JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#57


__ADS_3

..."Mencoba memahami walau sebenarnya diri tak ingin mengerti. Sama seperti mencoba mencintai walau sebenarnya hati sudah terpikat pada yang lain." /Lasceria....


...***...


Setelah lama terduduk dilantai. Ia memutuskan untuk bangkit dan kembali ke kamar. Seolah tidak terjadi apapun.


"Ada apa?" tanya Agung yang menatap dengan tepat.


"Bukan apa-apa. Aku hanya bertengkar kecil dengan Kiki," jawabnya dengan malas.


Agung hanya menatap dari tempat ia berbaring. Terus memperhatikan Meriska yang seperti orang kebingungan.


"Aku dengar semuanya,"


Ucapan itu seakan membuat suasana kamar menjadi begitu senyap seketika. Meriska tidak berani berbalik badan menghadap Agung. Ia hanya meneruskan membersikan riasannya.


"Aku tau selama ini, Kau tak lagi mencintaiku, akh ... Atau memang selama ini kamu tak pernah mencintaiku kan?" ejek Agung.


"Kenapa bisa kau berkata seperti itu," balas Meriska dengan kesal.


Meriska terus saja melanjutkan kegiatannya. Menghapus sisa-sisa make up. Matanya hanya fokus pada wajahnya yang terpantul di kaca.


"Oh ayolah, kita menikah juga karena perjodohan dulu. Sebelum menikah bukankah kau bilang, kalau kau sudah hamil lebih dulu, walau begitu aku masih menerimamu dan menyembunyikan aib itu dari seluruh keluarga, ya ... Walau itu demi kelangsungan perusahaanku juga," ucapnya santai.


Mata Meriska seakan membulat dengan sempurna. Kenangan pahit bertahun-tahun yang lalu, seakan terkoyak kembali. Tangannya seakan gemetar ketika mengingat kenangan lampau.


Agung tersenyum puas.


"Bagaimana, jika Kiki tau kalau dia sebenarnya juga anak di luar nikah? Yang ayahnya sendiri entah dimana. Ya, aku akui aku juga membuat kesalahan. Tapi. Bukankah sama saja antara aku dan kau, Riska? Kita sama-sama memiliki anak di luar nikah."


Agung beranjak dari duduknya diatas ranjang. Menghampiri Meriska yang masih diam membeku. Ia perlahan menyentuh pundak Meriska dengan lembut. Mendekatkan wajahnya disamping wajah Meriska. Sama-sama menatap kearah pantulan kaca.


Agung tersenyum tipis. "Selama ini aku sudah menerima dirimu dan anak itu untuk jadi bagian dari hidupku, jika anakmu semakin hari semakin bertingkah atau berani melukai Cia anak kandungku, maka akan aku pastikan. Dia akan berakhir sama seperti ayahnya," bisiknya.


Sontak saja Meriska langsung bangkit dan berbalik arah mentap Agung dengan tajam.


"Apa maksudmu dengan 'sama seperti ayahnya' apa k-kau yang ..."


"Benar. Aku yang membunuhnya dan jasadnya kujadikan makanan ikan di laut!" jawabnya santai.


"Apa!"


Meriska seakan tak percaya akan yang ia dengar hari ini.


"Teryata dia tidak meninggalkan aku karena aku akan menikah, tapi karna kau yang membunuhnya! Brengsek kau Agung!"

__ADS_1


Meriska hendak menampar Agung. Tapi sayang tangannya berhasil ditahan oleh Agung dan dicengkeram dengan teramat kuat, hingga iapun merasakan tangannya perlahan merasakan sakit.


"Aw! Lepaskan tanganku!"


"Oh ayohlah, sayang. Bagaimana mungkin aku membiarkan pria busuk itu tetap hidup, saat dia menanam benih dalam calon istriku sendiri, setidaknya harus ada yang dikorbankan antara dia atau anakmu bukan," ucapnya tersenyum kecut.


"Kau lebih brengsek dari yang aku kira!" makinya.


"Pft... Hahaha,"


Agung tertawa lepas. Ia melepaskan genggamannya. Meriska seakan sedikit menjauh dan menegang lembut pergelangan tangannya yang sudah merah.


"Kenapa kau tertawa? Semua ini bukan hal lucu!!" tanya Meriska.


"Hei! Jangan saling memaki saat kita berdua sebenarnya sama! Aku tau kau mencoba menghancurkan aku lewat anakku bukan? Aku juga tau kau sedang menahan seseorang didalam villamu itu!"


"Apa! Bagaimana mungkin dia tau tentang itu?" batin Meriska.


"Kau pasti berpikir bagaimana aku tau semuanya kan? kau yang terlalu ceroboh atau bodoh aku tak tau. Yang jelas selama ini pergerakanmu selalu berada didalam pengawasanku! Aku harap mulai sekarang jaga sikapmu!"


