
..."Kemana langkah kan membawa takdir menepi. Selalu saja terhantam ombak yang tak pasti. Terkulai bersama melodi rasa yang telah lama usang. Menyakitkan."...
"Katakan ada apa?"
Jay dan juga Bima sudah berada di halaman belakang sekolah. Saling menatap bersama. Semilir angin berdesir menerpa wajah tampan keduanya. Hawa yang sejuk seakan tertekan dengan ketengagan antar keduanya. Terlebih pada Bima yang sangat berhati-hati dalam berucap. Apalagi hal yang menyangkut keselamatan Cia.
"Kenapa sekarang diam? Kalau masih gak bicara gue pergi sekarang," ancam Jay yang mulai kesal, karena terus menunggu.
"Bukan. Gue udah bilang kan, ada hal yang mau gue bicarakan. Penting."
Bima tak ragu sedikitpun dalam menatap Jay.
"Sekarang katakan."
"Gue cuma mau, loe batalin pertunangan kalian berdua," pinta Bima.
Jay mengerutkan keningnya. Kemudian mengangkat sebelah alisnya.
"Jadi loe ngajak gue kemari hanya untuk ini?"
"Ya."
Jay tersenyum tipis. "Ternyata gue cuman buang-buang waktu aja," keluh Jay.
"Kalau gitu gue balik dulu. Ternyata hanya hal yang gak penting."
"Ini penting. Bagi gue dan terutama bagi Cia."
Jay kembali mengangkat sebelah alisnya.
"Ouh ya. Tapi buat gue gak!"
"Apa susahnya kalau loe batalin pertunangan ini. Gue tau pasti, Cia sama sekali gak akan bahagia sama loe."
"Kata siapa dia gak akan bahagia sama gue? Jadi dia akan bahagia saat bersama siapa? Loe!"
Jay tersenyum mengejek. Terselip rasa kesal di sana.
"Gue juga gak yakin bisa bahagiain dia atau gak. Tapi yang pasti, jika dia tetap bersama loe. Maka dia gak akan pernah bahagia selamanya. Setidaknya gue cuma mau di bebas dalam memilih pilihannya sendiri," jelas Bima secara mantap.
"Dengar, Bim. Sampai saat ini gue belum buat perhitungan sama loe itu cuma karena loe adalah sahabat dari Cia. Tapi bukan berarti gue bakal diam aja di saat loe berusaha batalin pertunangan ini. Ingat posisimu Bim."
"Gue tau posisi gue sendiri. Tapi semua itu gak penting. Yang gue mau hanya Cia bahagia."
"Hahaha,"
Jay seketika tertawa. Bima tidak mengerti kenapa ia seperti itu.
"Kenapa loe ketawa. Apa kebahagiaan Xia hanya lelucon bagi kalian semua!" Bima semakin geram.
"Loe terlalu naif, Bim."
Jay menepuk pelan pundak Bima.
"Gue cuman bilang satu hal. Gue gak akan pernah lepasin Cia sampai kapanpun. Loe bebas lakukan apapun. Gue akan lihat, sampai mana kemampuan loe."
"Dan gue saranin. Loe harus lebih kuat dari semuanya kalau mau merebut Cia dari gue. Buang sipat naif loe itu. Paham."
Jay mengatakannya dengan nada menekan. Lagi-lagi menatap Bima dengan sangat tajam.
"Gue duluan ya. Dah."
Jay berbalik pergi dan melambaikan tangan kanannya.
"Ternyata dia memang gak bisa di ajak bicara. Hah!" Bima menghela nafas berat.
"Sekarang apa. Pernikahan Cia mungkin akan di percepat oleh mereka. Gue harus siapin hal yang besar buat batalin itu semua. Cia loe harus bertahan sampai gue bisa bebasin loe dari mereka semua." Bima berbicara sendiri.
"Saat ini hanya gue yang bisa melindungi dia dari semuanya. Termasuk Papa," batin Jay.
Kantin.
