JANGAN PILIH AKU!

JANGAN PILIH AKU!
JPA!#22


__ADS_3

...“Semua kenangan takkan ada batasannya. Sampai nafas terhenti dalam raga, sampai saat itu pula kenangan akan semakin mengalir deras.”...


..._*Nu**ra*_...


Jay sedang mencari keberadaan Cia. Lain hal dengan Cia yang sedari tadi merasa tidak nyaman karena adanya Meriska di sana. Ia tak ingin Meriska tau kalau sahabatnya, Bima. Adalah seorang ketua dari para preman.


Berbagai cara sudah ia lakukan untuk mengusir, Meriska. Mulai dari cara kasar sampai ke cara yang halus. Namun, hal itu sepertinya sia-sia saja. Meriska tetap keras kepala ingin menemani Cia di rumah sakit. Boby langsung saja berbisik-bisik dengan Cia di dekat ruang tunggu. Meriska yang sedang duduk dengan begitu elegannya diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.


“Kak, apa gak sebaiknya Nyonya itu kakak suruh pulang saja. Boby takut rahasia dari kita di ketahui banyak orang,” ucap boby cemas.


“Diamlah! Apa loe gak lihat dari tadi gue pusing mikirin cara buat ngusir dia dari sini! Dan, sekarang loe makin gue pusing!” celoteh Cia.


“Maaf, Kak. Lalu bagimana sekarang? Apa kita biarkan saja dia di sini? Karena tadi Boby dapat kabar, jika Kak Ivan Akan datang untuk menjenguk kakak Bima,” jelas Boby.


“Gawat. Kacau sudah! Untuk sementara bilang pada mereka hari ini di larang menjenguk Bima. Katakan ini perintahku!”


“Siap, Kak. Boby pergi dulu kabari mereka."


Setelah kepergian Boby, Cia langsung menghampiri Meriska yang bersikap seolah tak mendengar apapun. Sangat jelas terlihat di raut wajah Cia jika dirinya sangat enggan untuk berdekatan dengan Mama tirinya tersebut.


“Ehem, … ” Cia berdehem pelan,


Meriska menatapanya seperti biasa dengan tatapan yang lembut. Senyuman yang lebar tak pernah lupa ia berikan. “Ada apa, sayang?” Meriska berbicara lembut.


“Ini ... Rumah sakit."


Meriska menyunggingkan sebelah alisnya, “Ya, ini memang rumah sakit. Lalu?”


Cia semakin kikuk saja, dirinya semakin bingung harus apa. Di hadapan orang yang paling ia benci, kenapa dirinya bisa begitu gugup. Perasaan apa ini, kebencian itu terasa tersedak dengan sebuah hal. Apakah dirinya mulai terpengaruh dengan kebaikan hati Meriska, ataukah sedari awal kebencian itu memang tidaklah layak ia tunjukan. Pikiran itu terus saja berputar-putar di alam pikiran Cia.


Melihat Cia yang semakin kikuk, Meriska menghela nafas dalam. Ia perlahan menyunggingkan senyum dan perlahan bangkit dari duduknya.


Cia terus saja mengalihkan pandangannya kearah lain.


“Mesti gimana ngomongnya? Sial. Kenapa aku bersikap memalukan seperti ini?” batinnya.

__ADS_1


Tangan meriska mengelus lembut rambut putri kecilnya itu, dirinya tersenyum bak malaikat yang datang khusus untuk mengobati luka dalam yang sudah terlalu lama Cia raskan.


“Baiklah, Mama akan pergi dari sini. Sudah pernah Mama katakan , apapun yang kamu inginkan. Aku akan mengabulkan itu,” ucapnya lembut.


Setelah mengatakan hal tersebut, Meriska langsung pergi dari sana. Sesuai perkataanya. Dan, seketika perasaan tertekan Cia sedari tadi lepas begitu saja. Kini, rasa beban tersebut seperti terbang bebas seketika. Sangat melegakan.


“Hah, akhirnya dia pergi juga. Kenapa gak dari tadi sih,” ucapnya lega.


Berkali-kali dirinya menghela nafas panjang. Rasa yang memburu itu masih ada. Beberapa saat, segerombolan anggota geng singa maut datang. Ivan dan juga beberapa anggota lainnya terlihat tergesa-gesa menghampiri Cia, yang masih berada di ruang tunggu pasien. Sadar akan hal itu, dengan secepat kilat dirinya duduk dan bersiap menyambut mereka semua dengan ciri khasnya. Satu kaki di tekuk keatas dan kaki lainnya menyagga. Lengkap dengan aura yang menyeramkan.


“Halo, Kak.” Semua memberi hormat pada Cia dengan sedikit menundukan kepalanya.


Seperti biasa, Cia kembali menggunakan tatapanya yang tajam dan terlihat sangat dingin.


Boby pun datang, tampak jelas terlihat jika ia terlihat pucat pasih. Menunggu nasib baik.


“Untung saja, Nyonya itu sudah lebih dulu pergi dari sini, kalau tidak. Bakalan kacau semua!” batinnya.


“Boby!” Cia bersiap meluapkan marahnya.


“Y-Ya, Kak.” sahut Boby dengan penuh cemas.


“Sudah Boby sampaikan, Kak. Tapi, … ” Belum habis Boby berbicara, Ivan sudah lebih dulu menyelinap masuk dalam percakapan tesebut.


“Ini bukan salahnya, Kak. Ini kesalahanku sendiri. Akulah yang memaksa untuk tetap datang kemari,” ucap Ivan dengan sangat yakin.


“Waw, hebat. Ternyata setelah bebarapa hari koma. Otakmu itu sudah semakin maju ya, bagus.” ucap Cia semakin dingin.