"Berarti Agung belum tau siapa yang aku sekap. Itu bagus," ucapnya lagi dalam hati.


"Sekali lagi aku ingatkan, Riska. Jangan coba-coba menyakiti anakku. Kau tau kan aku begitu menyayangi dia. Dia adalah satu-satunya penerus perusahaanku nanti."


"Apa!! Lalu bagaimana dengan Kiki?" tanyanya.


"Lalu kenapa kau menyiksa anakmu sendiri selama ini, kalau sebenarnya kau juga sangat menyayanginya?" tanya Meriska kesal. Ia merasa sudah sangat dibodohi oleh suaminya selama ini.


"Tentu saja untuk mendidiknya. Anak yang keras kepala dan juga liar. Kau Taukan dia sama sepertiku,"


"Dia sudah gila!" hardik Meriska dalam hatinya.


Meriska semakin tak percaya atas apa yang ia dengar sedari tadi. Berulang kali ia seakan-akan mengalami serangan mendadak yang keluar dari mulut suaminya tersebut.


"Aku akan tidur di kamar lain. Istirahatlah sayang," ucapnya tersenyum puas.


Agung mencium bibir Meriska dengan paksa. Kemudian bergegas pergi keluar kamar. Menuju kamar yang berbeda.


Sedangkan Meriska kembali jatuh ke dasar lantai. Tubuh dan pikirannya tak kuasa menahan segala serangan itu. Setiap kata-kata Agung membuatnya merasakan sakit yang teramat dalam.


"Sekarang aku harus menyelamatkan Kiki terlebih dahulu dan menghancurkan dirimu Agung. Lihat dan tunggu saja pembalasanku!"


...***...


Setelah cukup lama Bima menemani Cia dalam tidurnya. Akhirnya ia keluar ruangan. Terlihat Jay yang setia menunggu Cia.

__ADS_1


"Loe harus jagain dia. Gue mau pulang bentar," ucap Bima.


"Tanpa loe suruh juga, gue bakal jagain dia."


"Awas aja kalau loe macem-macem sama dia, loe akan berurusan sama gue!"


Jay hanya tersenyum. Ia beranjak dari duduknya.


"Pulanglah. Cia udah gak perlu loe lagi disini," ledek Jay.


Jay langsung masuk kedalam ruangan Cia. Sedangkan Bima juga berjalan pulang.


Beberapa menit kemudian.


Bima kembali pada markasnya. Ia melemparkan jaket ke sembarang arah dan melemparkan tubuhnya diatas ranjang yang cukup besar.


"Mungkin aku bisa sedikit percaya padanya. Setidaknya dia takkan melukai Cia,"


Ia menutup kedua matanya dengan lengan. Menghela nafas berat.


"Kenapa aku saat bertemu dengannya, merasa seperti kami pernah bertemu sebelumnya ya, aneh. Perasaan apa ini sebenarnya?" gumam Bima.


Bima seolah mengingat kembali pertemuannya dengan Adiputera tadi. Perasaan aneh seakan menyerang hatinya saat ia bertemu dan berbicara dengan Adiputera.


Di lain sisi. Adiputera juga ikut terbanyang akan pertemuannya dengan Bima.


"Anak itu sepertinya unik. Dia bisa menjadi kaki tanganku, kalau anak itu bekerjasama dengan Jay dalam menjalankan Bisnisku, aku sangat yakin itu akan luar biasa."


"Tapi sepertinya dia sulit ditaklukkan. Tapi itu akan membuat permainan ini sangat seru."


Tidak lama setelah itu. Adiputera keluar dari ruangan kerjanya dan ia segera menuju kamar dimana Keysa beristirahat.


Perlahan ia membuka pintu. Adi melihat Keysa yang sudah tertidur pulas diatas ranjang.


Adiputera duduk di samping tempat tidur tersebut. Memandangi wajah cantik Keysa.


"Kamu masih saja sangat cantik. Pantas aku tak pernah bisa melupakanmu selama ini," gumam Adiputera.


Tangan Adiputera mulai membelai rambut Keysa dengan begitu lembutnya. Ia tak pernah lelah memandangi wajah yang teramat dia rindukan. Sesaat itu, iapun mengingat kembali masa lalu yang sangat kelam baginya.


"Kenapa dulu kau meninggalkanku, Key. Apa aku membuat kesalahan padamu, sampai-sampai kau pergi begitu saja begitu lama."


"Kau selalu saja membuatku bingung. Sama seperti 10 tahun yang lalu," gumamnya lagi.


Adiputera terus saja membelai lembut rambut Keysa. Sesekali ia mencium rambut tersebut. Kerinduannya seakan sedang memuncak. Ia ingin memiliki Keysa kembali, tapi ini bukanlah saatnya. Setidaknya itulah yang ia pikirkan.

__ADS_1


Bersambung ...


..."BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI."...


__ADS_2