JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#25


__ADS_3

...“Banyak di dunia ini manusia yang tak pernah bersyukur. Mereka seolah lupa, jika Tuhan-lah yang berhak mengatur segalanya, bukan mereka!”...


...__...


Meriska sedang berada dalam kamarnya. Duduk diam dan terus saja menatap kehadapan cermin. Menelusuri setiap pikiran yang sudah mengganggunya akhir-akhir ini, terlebih mengenai kabar pertunangan dari salah satu purinya tersebut.


Setelah mengetahui siapa yang akan di pilih Pak Ad dalam perjodohan ini, Meriska seolah merasa risau tanpa alasan. Pikirannya terus saja kalut dalam hal yang sama. Hingga ia memutuskan untuk menemui kedua putrinya tersebut.


Hari sudah semakin larut saja, Kiki seperti biasa selalu berdiam diri di dalam kamar, jika tidak ada kegiatan di sekolahnya. Dan, Cia sampai saat itu masih juga belum pulang kerumah. Bukan hal yang baru lagi, jika Cia selalu telat pulang kerumah.


“Bagaimana, aku akan mengatakannya.”


Meriska terus saja cemas, terlihat jelas jika ada beberapa kerutan di dahi. Dirinya terus saja diam membatu berdiri di luar pintu putri pertamanya. Kiki.


Belum sempat Meriska mengetuk pintu, di lain sisi tiba-tiba saja Kiki secara kebetulan membuka pintu tersebut. Kiki terkejut dengan apa yang ia lihat. Meriska ada di sana dan itu bukanlah hal yang biasa.


“Mama.” Kiki heran apa yang di lakukan Meriska di sana.


“Hai, sayang. Apa boleh Mama masuk?” Meriska tersenyum tanggung.


“Silakan saja, Ma.” Kiki mempersilakan Meriska masuk ke dalam.


Setelah keduanya berada di dalam kamar. Kiki terus saja diam membisu menunggu penjelasan dari Meriska. Dan, Meriska juga masih dalam keadaan diam. Hingga beberapa saat, Kiki memutuskan untuk membuka pembicaraan.


“Ada apa, Ma? Kalau gak ada yang mau Mama bicarakan. Kiki mau belajar.”


Meriska mempersiapkan hatinya untuk berbicara. Walau Terlihat jelas, jika ia masih saja gemetar.


“Mama kesini karena ingin membicarakan sesuatu padamu, itu tentang pertunangan kalian.”


“Kiki sudah pernah bilang kan, Ma. Kalau Kiki gak pernah setuju dengan rencana ini!” Kiki memutuskan duduk di kursi belajarnya. Memutuskan untuk tidak lagi menghiraukan pembicaan tersebut.


“Dengarkan Mama dulu sayang. Keputusan ini semua ada di tangan Papa kamu, Mama gak bisa berbuat apapun.”


“Mama juga bisa merubah keputusan itu kan. Intinya Kiki gak pernah setuju dengan hal ini.” Kiki perlahan membuka buku-buku pelajarannya. “Kalaupun salah satu sudah di pilih, Aku berharap itu bukanlah diriku sendiri, karena jika itu terjadi maka Aku akan pergi dari sini, Ma.”


“Apa yang kamu bicarakan sayang. Mama gak bisa hidup tanpa kamu, jangan bertindak ceroboh.” Meriska mendekat kearah putrinya.


“Kiki juga sama, Ma. Tapi Kiki gak ada pilihan lain.”


Meriska kini semakin dekat dengan Kiki. Ia mengulurkan tangannya, kemudian memeluk putri sulungnya tersebut dengan sangat erat sedari belakang.


Kiki merasa terkejut atas apa yang Meriska lakukan. Jantungnya berdegup sangat kencang saat itu, bahkan buku yang ia genggam kini perlahan terlepas dari tangannya.


“Maafkan, Mama sayang. Maaf selama ini Mama selalu menyakiti hati kamu.” Meriska semakin memeluk erat. Dan keduanya saling memejamkan mata, kini mulai masuk dalam melodi rasa terdalam.


“Kamu tau kan, Mama sangat menyayangimu.”


“Kiki tau itu, Ma.” ucapnya dalam hati.


“Tapi, saat ini Mama juga harus menyanyangi adik kamu. Dia sangat membutuhkan kasih sayang, Mama.”


Bagai di terpa badai besar dalam sekejap. Perasaan hangat itu telah berubah menjadi rintikan salju. Kiki yang tadinya kembali menerima Cinta dari Mamanya, kini harus menarik kembali perasaan itu. Perlahan namun pasti Kiki melepaskan pelukan yang di berikan Meriska padanya.


Meriska terperanjat atas penolakan tersebut. Kiki berdiri dan berbalik menghadapa Meriska. Dan, begitu pula sebaliknya.


Kiki menarik nafas dalam, ia mengukikan senyumannya di ujung bibir. Menatap Meriska dengan penuh sendu sekaligus amarah yang kian memuncak.

__ADS_1


“Terima kasih, Ma. Tadi hampir saja Kiki membuat kesalahan besar. Untung saja ada Mama yang mengingatkan.”


Meriska mengerutkan keningnya, ia masih belum memahami apa yang putri sulungnya maksud.


“Maksud kamu apa sayang, kesalahan apa itu?”


“Kesalahan untuk tidak lagi mempercayai, Mama.”


Meriska tersentak. Dirinya masih saja mencoba mencerna apa yang putrinya katakana barusan. Begitu banyak pertayaan yang ingin ia tanyakan, namun sang putri sudah menuju pintu kamarnya dan membuka pintu untuk mempersilakan Meriska keluar secara tidak langsung.


“Kiki mau istirahat sekarang, Ma.”


Meriska menghela nafas. Kemudian berjalan menuju keluar ruangan.


“Istirahatlah, sayang.” Meriska mengusap lembut rambut Kiki, kemudian berlalu pergi.


Setelah Meriska pergi, kiki segera menutup pintu kamarnya, sekaligus menguncinya rapat-rapat.


Perlahan, kedua retina matanya yang indah itu mulai menitikan air mata dan itu terus berlajut tanpa berhenti.


“Kenapa, Ma. Kenapa Mama lebih menyayangi dia.” Kiki mengusap berulang kali air matanya yang tak kunjung habis. “Padahal dia hanya orang asing, kenapa Mama bisa peduli padanya sampai seperti itu? Aku benci kau Cia! Segeralah pergi ke neraka!”


_Di luar ruangan


Meriska masih saja merasa gelisah setelah pertemuanya dengan Kiki. Ia berlalu-lalang di ruang utama. Terkadang duduk. Terkadang berdiri, hanya itu yang ia lakukan sembari terus memikirkan apa yang putrinya itu katakan.


Tak lama setelah itu, Agung pulang dari kantor. Melihat istiranya cemas iapun menghampirinya.


“Sayang, ada apa?”


“Kelihatannya kamu gelisah, ada apa?” Agung memutuskan untuk duduk, di ikuti Meriska.


“Tadi Aku datang menemui Putri kita, Pa. Kiki.”


“Lalu?”


“Mama ingin membicarakan tentang perjodohan itu, tapi dia menolak.” Meriska berbicara keluh.


“Bagaimana dengan, Cia? Apa Mama sudah bicara padanya?” Agung melonggarkan dasi dan membuka satu dua buah kancing kemejanya.


“Cia, masih belum pulang.”


“Anak itu selalu saja tidak bisa membuatku tenang, lihat saja kalau dia pulang nanti!”


Tepat setelah Agung mengatakan hal tersebut, Cia telah datang. Kembali pulang. Seharian penuh ia menjaga Bima di rumah sakit, dan badannya merasakan sangat kelelahan.


“Tunggu, Cia! Papa mau bicara.” Agung menghentikan langka Cia sebelum ia menaiki tangga.


Cia berhenti, berbalik arah menghadap kedua orang tuanya. Agung dan juga Meriska.


“Ada apa ya Tuan dan Nyonya Wijaya. Ada yang bisa saya bantu.” Cia berbasa-basi.


“Cukup, Cia! Kali ini jangan buat Papa marah.” Agung membenarkan duduknya. “Duduklah, Papa mau bicaraan hal penting.” Agung Nampak serius kali ini.


Cia menghela nafas berulang kali, kemudian mengikuti perkataan Agung. Ia memilih duduk jauh dari mereka berdua.


“Tolong buatkan Papa minuman, Ma.”

__ADS_1


Meriska mengangguk, kemudian pergi ke dapur menyiapkan minuman hangat untuk suaminya tersebut.