Cia perlahan bangkit dari duduknya dan mulai menghampiri Ivan. “Kau sudah sangat berani menentang keputusanku! Apa setelah sadar dari koma, kepintaranmu semakin bertambah, Ivan?” ucap Cia sedikit berbisik.


Mata Ivan yang tadinya berani menatap, Cia. Kini, dirinya sontak saja langsung merasakan aura yang Cia berikan sangat besar. Hingga, membuatnya dengan cepat menundukan kepala. Perasaan tertekan seperti ini selalu ia rasakan dulu. Sewaktu Cia mengamuk. Bahkan, jika Cia sampai kehilangan kendali, Bima pun kewalahan untuk menenangkannya.


Dengan segera Ivan angkat berbicara kembali, dengan begitu tegasnya ia berkata, “Maaf, Kak. Setelah ini Kakak boleh menghukum saya dengan apapun. Asalakan Kak Cia, memberikan Ivan ijin untuk bertemu sekali saja dengan, Kak Bima.”


“Beraninya kau menjawab perkataanku! Apa kau sudah bosan hidup sekarang!!”

__ADS_1


Suasana semakin menegangkan. Semua hanya diam membisu. Mendengarkan tanpa bisa berbuat apapun. Setelah itu, tangan Cia mulai ia layangkan kearah, Ivan. Semua sangat takut jika Cia melukai Ivan di sana, dan ituakan menimbulkan kekacauan.


“Aku akan menghukummu sekarang!” Cia melayangkan pukulannya. Dan, …. Tidak ada yang namanya kekerasan. Ternyata Cia bukannya hendak memukul Ivan, melainkan dirinya menepuk-nepuk perlahan pundak Ivan saja. Susana yang menegangkan seketika lenyap, Ivan dan yang lainnya sangat terkejut. Dan mempertanyakan apa yang terjadi.


“Bagus, hukumanmu untuk beristirahat total setelah ini, jika melanggar. Mati adalah pilihan terbaik untukmu!” setelah mengatakan hal itu Cia langsung bergegas pergi.


Ivan dan yang lainnya menyampaikan ucapa terima kasih. Namun, Cia tak menginginkn ucapan seperti itu. Baginya, rasa ucapan terima kasih tidak pantas di ucapkan. Cukup simpan dalam hati dan selamanya tetap akan terus tersimpan. Dengan begitu takkan bisa lagi melukai seeorang.


Cia terus melangkah, hingga sampai di depan rumah sakit. Ternyata Boby mengejarnya sampai keluar. “Ada apa?” ucapnya dingin. Cia yang sedari awal mengetahui jika Boby mengikutinya sedari tadi.


“Kakak mau pergi kemana? Kenapa Kak Cia tidak menghukumnya? Bukankah selama ini kakak benci orang yang tidak taat perintah?” tanya boby terheran-heran.


Cia kembali tersenyum, ia berbalik menatap Boby. “Hukuman hanya untuk seorang pengkhianat. Bukan, untuk orang yang setia.” Cia kembali berbalik. Dirinya dengan semangat tinggi mulai melangkah kembali.


“Mencari musuh akan sangat mudah, tapi menemukan orang yang benar-benar tulus terhadap kita. Itu akan benar-benar sulit,” ucapnya bersemangat.


“Kak Cia luar biasa, mungkin perlahan-lahan kak Cia akan mulai keluar dari cangkangnya yang keras itu, semoga saja Kak Bima dan dirinya bisa bersatu.” batin boby.


Jika Cia baru saja keluar dari rumah sakit, lain hal dengan Meriska yang sudah tiba di rumah yang selalu ia datangi. Dirinya kembali menemui wanita yang sedang terbaring lemah, yang bahkan hidup dan matinya saja hanya tinggal menunggu waktu.


“Apa kabarmu hari ini? Hah, kapan kamu akan bangun, sebentar lagi kebahagiaanku akan segera di mulai. Tidakah Kakak ingin menyaksikannya sendiri. Selama beberapa tahun lebih kakak selalu tidur di sini, selama itu, aku harus mengatur segalanya. Bangunlah dan segera saksikan api di dalam kebahagiaan itu sendiri kak,”


Bip … Bip … Bip, suara mesin bantu terus berbunyi. Wanita tersebut selalu meneteskan mta secara perlahan. Meriska selalu menjenguknya beberapa bulan sekali. Namun, akhir-akhir ini dirinya lebih sering merindukan sosok yang terbaring lemas tersebut.


Sedikit berbincang-bincang, suara dering ponsel milik Meriska berdering keras, dirinya dengan siap langsung merogo isi tasnya dan segera menerima sebuah panggilan.


“Halo,”


“Nyonya, tuan ingin bertemu dengan anda di kantornya,”


“Baiklah, aku akan segera kesana.”


Panggilan berakhir. Meriska menghela napas. Sebelum ia pergi. Tak lupa dirinya mencium kening wnita tersebut. Sembari membisikan sesuatu hal pada wanita yang terbaring itu, “Cepatlah bangun kak. Jika tidak, semuanya akan terjadi sesuai keinginanku. Bukankah, selama ini kau tidak pernah setuju akan kebahagiaan yang ku maksud itu kan,” ucapnya tersenyum tipis.


Beberapa saat kemudian, Meriska sudah sampai di perusahaan. NIW. Perusahan yang menduduki peringkat ke-3 di kota S. Perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan dan juga elektronik. Kini, meriska sudah berhadapan dengan Agung. Suasana semakin suram. Keduanya hanya saling tatap dan membisu.

__ADS_1


..._Bersambung_...


...BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI SEPENUH HATI....


__ADS_2