Cia sedang berusaha melahap makanannya di kantin. Karena tangan kanannya sedang terluka, jadi ia sedikit kesulitan dalam hal makan. Terlebih ia tidak suka menggunakan tangan kirinya. Mengingat hal tersebut adalah kebiasaan dari Keysa.
"Hah! Tau gini gue gak akan pukul meja pakai tangan kanan," keluhnya.
Seketika Jay datang dan langsung duduk tepat di hadapan Cia.
"Lagi apa?"
__ADS_1
"Gak lihat gue lagi ngapain," jawabnya.
Cia menjawab tanpa melihat siapa yang bertanya. Dirinya masih di sibukkan dengan pergelutan dengan makannya.
"Mau gue bantuin gak?"
Cia seketika mendongak. Melihat siapa yang berbicara dengannya saat itu.
"Loe!"
Jay tersenyum menanggapi teriakan dari Cia. Baginya hal tersebut sudah menjadi sebuah kebiasaan.
"Cih. Pergi deh dari sini. Gue muak lihat muka loe," celotehnya.
"Kalau gue gak mau?" ledek Jay.
"Gue siram pakai kuah mie mau!" ancamnya.
"Yaudah siram aja. Tapi loe harus siap dengan hukumannya," ucapnya tersenyum tipis.
"Gue gak takut! Jangan coba-coba ancam gue."
"Gak ngancem kok. Cuman bilangin aja."
Jay terus menatap Cia yang sudah di level kekesalan tinggi. Semula ia cuma harus bergelut dengan tangannya yang terluka, namun kini ia juga harus berurusan dengan tingkah Jay.
"Tau akh!"
Cia melanjutkan makan. Sedikit bersusah payah akan hal itu.
"Mau di bantuin gak ni?" tanya Jay lagi.
"Berisik!"
Seketika Jay langsung mengambil sendok makan tersebut dari Cia. Ia mulai menyuapi Cia.
"Apaan sih?" tanya Cia.
"Tangan loe sakit kan, jadi diam dan makan aja."
"Ogah."
Cia langsung menutup mulutnya dengan sangat rapat. Malu dengan apa yang Jay lakukan. Terlebih ada banyak murid yang masih berada di dalam kantin.
"Buka mulut loe, atau gue cium sekarang di depan semua orang," ancam Jay.
Cia langsung membulatkan kedua matanya. Ia tak percaya atas apa yang baru saja Jay katakan. Bagaimana bisa, Jay berbicara hal memalukan dengan begitu santainya. Pikir Cia saat itu.
"Masih gak mau buka mulut ya."
Jay menatap Cia dengan sangat dalam. Terdapat keseriusan di sorot matanya. Begitu banyak hal yang ia pikirkan. Pada akhirnya ia-pun luluh denga ancaman dari Jay. Cia perlahan membuka mulutnya dengan sedikit malu-malu.
Melihat itu, Jay langsung menyuapi Cia. Terukir senyuman lebar di bibir Jay. Tanda kepuasan.
"Anak pintar," puji Jay.
Seketika pipi Cia memerah. Jay melihat hal tersebut dan merasa semakin senang. Hal tersebut terus berlangsung lama. Namun, dari kejauhan Bima sedang menyaksikan segalanya. Hatinya merasa sesak dan sakit yang tidak bisa di jelaskan.
"Cia yang keras kepala, bisa luluh begitu mudah hanya karena seorang Jay. Padahal gue juga sulit jika membujuknya," keluh Bima.
Bima merasa terluka. Tidak raga. Melainkan rasa. Hal itu terasa begitu menyakitkan. Seseorang yang selalu ia sayangi lebih dekat dengan orang asing, daripada dirinya sendiri yang sudah lama menemani sekian lama.
Kediaman Brion.
Tok ... Tok.
"Masuk."
Seorang pelayan wanita masuk ke dalam ruangan kerja.
"Ada apa?" tanya Brion.
Brion Pratama. Seorang pengusaha sukses. Dirinya juga Papa dari Lea. Terkenal bengis dan tidak kenal ampun, terlebih jika menyangkut kebahagiaan putri kecilnya.
"Maafkan saya Tuan besar. Tapi, Nona Lea masih juga belum mau makan sampai sekarang. Nona terus mengunci diri di dalam kamar," lapornya.
