.


**


Sekolah.

__ADS_1


Pelajaran telah usai. Kini saatnya para murid keluar kelas dan beristirahat. Begitu pula dengan Cia dan yang lainnya.


"Cia. Ayo kita ke kantin," ajak Bima.


Cia tidak bersemangat.


"Pergilah, Bim. Gue di kelas aja."


"Ada apa? Apa loe sakit?" tanya Bima yang secqra tiba-tiba menempelkan telapak tangannya ke kening Cia.


Cia menjadi malu secara tiba-tiba.


"Tapi loe gak panas," ucapnya bingung.


"Ih apaan sih, Bim. Main pegang-pegang aja," elaknya.


Cia segera menjauhkan dirinya dari Bima.


Bima mengangkat alisnya. "Emang kenapa? Kan gue cuman ngecek kondisi loe," jawabnya polos.


"Gue gak sakit. Jadi jangan sembarang sentuh," ketusnya.


Bima tersenyum.


"Gue tau. Loe merasa malu ya," ledek Bima.


"Mana ada! Jangan sembarang deh."


Cia semakin merasa malu. Bima tidak tahan melihatnya yang begitu imut.


"Pftt. Loe lucu banget sih, malu-malu harimau gitu," ledek Bima.


"Hentikan, Bim!"


Cia tanpa sadar berusaha membungkam mulut Bima dengan telapak tangannya sendiri. Karena hal tersebut. Perasaan hening terjadi beberapa saat. Mereka saling menatap. Sebelum perasaan itu jatuh terlalu dalam. Seketika Jay tiba-tiba saja menarik Cia ke dalam pelukannya.


"Akh!" teriak Cia spontan.


Teriakan tersebut mengundang perhatian dari siswa lainnya yang masih berada di dalam kelas. Mereka melihat itu dan seketika langsung berbisik satu sama lain.


Jay langsung menatap semuanya dengan tatapan tajamnya. Tidak lama setelah itu, semua siswa langsung bergegas pergi keluar. Meninggalkan Cia, Bima dan Jay bertiga di dalam kelas.


"Loe gak punya hak, untuk merintah gue!"


Jay membalas tatapan tajam tersebut. Sedangkan ia masih saja memeluk Cia secara erat.


"Akh! Lepas Jay," maki Cia yang berusaha melepaskan diri.


"Jangan terlalu dekat dengannya. Gue gak suka loe dekat-dekat dengan dia!" Jay melemparkan oandang kepada Bima.


Cia semakin kesal. Ia langsung saja menginjak kaki Jay menggunakan sepatunya dengan sangat keras.


"Gue bilang lepas!"


"Akh!" Jay tanpa sadar melepaskan pelukan tersebut. Menahan sakit dari kakinya yang baru saja di injak.


"Cia. Sakit!"


"Cih. Rasain. Suruh siapa loe main peluk-peluk gue aja!"


"Pftt."


Bima menahan tawa.


"Loe juga Bim. Kenapa ketawa. Emang ada yang lucu."


Bima juga mendapatkan bagian dari kekesalan Cia. Kali ini Jay yang tersenyum.


"Ayo, Cia. Kita pergi aja dari sini," ajak Bima yang langsung menggandeng tangan Cia.


Jay menahannya dengan ikut menggenggam tangan Cia.


"Dia gak akan ikut kemanapun denganmu!"


Bima menatap tajam. Begitu pula dengan Jay. Saat ini posisi mereka seakan saling berebut akan sesuatu. Saling menarik lengan Cia dari kedua sisi.


"Hei, hei. Kalian berdua bisa gak lepasin tangan gue," gerutunya.

__ADS_1


"Gak!"


Bima dan Jay menjawab secara bersamaan.


Cia kesal terhadap tingkah kekanak-kanakan yang di lakukan Jay dan Bima.


"Kalian berdua ini minta di hajar ya!"


Cia berusaha menahan kekesalannya.


"Lepasin sekarang tangan gue!"


"Hei, loe gak denger apa yang Cia bilang. Lepasin tangannya sekarang," ucap Bima.


"Yang di maksud itu loe!" jawab Jay.


Bima dan Jay kembali melemparkan pandangan tajam itu kembali.


"Dua orang ini. Kalian kira aku apaan. Gue bilang lepas!"


Kekesalannya semakin meningkat. Keduanya sama-sama keras kepala. Tidak ada yang mau mengalah.


"Hei. Berhenti bersikap kekanak-kanakan!"


"Loe tunangan gue. Seharusnya dia yang lepasin tangan loe, Cia," jawab Jay dengan santai.


"Gue sahabatnya. Jadi gue yang lebih berhak. Seharusnya loe yang lepas Jay!"


Cia menghela nafas dalam.


"Sama-sama keras kepala," batinnya.


"Bima. Tolong lepasin tangan gue sekarang," pinta Cia.


Bima membulatkan matanya. Ia tak percaya Cia menyuruhnya seperti itu.


"Tapi Cia, gue ..."


"Bim. Tangan gue sakit. Loe bisa kan lepasin sekarang," pintanya.


Seketika Bima sadar. Ia langsung melepaskan genggamannya.


"Maaf. Gue lupa."


Jay tersenyum. Merasa berpuas diri. Kini Cia menatap Jay.


" Loe juga lepasin tangan gue, Jay."


"Eh."


"Lepas. Tangan gue sakit!"


Jay langsung melepaskan genggamannya. Kebanggaan dirinya seakan menghilang seketika.


Cia langsung saja bergegas pergi dari sana. Meninggalkan Bima dan Jay yang masih menatap tajam satu sama lain.


Sadar akan kepergian Cia. Jay dan Bima spontan hendak mengikutinya.


"Berhenti!" teriak Cia.


Keduanya berhenti melangkah.


"Siapapun di antara kalian berdua. Jangan berani ikuti gue hari ini!" ancam Cia.


Cia langsung saja bergegas pergi. Menghilang dari pandangan keduanya.


Jay bermaksud menyusul Cia.


"Tunggu, Jay."


Jay terhenti akan ucapan Bima yang mendadak. Berbalik.


"Ada apa?"


"Gue ingin bicara hal penting sama loe. Hanya kita berdua aja." Bima mengatakannya dengan tatapan serius.


..._Bersambung_...

__ADS_1


BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI.


__ADS_2