JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#9


__ADS_3

..."Selalu berbuat baiklah pada semua orang, lakukan tanpa mengharap imbalan sekecil apapun juga. Karena sejatinya setiap kebaikan akan selalu kembali padamu dari arah yang tak pernah engkau duga-duga."...


..._Nurana_...


Kediaman keluarga Wijaya.


Setiap senin pagi, sudah menjadi aktivitas rutin untuk Nyonya Meriska pergi keluar rumah, untuk menemui teman lamanya.


Meriska tengah bersiap merias diri di dalam kamar hingga begitu anggun. Wajah yang tampak lembut bak seorang malaikat yang turun dari langit, itu bisa membuat dunia berpaling ketika melihatnya.


Ia mulai memasang satu persatu anting mutiara yang menjuntai, hingga membuat lehernya tampak jenjang. Kemudian ia seperti merapikan sedikit make up yang sengaja ia gunakanan tipis untuk senatural mungkin.


Suara ketukan dari hasil sepatu high hels, itu menambah kesan elegan pada dirinya. Ia mulai menuruni tangga seraya melihat sekeliling ruangan utama. Hingga salah satu pelayan rumah tengah melintas untuk melaksanakan tugasnya membersikan rumah.


"Bi, tunggu sebentar," ucapnya lembut.


"Iya, Nyonya." sahutnya.


Panggil saja pelayan itu Bi Imah. Salah satu pelayan paling senior di sana, dan ia sudah bekerja sebelum Kiki di lahirkan. Tubuhnya memang nampak rentan, tapi sebenarnya ia masih sangat kuat bekerja di tengah usia yang tak muda lagi. Seketika Bi Imah langsung menghampiri Meriska dengan sedikit membungkuk. Karena badannya yang sudah rentan dan tua membuat ia sulit berjalan


"Bi, saya mau keluar sebentar ya, kalau tuan dan anak-anak pulang sebelum saya. Bibi bilang saja saya pergi menemui teman lama." ucapnya lembut seraya merapikan dompet mini yang ia genggam.


"Siap, Nyonya." ucapnya menuruti.


"Titip tuan dan anak-anak ya, Bi. Terutama Cia. Jika dia pulang Bibi langsung awasi dia, jangan sampai anak itu keluar tawuran lagi." jelas Meriska.


Sekali lagi Bibi Imah hanya mengangguk, menuruti semua perkataan dari Meriska. Ya, tidak ada hak untuk dirinya menolak ataupun membantah perintah Meriska, karena ia hanyalah seorang pelayan saja.


Setelah itu, Meriska langsung pergi dengan mobil pribadinya tanpa membawa supir. Setiap ia keluar rumah ia tak ingin membawa supir. Walaupun itu hanya beberapa kali dalam setahun.


"Selalu begini, Nyonya keluar tanpa supir. Ah ... Sudahlah, kenapa aku begitu penasaran tentang urusan Nyonya," batin Bi Imah.


Cukup lama Meriska mengendarai Mobilnya, hingga ia memutuskan untuk berhenti di sebuah rumah mewah di kawasan Elite, yang letaknya cukup jauh dari kediaman Wijaya.


Mobilnya terpakir di halaman rumah super mewah, sesaat seorang pria bertubuh tegap serta kaca mata hitam yang menggantung di matanya, siap sedia membukakan pintu mobil Meriska.


"Silakan, Nyonya." ucapnya penuh hormat.


"Apa dia, baik-baik saja?" ucapnya elegan, seraya melangkahkan kakinya keluar mobil.


"Tentu saja, sesuai perintah Nyonya," jelas pria itu.


"Bagus." ucapnya datar.


...***...


Setelah Cia dan juga Bima belajar di perpustakaan, akhirnya saat ini tiba waktunya bagi Cia untuk menghadapi hal yang tak ingin ia hadapi, Ujian.


Suasana seketika tampak mencekam, semua murid sedang fokus mengerjakan tugas mereka masing-masing, begitu juga dengan Bima dan juga Kiki. Cia tau, walaupun Kiki dan Bima anak yang suka bertarung, tapi jika menyangkut pembelajaran mereka akan langsung berubah menjadi serius, sangat berbeda dengannya.


"Membosankan," gumam Cia.


Beberapa saat, ia beranjak dari tempat duduknya seraya berjalan menuju meja pengawas ujian siang itu, dan tak lama semua perhatian murid tertuju padanya.


"Ada apa, Cia?" ucap pengawas heran.


Cia hanya diam sembari menyodorkan selembar kertas yang berisi ujiannya pada pengawas itu, tentu saja pengawas melihatnya dengan tatapan aneh. Tak di sangka Cia sudah mengerjakan semua tugas-tugas yang rumit itu dalam sekejap. Tak lama, Cia langsung saja melangkahkan kaki untuk segera engkang dari kelas.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Cia?" tanya heran pengawas.


"UKS, Pak." jawabnya


"Kamu sakit?"


"Ya, Pak."


"Oke, hati-hati."


Tanpa menjawab lebih lanjut, ia langsung saja pergi meninggalkan ruangan kelas. Kiki melihat itu langsung saja dengan secepat kilat mengejarkan tugasnya lebih awal.


"Sial*an, bisa-bisanya gue ketinggalan dari dia," batin kesal Kiki.


"Dia gak berubah juga tenyata, susah sekali membuatnya diam di kelas," batin Bima juga.


Cia terus saja berjalan menelusuri lorong-lorong sekolah, langkah kaki-nya entah mengapa terus berjalan seperti aliran air. Rasa bosan dan kantuk kian melanda setiap ia berada di sekolah, hingga akhirnya Cia memutuskan berhenti di sebuah gudang yang terletak paling pojok di ujung koridor sekolah.


