JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#42


__ADS_3

......“Menyingkirkan cinta tidak semudah menghapus jejak debu di atas kaca. Sulit dan sangat menyakitkan.”


“Hai Jay,” sapa Kiki, sesaat Jay memasuki ruang kelas.


Jay terus berjalan dan mengacuhkan dirinya. Langsung duduk di kursinya. Diam.


“Sepertinya, Jay udah lihat Cia dan Bima bersama. Baguslah, permainan akan semakin seru kali ini,” batin Kiki.


“Apa Bima sangat berarti baginya. Kenapa bukan aku?” batin Jay.


Beberapa saat kemudian, bell sekolah berdering keras. Tanda pelajaran akan segera di mulai. Seluruh murid memasuki ruangan kelasnya masing-masing. Begitu pula dengan Cia dan Bima yang masuk bersama.


Jay terus saja menatap tajam Cia dan juga Bima. Lebih tepanya ia merasa sangat kesal, jika teringat dengan apa yang ia lihat sewaktu di ruang kesehatan.


kedekatan mereka membuatnya kesal tanpa alasan.


Cia duduk tepat di samping Bima. Sedangkan Jay, tepat berada di belakang mereka.


Tidak lama setelah itu, seorang guru masuk ke dalam kelas. Pak Adi. Wali kelas mereka.


“Selamat pagi anak-anak,” sapanya.


“Selamat pagi, Pak.” Sahut secara bersamaan.


“Kalian pasti udah tau, jika minggu depan kita akan memulai ujian kelulusan. Jadi saya harapkan kalian semua belajar dengan giat, agar bisa lulus dengan hasil yang memuaskan.”


Cia, Bima, Jay dan juga Kiki beserta teman-temannya terkejut akan hal tersebut. Bagaimana tidak, mereka seakan lupa karena di sibukan dengan hal-hal lain di luar pelajaran.


"Gue bener-bener lupa, soal ujian." batin Bima.


“Ujian hidup aja, Pak. Lebih menantang,” celetuk Cia.


Seketika seluruh kelas melemparkan pandang padanya. Beberapa saat mereka pun kompak tertawa bersama. Menertawakan tingkah kekonyolan Cia.


“Cia! Tolong jaga kata-kata kamu." bentak Pak Adi.


“Oke, Pak. Maaf.”


“Oke semuanya diam! Dan sekarang buka buku kimia halaman 35.”


Semua mulai dengan pembelajarannya. Suasana kelas kembali hening. Fokus dalam pembelajaran mereka. Begitu pula dengan Bima dan lainnya. Apalagi Kiki yang sangat menginginkan juara tetap ia tempati. Tidak boleh sedikitpun kalah dari Cia.


**


Meriska sudah berada di sebuah rumah. Tempat dimana wanita tersebut di rawat. Kali ini, wanita tersebt sudah sadar sepenuhnya.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Meriska.

__ADS_1


“Aku baik.”


Meriska terduduk tepat di samping wanita tersebut. Wanita yang masih terbaring lemah. Lengkap dengan alat medis yang masih terpasang di tubuhnya, untuk bisa membuat kondisinya tetap stabil.


“Apa tubuhmu masih terasa sakit?” tanya Meriska lagi.


"Tidak. Aku baik-baik saja sekarang."


"Baguslah."


“Aku masih hidup ternyata,” ucapnya lemah, sembari tersenyum getir.


“Kenapa kau menyelamatkanku, Riska? Aku kira aku sudah mati sekarang,” ucapnya berlanjut.


Meriska terdiam. Ia juga sendiri bingung, kenapa ia harus menyelamatkan wanita yang ada di hadapannya kini. Keysa. Wanita yang sudah merusak kehidupan keluarganya. Terlebih di saat terakhir, Meriska memutuskan untuk menolong Keysa karena mengetahui sebuah fakta yang mengejutkannya. Bahkan, jika mengingat fakta tersebut membuatnya gemetar hebat.


“Jangan berterima kasih padaku. Anggap saja, aku memberimu kehidupan baru untuk melihat penderitaan yang akan putrimu alami nantinya!”


Meriska menatap tajam. Namun tubuhnya seakan masih bergetar. Dilema dengan perasaan yang ia rasakan saat itu.


Keysa tersenyum pahit. Ia menatap Meriska dengan sendu.


“Akhirnya takdir mempertemukan kita lagi. Tapi takdir terlalu kejam. Setelah bertahun-tahun aku mencarimu kemana-mana, namun kita bertemu di saat yang mengejutkan.”


“Jangan mencari alasan dengan bicara hal konyol. Kapan kau mencariku, Kakak. Aku rasa semua itu hanya kebohongan belaka saja!”


