
...“Berani mencintai seseorang, maka bersiaplah untuk terluka dalam.”...
^
^
Ketika jay keluar dari dalam Café. Tampak sudah Cia sudah duduk menantinya di dalam mobil. Lengkap dengan raut wajah yang terlihat sangat muram.
Jay memasuki mobil. Meletakan kado yang di berikan Kiki padanya di kursi belakang.
Cia melihat itu. Mengangkat sebelah alisnya.
“Gue gak punya kado buat loe.”
Cia mendadak bersuara. Hal tersebut tentu saja membuat Jay terkejut.
“Terus, kenapa?” tanya Jay heran.
“Jadi, jangan tagih kado dari gue!” Cia mengerucutkan bibirnya.
Jay tersenyum lebar. Menahan tawa karena melihat tingkah Cia yang sangat menggemaskan.
“Gue bakal tetep tagih. Tapi di saat yang tepat.”
“Serah deh, yang penting gue udah bilang jangan tagih!”
“Gue bakal tetap tagih.”
Jay semakin asik menggoda Cia. Ia sangat suka melihatnya kesal seperti itu.
“Iss ...”
“Haha … jangan marah. Lagian dari tadi ngomong tagih-tagih mulu, emang gue tukang kredit,” jelas Jay membujuk Cia.
Jay bersiap memakai sabuk pengaman. Segera mengemudikan kendaraannya. Keluar dari lingkungan Café.
“Jay,” panggilnya.
“Hem.”
“Beneran jangan di tagih ya,” ucapnya menyakinkan.
“Pftt …”
“Kok ketawak sih loe. Mau gue pukul tu mukak!”
“Jangan pukul dong. Gue kan Cuma punya modal wajah doang, kalau wajah gue loe juga ancurin, gue bakal punya apa lagi nanti,” ucap Jay bersandiwara memelas.
“Wajah itu bonus, Jay. Yang penting hati loe baik apa gak, itu yang akan jadi poin pentingnya,” jelas Cia.
“Hati gue bakal tetap baik, selagi bersama loe, Cia.” batin Jay.
“Apa-apaan sih gue, sok bener banget ngomongnya.” batin Cia.
Setelah percakapan singkat tersebut, Cia menatap langit-langit malam, sembari terus menyederkan kepalanya pada kaca mobil. Jay masih fokus dalam mengemudi. Lama-kelamaan Cia terhanyut dalam lamunannya dan tertidur pulas.
Beberapa jam kemudian.
Jay menghentikan kendaraannya berhenti di sebuah puncak. Lokasi tersebut masih berada di kawasan villa milik keluarga Adiputera. Karena melihat Cia masih tertidur pulas, Jay meninggalkan Cia seorang diri di dalam mobil , dan dirinya keluar dari dalam mobil. Berdiri di sedikit dekat dengan pagar pembatas yang ada di puncak tersebut.
Menatap langit malam yang tanpa bintang sama sekali. Angin malam yang berhembus kencang, hawa dingin tak membuatnya beranjak dari sana.
“Selamat ulang tahun, Ma.”
Suaranya terdengar sangat sendu. Berbalutkan dinginnya angin malam. Menyimpan banyak luka.
“Jay, loe ngapain berdiri di sini?” tanya Cia.
Jay segera menoleh.
“Kapan loe bangun?”
“Baru aja sih, saat gue lihat loe di sini gue langsung turun. Gue kira loe bakal …”
Cia tak melanjutkan ucapannya.
“Bakal apa?”
“Gue kira loe bakal bunuh diri karena gue gak mau kasih kado.” Cia memegangi lehernya.
“Ternyata, loe bisa juga khawatir sama gue.”
“Jangan kepedean.” Cia mengalihkan pandanganya.
Jay tidak menjawab. Ia hanya diam dan kembali menatap langit-langit malam.
“Ehem, Jay.”
“Ada apa?”
__ADS_1
“Gue sempet denger tadi, emm …” Cia ragu melanjutkan kata-katanya.
“Katakan aja.”
“Gue tadi denger, loe ngucapin selamat ulang tahun buat Mama loe ya?”
Jay menatap kepada Jay.