Langsung saja ia segera memasuki ruangan itu, maksud hati ingin mencoba istirahat di sana untuk menghindari Bima, tapi tampak dari kejauhan sepasang sepatu putih berpadu hitam mendapatkan perhatiannya. Perlahan ia menghampiri dan ternyata di sana ada seorang pemuda yang tengah asik tertidur pulas di atas meja bekas yang sudah tak terpakai.


Cia merasa heran, baru kali ini ada orang yang tidur di dalam gudang, (walaupun dirinya juga sering begitu sih .... ). Tak tau mengapa, rasa penasarannya semakin melonjak ketika melihat sampul buku bergambar seorang ibu memeluk anaknya, yang ada di hamparan wajah seorang pemuda itu, dengan hati-hati ia bermaksud mengambil buku itu, tapi ... Seketika tangan sang pemuda langsung menghentikan pergerakan tangan Cia dengan cepat.


"Mau apa?" tanya dirinya seraya dengan wajah yang masih tertutup buku.


Cia mengkerutkan dahinya, dengan cepat ia langsung mencoba melepaskan genggaman itu dengan begitu mudah, karena dirinya sangatlah tidak suka jika ada yang menyentuhnya.


"Brengs*ek!" maki Cia.


"Cewek preman ternyata," gumam pemuda itu.


Cia dan pemuda itu, saling pandang. Cukup lama. saling memasuki ruangan mata mereka masing-masing.


"Sudah puas, mandangin gue?" Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya.


Cia menatap dengan tatapan aneh. "Pede banget, loe." ucapnya ketus.


"Lalu, tadi itu apa?" ledek pemuda tersebut.


Panggil saja, pria tampan tersebut Jay. Nama lengkapnya Jaya Adiputera. Seorang pria tunggal dari pengusaha sukses yang tak lain saingan dari Papa Cia sendiri.


"Apa? Loe mau nyari masalah sama gue hah!" ucapnya ketus seraya menatap tajam.


"Gila." gumamnya.


"Loe bilang apa tadi? Dasar cowok ... "


"Brengs*k gitu," ucap Jay santai.


Belum sempat Cia melanjutkan perkataannya, Jay sudah lebih melanjutkan perkataan Cia.


"Loe!"


"Apa gak ada kosa-kata lain, selain itu?" ledek Jay.


"Itu urusan gue, loe gak suka cabut aja dari sini," ucap Cia semakin kesal.


"Cabut apa?" ucap Jay membalas ucapan Cia dengan santainya, "Cabut gigi, atau cabut rumput?"

__ADS_1


"Akhh! ... Terserah loe aja, gue pergi dari sini," ucap Cia yang semakin kesal dengan tingkah Jay.


Baru kali ini ia bisa di desak oleh seorang pemuda, bahkan Bima saja sering mengalah jika dirinya yang berbicara. Tapi pemuda ini malah semakin senang menggoda dirinya itu, dengan segera Cia langsung beranjak pergi dari sana.


"Tunggu," panggil Jay.


Spontan Cia berbalik menghadap Jay, yang masih duduk dengan santainya di atas meja itu.


"Apa lagi!"


"Loe gak tanya dulu, nama gue siapa?"


"Untuk apa gue tanya nama Loe, gak guna!" celoteh Cia.


"Takutnya Loe bakalan rindu sama gue nanti," ucap Jay meninggi.


Cia lagi-lagi mengkerutkan dahinya melihat sikap Jay yang sangat narsis bintang 10 itu, karena semakin kesal ia langsung berbalik dan hendak engkang (pergi) dari sana. Tapi, untuk kedua kalinya Jay menghentikan kembali langkah Cia.


"Tunggu!"


Untuk yang ke-dua kalinya juga, Cia kembali berbalik ke-arah Jay. Entah apa yang merasuki Cia, hingga membuat ia begitu mudahnya di permainkan dengan kejahilan, Jay.


"Sekali lagi loe manggil, gue ... "


"Sabar dulu, gue hanya mau bilang loe gak jadi pinjam buku ini?" ucap Jay seraya melirik manja kearah buku tersebut.


"Gak!"


"Yakin, gak bakalan nyesal?"


"Terserah, loe!"


Padahal dalam lubuk hati Cia terdalam, ia sangat penasaran dengan buku itu. Tapi, rasa angkuh dan juga harga dirinya yang tinggi, memaksakan niatnya untuk menolak tawaran Jay.


Kali ini sama lagi, Cia langung pergi dari sana. Dan benar saja, Jay kembali memanggilnya tapi kali ini Cia tak lagi menghiraukan Jay dan segera pergi dari sana.


"Hem ... Menarik." batin Jay.


Di lain sisi, Bima dan juga Kiki tengah bicara berdua di pojok ruangan kelas, mereka tampak serius membicarakan suatu hal. Cia yang sudah kesal semakin bertambah kesal lagi melihat sahabatnya itu nampak dekat dengan musuh yang paling ia benci yang tak lain kakak tirinya sendiri.


"Apa yang mereka bicarakan, kenapa Bima nampak dekat dengan Kiki?" batin Cia.


..._Bersambung_...


"Buah mangga di makan pakai cuka


Buah semangka enak dimakan sama Mama


Halo fans saya semua, apa kabarnya


Nantikan kelanjutan ceritanya, di eposode selanjutnya."


"Jalan kepasar beli cilok


Sudah di beli segeralah makan, kan sayang kalau gak dimakan ... Hem, sedap. Betul, betul, betul."


TTD#Kang Cilok.

__ADS_1


__ADS_2