“Terakhir kali aku meminta maaf kepadamu, Riska. Aku sangat tidak tau jika Agung adalah suamimu. Jika aku tau, maka semua itu takkan terjadi dan mungkin saat ini kita akan bertemu dengan saling memeluk, setelah sekian lama,” jelas Keysa.


“Sebaiknya lupakan masa lalu yang membosankan itu! Aku sudah lama melupakannya. Sekarang kau sudah sadar, tapi jangan harap kau bisa menemui putrimu lagi. Diam di sini dan nikmati saja pertunjukan yang akan aku berikan padamu. Kakak!”


“Jangan seperti ini, Riska. Semua ini gak ada hubungannya dengan anak-anak kita. Kau tau, yang akan terluka bukan hanya kita, tapi juga mereka!”


“Kakak yang bersalah. Seharusnya aku mencari tau lebih dalam siapa Agung sebenarnya.”


ucapnya lanjut.


Meriska menatap Keysa dengan tajam. Ada rasa kekesalan di sana. marah. Benci, namun terselip duka.


“Jangan panggil aku dengan nama itu. Riska yang kamu kenal sudah lama tiada!”


Keysa mulai menangis.


“Aku hanya minta padamu. Jangan sakiti Cia. Dia sama sekali tidak bersalah, Riska. Jika kau mau menghukum. Maka hukum saja aku. Tapi tidak dengan Cia,” pintanya sembari menangis tersedu-sedu.


“Cia juga bagian dari kesalahan kalian berdua, Kak. Aku hanya sedikit lebih kejam darimu.”


“Beristirahatlah. Aku akan pergi sekarang.”

__ADS_1


Meriska beranjak dari duduknya. Bergegas pergi. Keysa seketika menahan pergelangan tangannya. Menghentikan langkah kakinya.


“Katakan dulu, bagaimana kabar putriku, Riska?”


Meriska menoleh. Memandang begitu dalam terhadap Keysa. Perlahan melepaskan genggaman tersebut.


“Tenanglah, kakak. Aku akan menjaganya. Dan membuatnya semakin menderita. Sampai dia merasakan kehancuran seperti diriku dahulu!” Meriska mengatakannya dengan tatapan keyakinan yang penuh.


“T-Tidak. Jangan lakukan itu Riska. Kakak mohon padamu,” pintanya memelas.


Meriska berjalan pergi dari ruangan tesebut. Meninggalkan Keysa yang masih terpukul dengan semua yang terjadi. Ia sama sekali tidak bergeming dengan tangisan Keysa.


“Jaga dia baik-baik. Jangan sampai dia kabur dari sini. Dan kabari aku apapun yang terjadi,” tihtanya pada seorang pengawal.


“Baik. Nyonya.”


Pengawal tersebut tepat berdiri di luar pintu kamar Keysa. Menjaga dengan sangat fokus.


“Perketat keamanan lagi. Aku yakin suamiku akan mengirim seseorang untuk memata-matai tempat ini. Aku tidak ingin ada kesalahan apapun.”


“Perintah akan saya laksanakan, Nyonya tidak perlu khawatir.”


“Bagus.”


Meriska berjalan keluar dengan elegan. Ia memasuki mobilnya, dan dengan segera mengemudikan kendaraannya secepat kilat. Menelusuri jalanan. Sepanjang perjalanan ia teringat kembali akan pembicaraannya dengan Keysa, dan itu membuatnya semakin hilang kendali.


Semakin lama semakin cepat pula ia mengemudikan kendaraannya. Sangat kencang. Hingga di satu titik dalam ingatannya, seraya itu membuatnya semakin gemetar hebat. Seketika ia memberhentikan mobilnya tepat di pinggir jalan. Masih dalam kawasan villa yang ia miliki.


“Hah … Hah.”


Nafasnya kian memburu. Tubuhnya masih saja bergetar hebat.


“Apa yang sedang aku lakukan. Apa keputusanku untuk menyelamatkannya itu sudah benar.”


Meriska menundukan kepalanya tepat di kemudi mobil. Menghela nafasnya kembali.


“Kenapa harus dia. Diantara banyak wanita, kenapa harus kamu. Kakak. Kenapa?”


“Seharusnya aku senang, akhirnya aku bisa menemukanmu sekarang. Tapi kenapa harus kamu yang menghancurkan hidupku. Kenapa?”


Perlahan namun pasti. Meriska akhirnya menangis seorang diri di dalam mobilnya. Ia mengalami dilema yang begitu besar. Bahkan, dirinya sendiri tidak tau harus berbuat apa pada saat itu. Perasaan yang tidak bisa di jelaskan sedang menyapa dirinya. Kesal namun terasa tidak berdaya sama sekali.


Sesorang yang seharusnya membuat ia bahagia. Justru, orang itu pula yang sebenarnya menghancurkannya sedari dalam. Takdir memanglah penuh misteri.


......_Bersambung_


BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI.

__ADS_1


__ADS_2