"Pergilah. Dan katakan padanya, kalau dia masih juga keras kepala. Aku akan menghentikan semua pasilitas yang aku berikan padanya selama ini."
"Baik tuan. Saya permisi dulu."
__ADS_1
Pelayan tersebut undur diri. Meninggalkan ruangan kerja Brion.
"Hah. Ada apa lagi dengan putri kecilku," gumam Brion.
Brion kembali mengerjakan tugasnya. Ia memeriksa beberapa dokumen. Kemudian beranjak dari duduknya dan menuju kamar Lea. Sang putri kesayangan.
Prang.
Sesaat ketika Brion sampai di sana. Lemparan piring dan gelas berserakan di atas lantai. Lea melempar semua barang-barang dengan penuh emosi.
"Kalian pergilah."
Semua pelayan yang berada di sana bergegas pergi.
Brion masuk ke dalam kamar. Ia melihat putrinya sangat berantakan. Terlihat sangat emosi.
"Ada apa ini, Lea? Bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanya Brion.
"Papa," ucapnya di tengah nafasnya yang memburu hebat.
Brion mendekati Lea. Ia merangkul pundak putrinya tersebut. Kemudian menuntunnya untuk duduk di atas tempat tidur. Beberapa kali ia mengelus dengan lembut rambut Lea.
"Sekarang tenang dulu. Katakan apa yang terjadi?"
"Aku benci dia Pa. Wanita murah*n itu harus segara mati!" Lea mengatakannya dengan kemarahan penuh.
"Siapa yang kamu maksud?"
"Anak haram itu. Dia merusak segalanya Pa. Dia berani-beraninya merebut Jay dariku. Aku gak terima. Dia harus mati! Harus Pa," rengeknya.
Lea seketika menangis tersedu-sedu. Ia terus saja memaki Cia dan menangis di pelukan sang Ayah.
"Papa sama sekali tidak paham apa yang kamu maksud sayang."
"Dia harus mati, Pa. Berani-beraninya dia menampar dan mendorong Lea ke lantai. Hiks hiks... Itu sangat memalukan Pa."
"Apa! Siapa yang berani menyakiti putri Papa!"
Brion menunjukkan kemurkaannya. Ia melepaskan pelukan Lea. Mencari tau, siapa yang berani menyakiti putri kecilnya tersebut.
"Katakan, sayang. Papa janji akan membuatnya menderita di dunia ini!" ancam Brion.
"Namanya Cia, Pa. Dia anak kedua dari keluarga Wijaya."
"Hiks ... Hiks. Papa harus balas dendam dengan anak haram itu demi Lea. Harus!"
Lea kembali memeluk papanya. Menangis.
Brion membelai rambut Lea.
"Kamu tenang saja. Papa akan musnakan semua yang berani menyakiti putri Papa. Papa janji."
Brion mengatakan dengan penuh dendam. Ia takkan melepaskan siapapun jika sudah membenci seseorang. Pilihannya hanya mati.
_Bersambung_
BUDAYAKAN MEMBACA DAN DUKUNGLAH KARYA INI DENGAN SEPENUH HATI.
Note dari author manis.
Halo semua pembaca setia JPA!
Selamat pagi/ siang/ sore/ malam. Apa kabarnya ni? Author harap baik selalu ya.
Akhirnya kita berjumpa lagi. Hiks, sebelumnya maafkan author ya karena ada keterlambatan update.
Author yang manis ini cuma kasih sedikit informasi. Kalau JPA! Mungkin akan sangat lambat untuk update ya nantinya. Hiks, dulu juga sering gitu sih. Eits tenang aja ini gak Hiatus kok.
Author cuma lagi coba fokus dalam pengerjaan naskah yang satunya. Karena dalam waktu dekat author akan mengikuti perlombaan. Doakan semoga author ini sukses ya.
Oke cukup sekian informasi nya.
Selamat membaca.
Dan jangan lupa komentarnya guys...
selamat menghalu bagi yang jomblo😭
Love you all.
__ADS_1
너희들을 사랑해.😙