“Gue Cuma heran, kenapa loe ngomong gitu, apa hari ini juga hari ulang tahun Mama loe?”
Jay tersenyum menatap Cia. Kemudian mengalihkan pandangannya kepada langit malam dengan cepat.
“Ya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, tapi ...”
“Tapi apa?” rasa penasaran Cia kian bertambah tinggi.
“Tapi, hari ini juga bukan ulang tahunku.”
“Maksudnya gimana sih?”
Jay menatap Cia dengan sendu. Kemudian menyentilkan sedikit jarinya tepat di kening Cia.
Ctak.
“Sudahlah. Lupakan aja,”
“Auh! Gila loe ya. Sakit tau,” hardik Cia sembari mengelus keningnya sendiri.
“Ayo kita pulang sekarang,” ajak Jay.
Jay membalikan badannya. Bergegas menuju mobil.
“Jay, tunggu!”
Jay kembali membalikan badannya. Menghadap Cia.
“Ada apa lagi? Loe masih mau tetap di sini,” tanya Jay bingung.
“Em bukan, gue …”
Jay menanti perkataan Cia.
“Gue … hem, gue,” ucapnya ragu.
“Katakan aja ada apa?”
“Loe tutup mata dulu deh, dan jangan buka mata sebelum gue suruh.”
“Udah kenapa sih, nurut aja. Gue mau loe tutup mata, gue mau bilang sesuatu,” ucapnya malu.
“Kalau mau ngomong ya ngomong aja, kenapa mesti tutup mata?” tanya Jay lanjut.
“Cih. Udah tutup mata aja!”
Jay tersenyum tipis. Kemudian segera menutup kedua matanya.
“Sekarang apa?” tanya jay.
“Diam! Jangan ngomong sedikitpun!”
“Oh, oke.”
Suasana seketika hening. Angin malam terasa begitu berisik di antara kesunyian tersebut.
“Sebenarnya ini anak mau ngapain sih, kenapa gak ada suaranya sampai sekarang.” batin Jay.
Jay berniat membuka sedikit matanya. Hendak melihat apa yang sebenarnya cia lakukan, hingga memaksanya harus berbuat kekanak-kanakan seperti itu. Namun, belum sempat ia melakukan itu. Tiba-tiba saja, ada pelukan hangat yang menghampirinya. Pelukan dari Cia, yang memeluknya saat itu. Jay tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Ini pertama kalinya, Cia sendiri yang berinisiatif untuk mendekatinya.
“Cia, apa ini?” tanya Jay.
Sembari kedua matanya masih tertutup rapat.
“Diam! Jangan banyak omong!” hardiknya. Seraya tangannya terus saja memeluk tubuh Jay.
“Gue, gak tau loe lagi sedih karena apa. Tapi, gue cuma mau sedikit mengurangi kesedihan loe. Terlebih hari ini adalah ulang tahun loe dan juga Mama loe, jadi gue gak mau dirinya sedih, saat ngelihat anaknya juga sedih di hari spesialnya,” celoteh Cia sembari memejamkan matanya, dalam pelukan dengan Jay.
Jay tersenyum hangat. Ia membalas pelukan tesebut. Mereka berpelukan semakin erat saat ini.
“Tolong jangan lepas dulu, gue mohon sebentar lagi saja seperti ini,” pintanya lemah.
“Oke.”
Cia menuruti permintaan Jay. Dirinya secara tidak langsung juga merasakan. Merasakan apa yang Jay rasakan saat itu. Karena Cia juga sama seperti Jay, sama-sama merindukan sosok seorang Ibu di dalam hidup mereka.
“Dasar cewek penggoda*! Loe lihat aja nanti, gue bakal benar-benar ancurin hidup loe!” hardik Lea.
Lea sejak awal memang mengikuti Jay dan juga Cia. Ia sedari awal bersembunyi, menatap dari kejauhan apa yang Jay dan juga Cia lakukan.
“Jalan, Pak.”titahnya pada seorang sopir.
__ADS_1
“Baik, Nona.”
**
“Kak Bim, sedang memikirkan apa?” tanya Ivan.
“Gue lagi mikirin cara untuk membatalkan pernikahan mereka,” jawabnya.
Bima terduduk di atas kursi. Markas geng singa maut.