Setelah Meriska pergi, Agung memulai pembicaraannya. “Dengar Cia, Papa tau selama ini kamu sangat membenci keluarga ini, terutama Papa.” Agung menjeda ucapannya sejenak. kemudian melanjutkan kembali ucapannya. “Tapi, ingatlah Cia. Ini adalah keluarga kamu yang baru, hal ini berulang kali Papa jelaskan padamu. Berusahalah menerima kenyataan dengan begitu Mama-mu akan bisa tenang di alam sana.”


“Jangan pernah, Anda mengucapkan satu katapun tentang, Mamaku!”


“Harus bagaimana lagi Papa jelaskan padamu. Berusahalah menerima kenyataan. Papa tau selama ini kamu tetap tinggal di sini karena masih berharap Mama kamu akan menjemput kamu pulang dari sini kan? Tapi semua itu takkan pernah terjadi, Mama kamu sudah tiada. Pahamilah itu.”


“Cukup, Pak Agung Sukti Wijaya yang terhormat. Mamaku masih hidup. Dan aku yakin dengan hatiku ini, daripada anda sibuk mengurusiku, lebih baik fokus saja dengan putri sulungmu itu.”


“Dasar keras kepala! Papa berusaha bersikap lembut padamu tapi lihatlah tingkamu itu,” Agung beranjak dari duduknya. “Papa hanya mau katakan satu hal, besok malam akan ada acara pertunangan. Di pesta tersebut kamu akan tau siapa yang di pilih Pak ad untuk menikah dengan putranya, Papa hanya berharap kamu tidak lagi membuat kekacauan. Kalau itu terjadi, ingatlah Cia. Papa akan menghabisi semua orang yang kamu sayangi di dunia ini. Termasuk Bima.” Agung mengatakan hal tersebut dengan sangat tegas.


Mendengar kata “Bima” mata Cia terbelalak. Dan secara spontan menatap langsung kedua bola mata papanya tersebut.


Sorot mata Cia semakin tajam menatap agung, begitupun sebaliknya. Ada begitu banyak pertayaan yang hendak Cia ucapkan.


“Papa tau kamu akan menayakan, kenapa Papa bisa tau Bima adalah sahabatmu, kan.”


Agung menatap penuh Cia, begitupun sebaliknya. Cia masih saja terus mentap Agung seraya ingin segera mengetahui bagaimana bisa Papa-nya mengetahui Bima adalah sahabatnya selama ini?


“Kamu kira Papa sama sekali tidak tau apa yang kamu lakukan setiap hari. Bima adalah sahabat kamu satu-satunya. Dia juga murid berprestasi di sekolahan, dan yang paling membuat Papa merasa heran. Bagaimana mungkin kamu bisa berteman dengan ketua dari geng preman di kota ini. Seorang anak berandalan. Ck, jika Papa mau, sahabat kamu itu bisa saja masuk dalam penjara saat ini juga.”


“Bersyukurlah, Cia. Sampai saat ini Papa masih belum merebut sahabatmu itu sekarang. Apa kamu juga mau merasakan kehilangan kedua kalinya, sama seperti ketika kamu kehilangan Keyna. Pikirkanlah!”


Setelah mengatakan begitu banyak, Agung langsung saja masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Cia masih saja mersa tidak percaya atas semua hal yang baru ia dengar.


“Bagaimana Papa bisa tau semuanya, bagaimana jika dia benar-benar menyakiti Bima. Apakah si pembuat misterius itu adalah orang suruhan, Papa. ” Cia terus saja gelisah dalam pikirannya sendiri.


“Menarik.”


..._Bersambung_...


...“Bagaimana guys, sudah dapat teka-tekinya. Kira-kira apa yang akan terjadi ya di pesta pertunangan besok, apa yang akan Cia perbuat dalam pesta tersebut?...


...A. mengancurkanya dengan menggunakan bantuan gengnya...


...b. diam saja seperti patung...


...c. kabur dari sana...


...d. bersantai menikmati pesta, dan makan ayam gepeng...


...e. membuka pasar ikan di sana....


...Silakan isi di kolom komentar ya....


...Jangan lupakan dukungan kalian semua. Matur nuwun kunco-kuncoku....


...#bonus....


...



...


..._Priscila Adintira/ Cia_...

__ADS_1


__ADS_2