
...“Manusia selalu saja begitu. Menyimpulkan sesuatu begitu saja, tanpa dicoba mencari cahaya dibalik sang remang-remang.”...
...__...
☄️☄️☄️
Kediaman Adiputera_
Adiputera menuruni tangga. Menghampiri Jay yang terlihat gusar semenjak menerima panggilan beberapa saat yang lalu.
“Ada apa, Jay. Apa ada masalah?” tanya Adiputera.
Jay tersenyum lebar. Ia segera mengusir sebab kegusarannya tersebut.
“Tidak ada, Pa. semua aman terkendali,” jawabnya yakin.
“Baiklah, Papa percaya padamu.” Adiputera bersiap pergi, kemudian ia kembali menoleh. “Ouh, ya. Jangan lupa Jay, kalau kalian berdua harus datang secara bersamaan. Kamu pasti paham apa yang Papa maksud kan?” jelas Ad.
Jay mengangguk pelan. “Ya, Papa tenang saja,” jawabnya kembali.
Adiputera berlalu pergi keluar rumah. Dirinya harus segara mengurus beberapa hal penting, sedangkan Jay kembali ke kamar dan segera mempersiapkan diri untuk acara malam ini.
Beberapa jam kemudian, Jay sudah mempersiapkan diri dengan sangat sempurna. Malam ini, ia yang akan menjadi bintang utama dalam pesta. Sebenarnya, Jay sangat tidak suka keramaian, namun ia tak bisa menolak takdir yang Tuhan pilihkan untuknya.
Jay segera menaiki mobilnya dan langsung menuju kediaman Wijaya. Mengingat kembali kejadian tadi sore, Jay kembali merasa kesal dan gusar. Ia memikirkan apa yang Cia lakukan bersama Bima, dan lain sebagainya. Ada begitu pertanyaan yang ingin ia katakan.
Setibanya di sana. Jay sempat melihat dari ujung jalan Cia sedang turun dari motor yang Bima tumpangi. Dengan sengaja ia berhenti di persimpangan, dan memperhatikan mereka berdua dari kejahuan.
“Mereka bersama lagi, sedekat itukah hubungan mereka? Tapi, kenapa melihat Cia bersama Bima gue merasa gelisah dan kesal. Jelas-jelas hal itu seharusnya gk pernah mempengaruhi gue,” gumam Jay dari dalam mobil.
Beberapa saat kemudian, Cia masuk kedalam rumah dan Bima kembali mengendari motornya untuk kembali pulang. Jay langsung saja mengemudikan mobilnya, memasuki halaman kediaman Wijaya. Terlihat Cia yang baru akan memasuki rumah, sengaja Jay sorot dengan lampu mobil, hingga membuat Cia harus menutup mata. Silau.
“Buset dah, siapa sih ini,” keluhnya sembari terus menutup mata.
Tak lama Jay melakukan hal itu, dengan segera ia mematikan mesin mobil dan segera turun mendekati Cia.
“Darimana aja, loe?” tanya Jay.
Cia membuka matanya. Menatap Jay acuh. “Gak ada urusannya juga sama loe, Jay.” Cia bergegas masuk.
“Tunggu!” Jay berusaha menghentikan Cia, namun gadis mungil tersebut mengacuhkan dan tetap berjalan masuk. Walau kesal, Jay akhirnya mengikuti langkah tersebut. Ikut memasuki kediaman Wijaya.
Setibanya di ruang utama. Meriska yang melihat kedatangan Cia dan juga Jay dari atas tangga, langsung saja menghampiri mereka berdua.
“Cia, Jay. Kalian datang bersama?” ucap Meriska sembari terus menuruni tangga.
__ADS_1
Cia mengacuhkannya. Jay tersenyum tipis seperti biasa.
“Hai tante,” ucap Jay sopan.
“Hai, Jay. Kenapa kalian pulang bersama? Saya khawatir karena Cia tidak pulang-pulang dari sekolah,” cemas Meriska.
Cia menghela nafas, kemudian memutuskan untuk bergegas pergi. Meriska melihat itu dan menghentikannya.
“Sayang, tunggu,” lirihnya sembari menggenggam tangan Cia.
“Auh!”
Secara otomatis menghempaskan genggaman Meriska. Ia merasakan sakit akibat lukanya yang belum kering. Meriska dan Jay sangat terkejut, mereka baru sadar jika Cia mempunyai beberapa luka.
“Astaga, Cia! Apa yang terjadi padamu, sayang? Kenapa begitu banyak luka di tanganmu, dan lihat wajahmu juga memar,” cemas Meriska memeriksa seluruh luka di tubuh Cia.
“Aku baik-baik aja, Nyonya gak perlu khawatir. Ini hanya luka kecil,” ucapnya ketus.
“Mama bantu obati luka kamu dulu ya, sayang.” Meriska kembali ingin melihat luka Cia.
“Tidak perlu repot-repot Nyonya, aku bisa sendiri. aku mau mandi dulu.” Cia langsung saja menaiki tangga dan menuju kamarnya.
Jay tertegun atas apa yang baru saja Cia lakukan. Walaupun ia tau, jika Cia sama sekali tidak dekat dengan keluarganya, namun ini pertama kali bagi Jay menyaksikan sendiri kebencian itu. Sama persis saat dirinya kecil dulu.
Meriska seketika tersadar akan adanya Jay di sana. Dengan segera ia meminta Jay untuk duduk diruang tamu sembari menunggu Cia siap membersikan diri. Jay mengiyakan permintaan tersebut dan menunggunya.
Jay menanti di ruang tamu sembari membaca beberapa buku di sana. Sesekali meminum perlahan teh yang telah tersaji. Meriska membantu Cia mempersiapkan diri, awalnya Cia tak ingin, namun Meriska bersih keras, dan akhirnya luluh.
Sedari awal Kiki sama sekali belum terlihat. Meriska mengatakan jika Kiki sudah pergi bersama teman-temannya untuk menghadiri pesta ulang tahun Jay. Sedangkan Agung ada pertemuan penting dengan beberapa klien besar, lagipula pesta ini khusus bagi para remaja.
Cukup lama Jay menunggu Cia bersiap diri, ia tidak merasa bosan akan tetapi rasa penasaran akan penampilan Cia malam inilah yang membuatnya tak sabar menunggu. Akhirnya hal yang ia nantikan telah tiba. Terlihat Cia bersama Meriska telah menuruni anak tangga dengan begitu perlahan.
Jay sadar akan hal itu langsung menatap Cia dari kejauhan. Ia menatap Cia dengan begitu terpesona, takjub akan penampilannya malam ini. Gaun simple mini, namun berkelas, dengan padupadan berwarna biru muda dan sedikit hiasan bunga dirambutnya yang tergerai, beberapa gelang mutiara bersanding di lengannya dibalutkan sepatu hels yang hanya setinggi 3 cm, membuat Cia sangat cantik dan menawan. Jauh dari kata tidak sempurna.
“Maaf ya, Jay. Pasti kamu nunggu lama ya,” ucap Meriska segan.
Jay menampilkan senyumannya. “Tidak masalah, Tante. Semua ini sepadan dengan penampilan Cia malam ini,” ucapnya memuji Cia.
Cia hanya diam. Ia mengacuhkan segalanya. Pikirannya masih bertarung satu sama lain. Berdandan dan memakai pakaian bagus apalagi dengan style peminim, itu bukanlah gayanya sama sekali. Sangat membuat ia resah.
“Baiklah, karena Cia sudah siap maka kalian segeralah pergi. Selamat bersenang-senang.” Meriska melebarkan senyuman. Terlihat jelas ia sangat bahagia.
“Tapi dimana Kiki? Saya tidak melihatnya sedari tadi?” tanya Jay.
“Kiki sudah berangkat duluan, dia bilang ingin pergi bersama teman-temannya,” jelas Meriska.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu kami pergi dulu, Tante,” ucap Jay pamit.
Meriska mengangguk. Melambaikan tangan pada keduanya. Jay dan Cia akhirnya pergi bersama menuju pesta.
Di sisi lain_
“Buruan woy, ntar kita telat,” ucap Kiki dari dalam mobilnya.
“Hiya-hiya, sabar ngapa. Telat juga gak akan di hukum hormat ke tiang bendera kok,” ledek Ciki dibalik tegangnya suasana.
“Buruan!” Kiki menatap tajam pada temannya tersebut yang berlari kecil menuju mobilnya.
“Ya ampun, dosa apa gue dulu bisa punya temen kayak loe,” celoteh Ciki yang mulai masuk kedalam mobil.
“Ouh gitu, jadi loe nyesel temenan sama gue!” ketus Kiki.
“Mungkin,” jawab Ciki dengan santai.
Kiki mengacuhkan ucapan Ciki. Ia meminta supir untuk segera mengemudikan mobilnya menuju pesta.
“Ki,” Ciki mulai bertanya setelah sekian lama bungkam.
“Hem, …” Kiki hanya berdehem, ia asik melihat ponselnya sendiri.
“Loe kenapa tiba-tiba ngajak gue ke pesta Jay? Bukannya gue gak diundang ya?” celoteh Ciki.
Kiki menghentikan menatap ponsel. Ia mematikan ponsel miliknya kemudian fokus menatap wajah Ciki yang masih dalam mode penasaran.
“Gue pingin aja,” jawabnya singkat.
Ciki mengerutkan keningnya. “Sialan ni anak!” balasnya ketus.
Kiki tersenyum melihat sikap sahabatnya itu. “Gue ada pertunjukan bagus malam ini, dan loe harus lihat hasil karya gue nanti. Lagipula itu pesta khusus para anak, gak ada orang dewasa di sana. Dan, loe kan tau gue gak kenal siapapun,” jelas Kiki.
Seketika Ciki mendekatkan wajahnya pada Kiki. Menampilkan wajah penuh pertanyaan lebih lanjut.
“Emang loe mau lakuin apa disana, Ki? Jangan bilang loe mau …”
“Lihat aja nanti, sekarang kita jemput Cuki dulu,” ucapnya tersenyum tipis.
Ciki menepuk jidatnya sendiri. “Gue lupa kalau Cuki belum ada di sini, untung aja loe inget kalau gak dia bakal ngamuk besok,” celotehnya.
Kiki tidak menanggapi ucapan Ciki. Ia masih asik bermain dalam pikirannya sendiri.
...“Bersiaplah untuk langkah awal kehancuranmu, Cia. Ini akan sangat menyenangkan.” batinnya sembari menatap keluar jendela....
__ADS_1
Bersambung ...
...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....