“Langsung kita bunuh aja, Kak. Dengan begitu masalah akan beres,” sahut Ivan.
Bima menatapnya tajam. Kemudian kembali mengarahkan pandangan itu kearah lain, beberapa saat menghela nafas dalam.
“Dia(Jay) bukanlah pria yang bisa sembarangan kita sentuh gitu aja. Dia di lindungi dengan sangat kuat. Gue gak boleh gegabah dalam mengambil keputusan, jika sampai itu terjadi, gue hanya takut Cia yang akan menderita.”
“Gimana kalau Kak Bima coba temui aja dulu pria itu. Mungkin Kakak akan dapat ide membatalkan ikatan mereka, setelah kalian berdua bertemu dan berbicara,” jelasnya.
“Hem. Loe bener. Mungkin untuk memastikan rencanaku, gue harus menemui dia dulu.”
“Benar Kak. Aku dan anggota lainnya, akan selalu mendukung apapun yang Kakak Bima lakukan,” jelasnya lagi.
“Terima kasih, Van. Loe pulanglah dan beristirahat dulu.”
“Ivan sudah sehat, Kak. Ivan mau menemani Kakak saja di sini,” jawabnya.
“Tidak perlu. Loe mesti banyak istirahat. Kita gak akan tau, kapan Si Maker Misterius itu akan kembali lagi.”
“Bagaimana penyelidikannya?” tanya Bima lanjut.
“Masalah penyelidikan itu belum ada hasil sama sekali, Kak. Seolah-olah dia memang tidak pernah ada. Dirinya sangat hebat dalam bersembunyi,” jelas Ivan.
“Jika dia bisa bersembunyi dengan sangat baik, bahkan informasi tentang dirinya saja sudah tidak ada. Berarti dia bukanlah orang biasa. Bisa jadi, ia adalah salah satu mafia yang paling berbahaya.”
“Benar. Tapi kami akan segera menemukannya,” janjinya.
“Itu gak perlu lagi. Biarkan saja dia dulu, toh nanti dia juga akan keluar kembali. Yang terpenting, kita siapkan kekuatan penuh menyambut saat dia datang nanti.”
Ivan mengangguk. “Kalau gitu Kakak istirahat saja, aku dan yang lainnya akan menjaga Kakak,”
“Sudah gue bilang, itu gak di perlukan. Kalian aja yang beristirahatlah.”
“Tidak, Kak. Kami akan selalu mengutamakan Kak Bima. Kalau gitu aku permisi dulu.”
“Oke.”
Ivan pamit keluar dari ruangan.
“Dari yang gue ingat, saat pertarungan kami dulu, gue sempat mengenainya dengan kayu di bagian perut. Mungkin luka itu sekarang sudah menjadi bekas tanda, mungkin aku bisa menemukannya dari situ.” Bima berbicara sendiri.
***
Panggilan masuk.
“Halo,” ucap Meriska.
….
“Baiklah. Aku akan datang,”
Panggilan berakhir.
Meriska bersiap-siap pergi pada malam itu juga, tak lama Agung pulang ke rumah.
“Kau akan pergi kemana malam-malam gini?” tanya Agung.
“Hem, aku akan pergi menemui temanku sebentar.”
“Teman? Ini sudah malam, teman mana yang mengajakmu ketemu. Apa tidak bisa besok saja,” ucap Agung sembari melonggarkan
dasinya.
“Jadi kau mengijinkan atau tidak?” tanya Meriska serius.
“Terserah kau saja. Aku mau mandi dulu, jangan sampai anak-anak tau kamu keluar rumah.” Agung langsung menuju kamar mandi.
Meriska bernafas lega. Kemudian bergegas pergi.
Tak lama setelah Meriska pergi, Agung menelpon seseorang.
“Awasi dia. Laporkan semuanya padaku besok, ingat jangan ada yang terlewat. Dan berhati-hatilah. Dia akan tau hanya dengan satu kesalahanmu saja,” titahnya.
“Baik, Tuan.”
Panggilan berakhir.
“Dia menyembunyikan sesuatu. Sepertinya penting,tapi apa itu?” batinnya.
_Bersambung_
__ADS_1
BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI.