
..."Aku lelah. Begitu pula dengan mencari cela dalam setiap luka yang ada."...
.../Lasceria....
...***...
Jay terus menunggu Cia kembali sadar. Melihat Cia yang terbaring lemah di atas bangkar rumah sakit, seakan terus saja mengingatkan dirinya tentang sosok sang Mama. Tanpa sadar Jay menggenggam erat tangan Cia, ia tak ingin lagi merasakan kehilangan akan sesuatu.
Beberapa saat kemudian. Jari-jemari Cia mulai bergerak perlahan. Hal tersebut membuat Jay dengan spontan memanggil dokter.
"Dokter!"
Jay berteriak, hingga sang dokter datang dengan cepat.
"Dia menggerakkan tangannya tadi. Cepat periksa dia!"
"Silakan tuan tunggu sebentar diluar. Saya akan periksa kondisi pasien sekarang," jawab sang dokter.
Jay menuruti sang dokter. Ia melangkah keluar ruangan. Tiba-tiba saja, Pak Abdi datang menghampiri Jay.
"Selamat malam, tuan muda," sapa Pak Abdi.
"Ada apa?"
"Sesuai perintah, wanita tersebut sudah kami bawa di markas kita," jelasnya.
"Bagus. Jangan sentuh dia sama sekali sebelum aku datang."
"Baik, tuan."
"Sekarang pergilah. Pastikan keluarga Wijaya tidak tau akan kondisi Cia saat ini. Bilang saja, Cia sedang bersamaku."
"Sepertinya tuan muda, memang benar-benar menyayangi gadis itu. Baguslah," batinnya.
"Kenapa masih bengong di sini? Kau tidak dengar aku bicara apa tadi?" Jay menatap tajam.
"Maaf, tuan. Saya sempat melamun tadi,"
"Sudahlah. Pergi sana," tihta Jay.
"Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi dahulu."
Pak Abdi ijin pergi meninggalkan rumah sakit. Ia menuju kediaman Wijaya. Sesuai apa yang Jay perintahkan. Sedangkan Jay masih tetap menanti sang dokter keluar dari ruangan tersebut.
Sang dokter keluar ruangan. Jay langsung saja menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Pasien sudah sadarkan diri. Untuk saat ini, pasien butuh banyak istirahat. Maka dari itu, saya harap tuan tidak terlalu membebani pasien dengan hal-hal yang bisa membuat kesehatannya terganggu," jelas sang dokter.
"Tapi saat ini dia udah baik-baik aja, kan?" tanya Jay memastikan kembali.
"Saya akan memberikan hasil tes atas kondisi pasien setelah hasilnya keluar nanti, mohon tuan muda harap bersabar," ucapnya.
"Baiklah. Kalau ada apa-apa segera kabari aku."
"Kalau begitu saya permisi dahulu."
"Ya."
Sang dokter segera meninggalkan Jay. Tanpa menunggu lama, Jay langsung masuk ke dalam ruangan. Terlihat di sana Cia yang sudah sadarkan diri, namun masih terbaring lemah di atas bangkar rumah sakit.
Jay menghampiri Cia. Seolah ia kembali teringat akan sosok sang ibu yang dulu pernah ia lihat.
"Gimana keadaanmu sekarang?" tanya Jay.
"Kepala gue pusing banget, akh!" Cia memegang kepalanya.
__ADS_1
"Apa rasanya sakit?"
Langsung saja Jay memegang kepala Cia. Membantu menenangkan.
"Lumayan," jawab Cia.
"Loe istirahat aja dulu, gue bakal tungguin loe di sini," tuturnya.
"Loe mau minum?" ucapnya lanjut.
Cia menggeleng pelan.
"Sebenarnya kenapa gue bisa di rumah sakit sih?" tanya Cia.
"Loe, gak inget sama sekali?"
"Gak tu, gue cuman ingat, kalau gue lagi keluar rumah dan mau ketempat Bima, setelah itu gue gak inget apapun," jawab Cia.
"Kenapa Cia bisa lupa semuanya? Apa ini karna efek obat itu?"
"Jay?" panggil Cia.
"Akh, ya ada apa?"
"Loe kenapa ngelamun gitu, apa gue pingsan ya di jalan? Makanya gue bisa di bawa kesini?" tanya Cia kembali.
"Akh, y-ya. Loe tiba-tiba pingsan di tengah jalan dan ada yang nelpon gue. Jadi gue Dateng ke sini," jawabnya.
"Lebih baik Cia tidak perlu tau dulu masalah yang sebenarnya. Itu bisa lebih baik untuk kondisinya kan saat ini."
"Sekarang loe istirahat aja, loe gak boleh banyak bicara dulu saat ini,"
"Tumben banget loe baik Jay sama gue,"
"Ini udah tugas gue sebagai tunangan loe," jawabnya mantap.
"Loe kenapa lagi, Cia?" tanya Jay panik.
"Bukan masalah besar. Jantung gue tadi sempet sakit," keluhnya.
"Apa sangat sakit? Kalau gitu gue panggilkan dokter dulu!"
Jay ingin beranjak dari duduknya, akan tetapi Cia lebih dulu menggenggam lengan Jay untuk menahannya.
"Gak perlu. Tiba-tiba jantung gue udah merasa baikan kok," jawabnya lagi.
"Loe yakin?" Jay memastikan.
"Iya, gue yakin!"
"Sekarang istirahatlah. Gue akan di sini nungguin loe,"
"Beneran ya, awas aja kalau loe ninggalin gue di sini sendiri," gerutunya.
"Ternyata seorang Cia bisa takut juga ya," ledeknya.
"Gue bukan takut. Cuman gue keinget Bima dulu," lirihnya.
"Bima?" Jay menaikan sebelah alisnya.
"Iya, dulu Bima sempet koma karena dipukuli seseorang, Sampai sekarang gue dan Bima belum tau siapa dia, setiap gue ada di rumah sakit, gue selalu aja inget kejadian itu," tutur Cia.
Jay terdiam. Ia kembali teringat akan sesuatu.
"Sampai kapanpun gue gak akan lepasin orang sialan itu, berani-beraninya dia buat Bima sampai koma. Kalau gue tau siapa dia, gue gak akan segan-segan untuk bunuh dia!"
"Apa Bima sangat berharga buat loe?"
__ADS_1
"Tentu aja. Bima itu udah seperti keluarga gue." Cia menjawab dengan sepenuh hati.
"Kalau gue gimana?"
"Loe? Maksudnya?"
"Apa kehadiran gue juga penting buat loe, Cia?" Jay menatap serius.
Seketika jantung Cia berdetak kencang. Pipinya tiba-tiba menjadi merah merona. Cia langsung saja melarikan pandangannya ke arah lain. Sedangkan Jay masih menanti jawaban Cia.
"Sial! Kenapa jantung gue berdebar lagi sih," batinnya.
"Loe gak bisa jawab atau emang gak punya jawabannya?" tanya Jay lagi.
Cia terdiam. Begitu pula dengan Jay. Suasana di sana menjadi sebuah keheningan yang dalam.
"Gue keluar dulu."
Jay langsung saja keluar ruangan dengan muka masam. Hatinya sangat terluka dan juga bingung kenapa ia harus menanyakan hal yang sebenarnya ia sudah tau akan jawabannya.
Sesaat setelah Jay keluar ruangan. Cia langsung berbalik arah melihat pintu tersebut. Tentu saja itu membuat Cia merasa bingung.
"Gimana mau jawab, kalau gue sendiri juga bingung akan jawabannya," gerutunya.
Kediaman Wijaya.
Ting ... Nong ....
Bel rumah berbunyi nyaring. Pak Abdi sudah berada tepat di depan rumah Agung.
Bel kembali di bunyikan. Beberapa saat kemudian pintu terbuka.
"Selamat malam, Nona," ucapnya sopan.
"Ya, ada apa?" jawab Kiki.
"Anda siapa ya?" tanya Kiki lanjut.
"Perkenalkan saya adalah ketua pengawal dari kediaman Tuan Adiputera."
"Ada apa kemari malam-malam?"
"Boleh saya bertemu sebentar dengan, Tuan Agung?"
Kiki mengerutkan keningnya.
"Papa dan Mama sedang tidak ada di rumah sekarang. Kalau ada yang mau di sampaikan bisa sampaikan denganku saja,"
"Baiklah. Saya di sini ingin menyampaikan pesan dari tuan muda Jay. Ini berkaitan dengan putri bungsu mereka. Tuan Agung tidak perlu khawatir, karena nona Cia sedang bersama tuan muda kami," jelasnya.
"Oke. Nanti aku akan sampaikan. Ada lagi?"
"Tidak ada Nona. Kalau begitu saya permisi dahulu," ucapnya sopan.
"Oke."
Pak Abdi bergegas pergi. Kiki masih saja menatap Pak Abdi dari kejauhan.
"Cia lagi sama Jay? Tapi kenapa Jay mesti mengirim ketua pengawalnya kesini, padahal dia kan bisa aja langsung hubungi Papa Mama, aneh."
Lain sisi.
"Ternyata dia putri sulung di keluarga Wijaya. Wajahnya sekilas mirip seseorang," gumam Pak Abdi.
Bersambung ...
...Budayakan Membaca dan Dukunglah Karya Ini Dengan Sepenuh Hati....
__ADS_1